Hidupkan Lagi Kejayaan Sastra Arab Pra-Islam

Sumber : HILMI SETIAWAN/JAWA POS

Mengunjungi Festival Budaya Souk Okaz di Taif

Sastra menjadi bagian dari kebudayaan kuno Arab. Jauh sebelum Islam datang. Pasar (souk) Okaz di Taif menjadi ajang para penyair unjuk kebolehan. Pemerintah Arab Saudi berupaya menghidupkan suasana pasar yang diperkirakan aktif sejak lima abad sebelum Masehi itu.

M. HILMI SETIAWAN, Taif

VENUE penyelenggaraan Festival Souk Okaz terlihat begitu mencolok saat matahari tenggelam Selasa lalu (27/8). Ibarat sebuah permata yang berkilauan dan memendarkan sinar ke berbagai arah. Permainan efek lampu sorot yang berwarna-warni kontras dengan lingkungan sekitar yang berupa hamparan tanah berpasir dan berbatu tanpa bangunan satu pun. Dari pusat Kota Taif, Souk Okaz berjarak sekitar 44 km.
Gapura sebuah benteng yang tinggi menjulang menjadi titik masuk. Tahun ini Festival Souk Okaz digelar sepanjang Agustus. Untuk bisa menikmati festival tahunan itu, tiket dijual mulai 10 riyal (setara Rp 39 ribu). Loket baru dibuka pukul 17.00 waktu setempat. Pergelaran berlangsung hingga pukul 24.00.

Sebelum loket dibuka, ratusan pengunjung sudah antre mengular. Antusiasme warga Arab begitu luar biasa. Penyelenggaraan festival itu merupakan bagian dari promosi wisata Taif yang bertajuk Taif Season. Namun, karena lokasinya cukup jauh dari Makkah, sekitar 180 km, tidak ada jamaah haji Indonesia yang berkunjung ke lokasi tersebut.

Tujuh model yang berperan sebagai penyair legendaris Arab menyambut pengunjung melalui tujuh unit layar lebar. Masing-masing memerankan Umru Al Qais, Tarafah bin Abid, Harits bin Hillizah, Amru bin Kultsum, Zuhair bin Abu Sulma, Antarah bin Syaddad, dan Labid bin Rabiah. Tujuh orang yang sangat berperan dalam peradaban sastra Arab itu juga dikenal sebagai The Mu’allaqat.

Karya sastra mereka pernah diabadikan dan digantung di Kakbah setelah melewati penjurian yang ketat pada abad ke-5 Masehi. Masa ketika Islam belum lahir. Cerita syair puisi atau karya sastra tujuh orang itu beragam. Mulai gejolak perang kabilah atau suku, perasaan ditolak kekasih, sampai ratapan yang memilukan sebagai orang buangan.

Dari tiap layar, para model itu membacakan puisi-puisi karya penyair yang mereka perankan. Aura Souk Okaz sebagai pusat perniagaan saat itu langsung terasa. Banyak pertunjukan yang bisa dinikmati. Di antaranya, stage khusus pertunjukan penunggang kuda. Pengunjung bisa menyaksikan akrobatik penunggang kuda yang melaju kencang. Tak semua penunggang laki-laki. Ada juga penunggang kuda perempuan yang tidak kalah gesit.

Kemudian, di bagian tengah kompleks festival ada panggung utama yang berkapasitas 5.000 penonton. Tempat itu dibagi menjadi tiga area. Bagian pertama digunakan untuk pertunjukan ketangkasan berkuda. Para penunggang kuda mengenakan pakaian khas Arab kuno. Salah satu atraksi memperlihatkan ketangkasan menombak papan kardus yang dibakar sambil menunggang kuda dalam kecepatan tinggi.

Bagian kedua digunakan untuk parade unta. Belasan unta berjalan mengitari lintasan. Parade unta tersebut bertujuan menghadirkan kesan Souk Okaz pada masa lalu. Saat itu saudara, petinggi kerajaan, dan pihak-pihak lain berdatangan dari seluruh penjuru jazirah Arab dengan menggunakan unta.

Lalu, bagian ketiga adalah tempat untuk pertunjukan teatrikal. Pertunjukan mengisahkan sejarah Arab kuno. Dihadirkan Souk Okaz yang pada masa itu bukan sekadar tempat jual beli biasa. Tetapi juga ajang pamer dan diplomasi antarsuku. Baik pamer kemampuan sastra, kekuatan militer, maupun kekayaan.
Tempat itu dilengkapi dengan lapak-lapak yang menjual barang khas dari seluruh penjuru Arab Saudi.

Desain tempat tersebut unik, menyerupai benteng berwarna cokelat. Di antara barang yang dijual, ada lukisan dan kaligrafi dari kulit kambing. Ada pula kaligrafi di pelepah kurma. Pengunjung juga bisa melihat penjual tasbih yang sekaligus menunjukkan cara pembuatannya.

Dengan masuk ke lokasi penjualan barang-barang khas itu, pengunjung seperti tersedot ke masa lampau. Di antara lapak, ada rombongan unta yang lewat. Di punuk unta tersebut, terdapat perkakas yang diikat rapat. Juga ada orang-orang berbadan gempal yang memakai seragam prajurit masa lampau. Mereka berkeliling sambil membawa pedang dan tameng.

Semakin masuk ke bagian dalam lokasi festival, suasana kian meriah. Khususnya di paviliun negara-negara Arab. Total, ada sebelas negara yang bergabung dalam festival itu. Antara lain, Uni Emirat Arab, Kuwait, Bahrain, Oman, dan Iraq. Juga Mesir, Jordania, Lebanon, Maroko, Tunisia, dan tentu saja tuan rumah Arab Saudi. Di setiap paviliun itu, disajikan kreasi tiap-tiap negara. Mulai makanan, cenderamata, replika bangunan, hingga panggung pertunjukan.

Ahli Filologi UIN Syarif Hidayatullah Jakarta Oman Fathurrahman ikut mengunjungi Festival Souk Okaz. Dia terkesan saat mengunjungi ruang pameran manuskrip kuno. Sesuai dengan bidang keahlian pria yang juga menjadi staf ahli menteri agama itu. ”Dalam sejarah bangsa Arab, Pasar Okaz yang terbesar,” jelasnya.

Oman menceritakan, pasar itu menjadi titik berkumpulnya bangsa-bangsa Arab pada masa pra-Islam. Dia mengungkapkan, tidak ada catatan pasti kapan Pasar Okaz mulai aktif. Namun, ada sumber literatur yang menyebutkan bahwa pasar tersebut aktif sejak 500 tahun sebelum Masehi.

Menurut Oman, karya The Mu’allaqat mendapatkan perhatian khusus. Syair-syair itu kemudian ditulis dengan tinta emas dan digantungkan di Kakbah. Dia mengatakan, suasana di dalam Festival Souk Okaz benar-benar sesuai dengan tagline-nya. Yakni, Multaqa Al Arab yang berarti tempat bertemunya orang-orang Arab.

Dia menjelaskan, di masa lalu Pasar Okaz beroperasi pada bulan Dzulqadah, tepatnya tanggal 15 sampai 30 setiap tahun. Pasar Okaz pada masa pra-Islam juga menjadi titik kumpul sebelum orang-orang berhaji. Penduduk Makkah juga membeli aneka barang di Pasar Okaz untuk kemudian dijual lagi di sekitar Kakbah saat musim haji. ”Pasar Okaz juga berlanjut pada masa Islam,” katanya.

Oman menjelaskan, Pasar Okaz juga dijadikan Rasulullah sebagai tempat berdakwah Islam. Pada masa kontemporer saat ini, pemerintah Arab Saudi berupaya menghidupkan lagi kejayaan Pasar Okaz melalui festival yang megah. Digelarnya Festival Souk Okaz juga sesuai dengan semangat Kota Taif yang ingin menjadi kota pariwisata di Arab Saudi.

Oman mengatakan, pemerintah Arab Saudi menghidupkan lagi Pasar Okaz pada 2006. Dengan demikian, festival tahun ini merupakan penyelenggaraan ke-13.
Dia begitu antusias saat mengunjungi paviliun Oman. ”Seperti nama saya, Oman,” katanya, lantas tertawa.

Dia menjelaskan, sebutan jahiliah kepada orang-orang Arab sebelum Islam bukan bermakna bodoh. Oman mengatakan, literasi orang-orang Arab pra-Islam sangat kuat. Tradisi lisannya begitu bagus sehingga lahir penyair-penyair legendaris. Dia menambahkan, sebutan jahiliah lebih ditujukan kepada perilaku atau kehidupan sehari-hari orang-orang pada masa itu.

Tidak kurang dari 150 atraksi kebudayaan disajikan dalam Festival Souk Okaz. Pemerintah Arab Saudi berharap bisa menciptakan 12 ribu kesempatan kerja. Dalam sebulan penuh penyelenggaraan, target pengunjung mencapai 2 juta orang. Dari situ, bisa diperoleh pendapatan total sampai 9 miliar riyal atau setara Rp 34 miliar. (*/c11/ayi)

Read Previous

Sumber Air Baku PDAM Kering

Read Next

Bupati Sintang Tanam Perdana Serai Wangi

Tinggalkan Balasan

Most Popular