HOTS Bikin Hot

Hendrik Gunawan

Oleh: Hendrik Gunawan. S. Pd, Gr

HOTS (Higher Order Thinking Skills) bila diartikan dalam bahasa Indonesia berarti keterampilan berpikir yang lebih tinggi. Pemikiran tingkat tinggi terjadi ketika seseorang mengambil informasi baru dan menyimpan dalam memori yang saling terkait serta mengatur ulang dan memperluas informasi untuk mencapai tujuan atau menemukan kemungkinan jawabandalam situasi membingungkan (Lewis & Smith, 1993).

HOTS terdiri dari berpikir kritis, pemecahan masalah, pembuatan keputusan, dan berpikir kreatif.Secara lebih lanjut Lewis & Smith (1993) mengatakan setiap disiplin ilmu butuh pemikiran tingkat tinggi untuk menambah pengetahuan.Kemampuan berpikir tingkat tinggi merupakan proses berpikir sehingga dapat digunakan dalam berbagai disiplin ilmu.

Kemampuan berpikir tingkat tinggi dapat dikonseptualisasikan  sebagai cara berpikir kompleks yang tidak algoritmik dan menghasilkan  banyak solusi (Barak & Dori, 2009). King et al (2010) mmenjelaskan bahwa HOTS terdiri dari kemampuan berpikir kritis, logis, reflektif, metakognitif, dan kreatif. Pembelajaran yang melibatkan kemampuan berpikir tingkat  tinggi membutuhkan kejelasan komunikasi tertentu untuk mengurangi  ambiguitas dan meningkatkan sikap siswa tentang tugas berpikir.

Hampir  sama dengan pendapat Brookhart (2010) bahwa HOTS didefinisikan menjadi tiga kategori, yaitu sebagai transfer, sebagai kemampuan berpikir  kritis, dan sebagai kemampuan memecahkan masalah. Berpikir tingkat  tinggi sebagai transfer berarti menjadikan peserta didik tidak hanya  mengahafal, namun juga bisa mentrasfer pengetahuan dengan cara mengaplikasikannya pada konteks yang baru. Berpikir tingkat tinggi  sebagai berpikir kritis berarti bahwa peserta didik dapat memberikan  penilaian yang bijaksana atau memberikan kritik yang beralasan. Berpikir  tingkat tinggi sebagai pemecahan masalah melengkapi peserta didik untuk  dapat mengidentifikasi dan memecahkan masalah dalam belajar maupun  kehidupan mereka (Brookhart, 2010).

Berdasarkan pendapat para ahli, maka dapat disimpulkan bahwa kemampuan berpikir tingkat tinggi merupakan kemampuan berpikir dimana peserta didik harus bisa menganalisis, mengevaluasi dan  mengahsilkan suatu solusi yang baru pada permasalahan yang dihadapi, bukan hanya sekedar mengetahui dan menghafalkan suatu konsep.

Istilah HOTS pertama kali muncul dalam konsep Benjamin S Bloom dkk, dalam sebuah buku berjudul Taxonomy of Educational Objectives : The Classification of Education Goals (1956). Buku ini mengkategorikan beragam tingkat pemikiran Taksonomi Bloom, mulai dari yang terendah hingga tertinggi. Konsep Taksonomi Bloom ini membagi tujuan pendidikan menjadi tiga ranah, yaitu Kognitif (keteramlilan mental seputar pengetahuan), Afektif (sisi emosi seputar sikap dan perasaan), dan Psikomotorik (kemampuan fisik seperti keterampilan).

Konsep Taksonomi ini bertujuan untuk menentukan tujuan belajar. Harapannya setelah proses pembelajaran siswa dapat mengadopsi pengetahuan, keterampilan serta sikap yang baru.Nah, HOTS sendiri adalah bagian dari ranah kognitif dari konsep Taksonomi Bloom ini. Tahun 2011, Lorin Anderson, David Kartbwohl, dkk melakukan revisi terhadap konsep Taksonomi Bloom. Hasil revisinta mengubah urutan menjadi enam, yaitu : Pertama, mengingat (remembering). Kedua, memahami (understanding). Ketiga, mengaplikasikan (applying). Keempat, menganalisis (analyzing). Kelima, mengevaluasi (evaluating). Keenam, mencipta (creating). Tingkatan pertama hingga ketiga dikategorikan sebagai kemampuan berpikir tingkat rendah (LOTS), sedangkan tingkat keempat sampai keenam dikategorikan sebagai kemampuan berpikir tingkat tinggi (HOTS).

Lalu sebenarnya apa sih tujuan soal HOTS ini? Mengapa semua peserta didik harus mengerjakan soal HOTS? Bahkan mulai dari tingkat sekolah dasar. Banyak hal yang menjadi latarbelakang diterapkannya soal HOTS dalam pendidikan di Indonesia. Salah satunya adalah rendahnya hasil tes PISA Indonesia. Berdasarkan hasil studi internasional Programme for International Student Assessment (PISA) menunjukkan prestasi literasi membaca (reading literacy), literasi matematika (mathematical literacy), dan literasi sains (scientific literacy) yang dicapai peserta didik Indonesia sangat rendah.Apa yang bisa dilakukan oleh guru dan orang tua terkait perkembangan HOTS ini?

Setidaknya beberapa hal yang bisa guru lakukan, yaitu: Pertama, ikut mengenali dan memahami konsep HOTS.Hal pertama yang bisa dilakukan oleh guru dan orang tua adalah mengenali dan memahami konsep HOTS terlebih dahulu. Ini memang akan menyita waktu, tapi ketika guru telah memahami, paling tidak secara umum guru dapat menentukan tindakan yang tepat dalam membimbing peserta didik untuk belajar dengan keterampilan ini.

Selain itu, hal ini juga akan membantu guru dalam menyelesaikan masalah sehari-hari. Keterampilan berpikir HOTS tidak terbatas pada dunia sekolah, tapi secara universal bisa digunakan untuk kehidupan sehari-hari. Kedua, melatih peserta didik mengerjakan soal-soal tipe HOTS peserta didik akan terbiasa dengan HOTS ketika sudah sering mengerjakan soal tipe tersebut. Ketiga, melakukan praktik-praktik HOTS di kelas dan di rumah. Cara selanjutnya yang dapat dilakukan untuk mengasah peserta didik berpikir dengan HOTS adalah melakukan praktik HOTS di kelas atau di rumah. Anda bisa meminta peserta didik menarik kesimpulan, memberikan masalah untuk dipecahkan, mengajak diskusi dan berdebat argumentasi dan sebagainya. Artinya, HOTS adalah sebuah keterampilan berpikir yang tidak melulu tentang soal-soal ujian.

Pada umumnya kemampuan peserta didik Indonesia sangat rendah dalam: (1) memahami informasi yang kompleks; (2) teori, analisis, dan pemecahan masalah; (3) pemakaian alat, prosedur dan pemecahan masalah; dan (4) melakukan investigasi. Penerapan soal HOTS dalam pendidikan di Indonesia menjadi salah satu upaya mengatasi prestasi buruk Indonesia dalam tes PISA ini. Soal HOTS menjadi salah satu upaya pemerintah dalam meningkatkan kualitas pembelajaran dan kualitas lulusan.

Selain itu penggunaan soal HOTS juga sesuai dengan kebutuhan perkembangan zaman saat ini. Soal HOTS membantu peserta didik memiliki karakteristik SDM (Sumber Daya Manusia) yang dibutuhkan pada abad 21 ini. Dengan soal HOTS, setiap peserta didik diharapkan memiliki kemampuan berpikir kritis, kreatif dan inovasi, kemampuan berkomunikasi, kemampuan bekerjasama dan kepercayaan diri. Dalam pembelajaran HOTS, tingkat kemampuan yang diberikan kepada peserta didik bukan lagi kemampuan tingkat rendah (Lower Order Thinking Skills/LOTS). Seperti mengetahui (C-1), memahami (C-2), dan mengaplikasikan (C-3), tetapi kemampuan tingkat tinggi seperti menganalisis (C-4), mengevaluasi (C-5) dan mengkreasi (C-6). Intinya, peserta didik bukan lagi diberikan pembelajaran secara ceramah dari awal sampai akhir pembelajaran, melainkan diberi ruang untuk berpikir, meneliti, menelaah, menganalisis, hingga mampu menemukan dan mengkonstruksi sendiri pesan utama sebuah materi pembelajaran yang dipelajarinya.

Sayangnya, masih banyak guru yang belum bisa memiliki keterampilan membuat soal HOTS dengan baik (Rahayu, Purnomo, & Sukidin, 2014), (Awaliyah, 2018), (Siswoyo & Sunaryo, 2017). Permasalahan rendahnya kemampuan guru tersebut harus segera diatasi, karena begitu pentingnya keterampilan guru dalam menyusun soal HOTS berbasis Critical Thingking untuk mengakselerasi Education 4.0.

Berdasarkan Undang-undang Nomor 14 tahun 2005 tentang guru dan dosen, dan Peraturan Pemerintah Nomor 19 tahun 2005 tentang standar nasional pendidikan guru memiliki peran yang strategis dalam bidang pendidikan, jika guru-guru yang berkualitas dan profesional kurang maka peningkatan kualitas pendidikan di Indonesia sulit untuk terwujud. Guru merupakan ujung tombak dalam upaya peningkatan kualitas layanan dan hasil pendidikan, untuk itu peningkatan kualitas pendidikan harus dilakukan melalui upaya peningkatan kompetensi paedagogik dan profesionalisme guru.

Berbagai upaya yang dapat dilakukan pihak sekolah guna meningkatkan pemahaman dan kemampuan guru tentang soal-soal HOTS  yang sesuai dengan K13 guna menyiapkan siswa di abad 21, diantaranya dengan mengirimkan guru-guru untuk pelatihan dan bisa mendatangkan narasumber dalam kegiatan KKG (Kelompok Kerja Guru). Upaya lain yang dirasa dapat meningkatkan kompetensi guru bidang profesional dan pedagogik yaitu dengan menggabungkan workshop penyusunan soal HOTS berorientasi Crithical Thingking hingga mengimplementasikannya di kelas.

Adapun tujuan dari kegiatan workshop penyusunan soal HOTS ini dapat membantu guru-guru di Sekolah Dasar dalam membuat Soal HOTS berbasis Critical Thingking dan meningkatkan kemampuan guru-guru dalam mengembangkan kompetensi profesional dan pedagogik. (*)

Penulis, Guru SD Negeri 19 Kubu

error: Content is protected !!
Hubungi Kami!