Implementasi Belajar dari Rumah (BDR)

Tri Margawati, S.Pd. SD

Oleh: Tri Margawati, S.Pd. SD.*

PENYEBARAN wabah Coronavirus Disease 2019 (Covid–19) yang massif diberbagai negara, memaksa kita untuk melihat kenyataan bahwa dunia sedang berubah. Kita bisa melihat bagaimana perubahan–perubahan di bidang teknologi, ekonomi, politik hingga pendidikan di tengah krisis akibat Covid–19. Perubahan itu mengharuskan kita untuk bersiap diri, merespon dengan sikap dan tindakan sekaligus selalu belajar hal–hal baru. tuk pembelajaran daring ini memaksa guru dan pihak sekolah untuk lebih aktif mempelajari dan mengembangkan pembelajaran mereka agar tujuan kurikulum tercapai walau dalam bentuk pembelajaran daring.

Berbagai kendala tentunya banyak dihadapi, tetapi hal ini merupakan pembelajaran berharga bagi para guru dan sekolah untuk lebih kreatif dan inovatif membelajarkan siswanya. Pada masa pandemi Covid–19 bentuk pembelajaran yang ditetapkan bagi siswa di Indonesia dalam bentuk pendidikan mandiri dan pembelajaran dengan e–learning serta kombinasi keduanya. Menurut surat edaran (SE) Mendikbud Nomor 2 Tahun 2020 tentang pencegahan Covid–19 pada satuan Pendidikan, Mendikbud menginstruksikan pemerintah daerah mengeluarkan aturan pembelajaran di rumah untuk 3 kategori wilayah dan membuat pedoman pembelajaran daring.

Semua satuan pendidikan dengan memanfaatkan berbagai media daring yang disesuaikan dengan fasilitas yang dimiliki sekolah dan kemauan guru untuk menggunakannya. Guna mengetahui implementasi dan kendala yang dihadapi Belajar dari Rumah (BDR) maka perlu dilakukan survei terhadap penyelenggara pendidikan dan orang tua siswa. Pembelajaran dari rumah harus dibuat secara menyenangkan sehingga siswa merasa tidak bosan dengan kondisi belajar yang monoton.

Peran orangtua, guru juga lingkungan sekitar untuk menghadirkan suasana yang kondusif sehingga proses belajar selalu ada dirumah dengan menyenangkan. Beban tugas yang tentu tak sama dengan jika sekolah dilakukan tatap muka. Siswa diberikan ruang untuk menemukan sendiri pembelajaran dengan bantuan fasilitas internet yang ada. Namun, tidak semua siswa dapat memiliki akses internet. Untuk itu guru selalu melakukan pendataan agar belajar di rumah dirasa adil untuk semua siswa yang juga meiliki dan tak dapat akses internet.

Solusi cerdasnya adalah guru melakukan pemetaan dan mendata siswa yang dapat dan masih belum untuk bisa melakasanakan pembelajaran online. Untuk itu, guru berupaya memberikan pembelajaran yang sama dan setara bebannya kepada siswa sesuai dengan kondisi dan juga keadaan siswa masing masing.

Mengutip Undang–Undang Sisdiknas tahun 2003 dalam Pasal 31 yang secara spesifik mengakomodasi PJJ yakni pendidikan jarak jauh dapat diselenggarakan pada semua jalur, jenjang dan jenis Pendidikan. Kemudian, pendidikan jarak jauh berfungsi memberikan layanan pendidikan kepada kelompok masyarakat yang tidak dapat mengikuti pendidikan secara tatap muka atau regular.

Selanjutnya, pendidikan jarak jauh diselenggarakan dalam berbagai bentuk, modus, dan cakupan yang didukung oleh sarana dan layanan serta sistem penilaian yang menjamin mutu lulusan sesuai dengan standar nasional Pendidikan. Ketentuan mengenai penyelenggaraan pendidikan jarak jauh sebagaimana dimaksud pada ayat 1, ayat 2 dan ayat 3 diatur lebih lanjut dengan peraturan pemerintah. PJJ mengandung pengertian pemisahan pengajar dan pembelajar, walau tidak sepenuhnya.

Kemandirian pembelajar diharapkan relatif lebih tinggi daripada kemandirian pembelajar pendidikan konvensional dan pemanfaatan media pembelajaran yang interaktif. Stewart, Keegen dan Holmberg membedakan tiga teori utama tentang pembelajaran jarak jauh yaitu otonomi dan belajar mandiri, industrialisasi pendidikan, dan komunikasi interaktif. Otonomi dan belajar mandiri yakni berupa kebebasan bagi siswa untuk belajar secara mandiri sesuai dengan kebutuhannya. Program pendidikan mandiri adalah proses belajar yang dilakukan oleh siswa baik dalam lingkungan sekolah maupun diluar sekolah dengan cara membaca, menelaah serta memahami pengetahuan sesuai dengan materi pelajaran yang terkait. Secara teknis siswa menentukan tujuan yang ingin dicapai, bahan/ sumber belajar yang ingin dipelajari, menentukan waktu belajar, dan menentukan cara mengevaluasi dan merefleksi diri dalam belajar.

Pembelajaran pada dasarnya merupakan suatu proses terjadinya interaksi antara guru dengan siswa melalui kegiatan terpadu dari dua bentuk kegiatan, yakni kegiatan belajar siswa dengan kegiatan mengajar guru. Belajar pada hakikatnya adalah proses perubahan tingkah laku yang disadari. Mengajar pada hakikatnya adalah usaha yang direncanakan melalui pengaturan dan penyediaan kondisi yang memungkinkan siswa melakukan berbagai kegiatan belajar sebaik mungkin. Tentunya pengaturan dan penyediaan berbagai kegiatan yang efektif dan menyenangkan sangat tergantung pada kemampuan guru mengelola pembelajaran mulai kegiatan awal, inti dan penutup, yang memungkinkan suasana pembelajaran yang dibangun menjadi menyenangkan dan efektif.

Pada pembelajaran daring/ online komunikasi guru dan siswa telah menemukan jalur baru yang mengedepankan aspek efektifitas, efisiensi, dan keterbukaan. Melalui daring komunikasi dengan guru lebih mudah. Umumnya komunikasi ini dilakukan untuk urusan jadwal, diskusikan  materi yang disampaikan di grup WA, dan untuk membaca atau mendownload materi yang disajikan guru melalui e–learning. Tentu akan banyak kelemahan dari pelaksanaan pembelajaran daring ini. Untuk itu sebagai pihak yang seharusnya memberikan fasilitas yang nyaman untuk siswa guru harus selalu melakukan refleksi dari semua pembelajaran yang telah dilakukan.

Guna nya agar guru bisa memahami siswa dengan keadaan yang ada. Selain itu siswa juga bisa belajar sesuai dengan hak yang seharusnya diterima dengan baik. Semua tentu memiliki permasalahan yang berbeda. Namun yang utama adalah sebagai guru harus selalu dapat memberikan solusi yang terbaik untuk siswa agar bisa mendapatkan pembelajaran yang adil dan optimal. Guru bukan hanya mau memberikan instruksi namun juga harus mendengarkan keluhan dan juga upaya perbaikan dalam kondisi belajar dari rumah selama masa pandemi. Semoga semua dapat segera berakhir dengan kebaikan bersama.

*) penulis guru di SDN 45 Sungai Bemban

error: Content is protected !!