Implementasi Pendidikan Karakter Dalam Pelajaran

Dina Mariana

Oleh: Dina Mariana

PENDIDIKAN memegang peranan penting dalam sistem kehidupan suatu bangsa. Hal tersebut sebagai jaminan keberlangsungan masyarakatnya. Karena, pendidikan merupakan wahana untuk meningkatkan dan mengembangkan kualitas sumber daya manusia (SDM). Dalam konteks pendidikan formal, pembelajaran yang bermakna akan membawa siswa pada pengalaman belajar yang mengesankan.

Pengalaman belajar yang diperoleh siswa akan semakin berkesan apabila proses pembelajaran yang diperolehnya merupakan hasil dari pemahaman dan penemuannya sendiri. Konteks ini, siswa mengalami dan melakukannya sendiri. Proses pembelajaran yang berlangsung melibatkan siswa sepenuhnya untuk merumuskan sendiri suatu konsep. Keterlibatan guru hanya sebagai fasilitator dan moderator dalam proses pembelajaran tersebut.

Sekolah Dasar (SD) sebagai jenjang pendidikan dasar diharapkan dapat mendidik anak dengan nilai karakter dan kepribadian yang baik sesuai amanat undang–undang dan tidak hanya terfokus pada pengetahuan.

Pendidikan karakter adalah pendidikan yang menanamkan dan mengembangkan karakter luhur kepada anak didik, sehingga mereka memiliki karakter luhur itu, menerapkan dan mempraktikkan dalam kehidupannya. Pendidikan karakter menjadi semakin mendesak untuk diterapkan dalam lembaga pendidikan, mengingat berbagai macam perilaku  yang non–edukatif.

Hurlock (Syamsul Yusuf, 2007:54) menyatakan bahwa sekolah merupakan faktor penentu bagi perkembangan kepribadian anak. Pada usia sekira 7 tahun, anak akan masuk ke jenjang pendidikan dasar. Penanaman nilai serta pembentukan kepribadian yang baik sejak dini diharapkan dapat mencetak generasi penerus bangsa yang unggul, sehingga lahir individu yang tidak hanya pandai namun juga berwatak baik.

Begitu besar peranan sekolah dasar sebagai tahapan awal dalam mendidik anak karena akan dijadikan sebagai pondasi dalam melanjutkan ke jenjang pendidikan yang lebih tinggi serta menjalani kehidupan yang lebih kompleks. Sekolah diharapkan menciptakan lulusan tidak hanya unggul secara akademik tetapi memiliki budi pekerti dan kepribadian baik. Selain itu, dapat mengembangkan sikap peduli siswa, mempraktikkan disiplin moral, membangun kepekaan nurani,  dan sikap positif lainnya. Hal tersebut tentunya harus mendapatkan dukungan dari seluruh komponen warga sekolah dan orangtua siswa. Karena bagaimanapun juga orangtua adalah guru moral pertama bagi anak.

Dalam Undang Undang Republik Indonesia Nomor 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional (UU Sisdiknas) merumuskan fungsi dan tujuan pendidikan nasional yang harus digunakan dalam mengembangkan upaya pendidikan di Indonesia. Pasal 3 UU Sisdiknas menyebutkan bahwa pendidikan nasional berfungsi mengembangkan dan membentuk watak serta peradaban bangsa yang bermartabat dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa, bertujuan untuk berkembangnya potensi peserta didik agar menjadi manusia yang beriman dan bertakwa kepada Tuhan yang Maha Esa, berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri, dan menjadi warga negara yang demokratis serta bertanggungjawab.

Tujuan pendidikan nasional itu merupakan rumusan mengenai kualitas manusia Indonesia yang harus dikembangkan oleh setiap satuan pendidikan. Oleh karena itu, rumusan tujuan pendidikan nasional menjadi dasar dalam pengembangan pendidikan budaya dan karakter bangsa.

Pentingnya pendidikan karakter pada generasi bangsa sejak dini, termasuk anak sekolah dasar perlu ditanamkan dan dikembangkan lewat dunia pendidikan, dapat diimplementasikan secara terpadu dengan kegiatan–kegiatan pendidikan di sekolah, dengan tujuan untuk mereaktualisasi konsep pendidikan budaya dan karakter bangsa di sekolah agar dalam pelaksanaannya diterapkan ke dalam kurikulum di sekolah dan direalisasikan peserta didik dalam kehidupan sehari–hari.

Untuk mendapatkan wawasan mengenai arti pendidikan budaya dan karakter bangsa perlu dikemukakan pengertian istilah budaya, karakter bangsa, dan pendidikan. Pengembangan pendidikan karakter bangsa hanya dapat dilakukan dalam suatu proses pendidikan yang tidak melepaskan peserta didik dari lingkungan sosial, budaya masyarakat, dan budaya bangsa. Lingkungan sosial dan budaya bangsa adalah Pancasila; jadi pendidikan budaya dan karakter bangsa haruslah berdasarkan nilai–nilai Pancasila.

Nilai-nilai dan prestasi itu merupakan kebanggaan bangsa dan menjadikan bangsa itu dikenal oleh bangsa-bangsa lain. Selain mewariskan, pendidikan juga memiliki fungsi untuk mengembangkan nilai-nilai budaya dan prestasi masa lalu itu menjadi nilai-nilai budaya bangsa yang sesuai dengan kehidupan masa kini dan masa yang akan datang, serta mengembangkan prestasi baru yang menjadi karakter baru bangsa. Oleh karena itu, pendidikan budaya dan karakter bangsa merupakan inti dari suatu proses pendidikan.

Proses pengembangan nilai-nilai yang menjadi landasan dari karakter itu menghendaki suatu proses yang berkelanjutan, dilakukan melalui berbagai mata pelajaran yang ada dalam kurikulum (kewarganegaraan, sejarah, geografi, ekonomi, sosiologi, antropologi, bahasa Indonesia, IPS, IPA, matematika, agama, pendidikan jasmani dan olahraga, seni, serta keterampilan).

Dalam mengembangkan pendidikan karakter bangsa, kesadaran akan siapa dirinya dan bangsanya adalah bagian yang teramat penting. Kesadaran tersebut hanya dapat terbangun dengan baik melalui sejarah yang memberikan pencerahan dan penjelasan mengenai siapa diri bangsanya di masa lalu yang menghasilkan dirinya dan bangsanya di masa kini.

Selain itu, pendidikan harus membangun pula kesadaran, pengetahuan, wawasan, dan nilai berkenaan dengan lingkungan tempat diri dan bangsanya hidup (geografi), nilai yang hidup di masyarakat (antropologi), sistem sosial yang berlaku dan sedang berkembang (sosiologi), system ketatanegaraan, pemerintahan, dan politik (ketatanegaraan/politik/ kewarganegaraan), bahasa Indonesia dengan cara berpikirnya, kehidupan perekonomian, ilmu, teknologi, dan seni. Artinya, perlu ada upaya terobosan kurikulum berupa pengembangan nilai–nilai yang menjadi dasar bagi pendidikan budaya dan karakter bangsa.

Membangun pendidikan karakter yang terimplementasi dalam pendidikan dan pengajaran di sekolah merupakan penanaman konsep agar generasi tahu dan paham akan jati dirinya.  Sedari kecil diajarkan akan kebaikan dan budi pekerti mulia menjadi pembiasaan untuk berlaku bijak. Sekolah, guru mengajarkan pembelajaran melalui bidang studi dengan menyelipkan nilai karakter bangsa yang membentuk kepribadian peserta didik menjadi manusia yang cerdas dan berbudi baik.

*) Penulis : Guru di SDN 04 Tanjung Selong

error: Content is protected !!