Implementasi Program AKM  Penanda Perubahan Paradigma Evaluasi Belajar

Yakobus, S. Pd.., M.M

Oleh Yakobus, S.Pd,MM

“SEKARANG sudah zaman disturbsi dimana semua inovasi – inovasi terganti dengan teknologi yang terus membawa perubahan, Program Mendiknas menyatakan bahwa, perubahan mendasar pada Asesmen Nasional adalah tidak lagi mengevaluasi capaian murid secara individu, akan tetapi mengevaluasi dan memetakan sistem pendidikan berupa input, proses, dan hasil ketercapaian. Asesmen Kompetensi Minimun atau AKM, menurut  Nadiem Makarim merupakan sebuah program yang  dirancang untuk mengukur capaian peserta didik dari hasil belajar kognitif yaitu literasi dan numerasi. Kedua aspek kompetensi minimum ini, menjadi syarat bagi peserta didik untuk berkontribusi di dalam masyarakat, terlepas dari bidang kerja dan karier yang ingin mereka persiapkan.

Ada tiga Asesmen Nasional diantarnya, (a). Asesmen Kompetensi Minimum (AKM) yang mengukur literasi membaca dan matematika murid. (b). Survei Karakter ; kompetensi yang mengukur disposisi dan kebiasaan yang mencerminkan karakter murid dan (c). Survei Lingkungan Belajar yaitu kompetensi yang mengukur kualitas berbagai aspek input dan proses belajar mengajar dikelas maupun ditingkat sekolah,

Potret layanan dan kinerja setiap sekolah dari hasil Asesmen Nasional ini kemudian menjadi cermin untuk kita bersama-sama melakukan refleksi mempercepat perbaikan mutu pendidikan Indonesia. Peningkatan sistem evaluasi pendidikan adalah bagian dari kebijakan Merdeka Belajar yang didukung penuh oleh Presiden Joko Widodo dengan tujuan utama mendorong mutu pembelajaran dan hasil belajar para peserta didik.

Untuk itu, Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud) mengeluarkan kebijakan Asesmen Nasional yang dirancang tidak hanya sebagai pengganti ujian nasional dan ujian sekolah berstandar nasional tetapi sebagai penanda perubahan paradigma tentang evaluasi pendidikan. Hal ini disampaikan oleh Mendikbud Nadiem Makarim dalam pernyataan yang diunggah pada akun twitter resmi Kemdikbud @kemdikbud.ri, Sabtu (10/10/2020).

Fokus kepada kemampuan literasi dan numerasi dengan tidak mengecilkan arti penting mata pelajaran saja akan tetapi  karena justru akan membantu murid dalam mempelajari bidang ilmu lain terutama untuk berpikir dan mencerna informasi dalam bentuk tertulis dan dalam bentuk angka atau secara kuantitatif. Jadinya kemampuan literasi dan numerasi adalah kemampuan yang akan berdampak kepada semua mata pelajaran yang diajarkan dan dipelajari oleh murid-murid kita.

Asesmen kedua yaitu Survei Karakter dirancang untuk mengukur pencapaian murid dari hasil belajar sosial-emosional berupa pilar karakter untuk mencetak Profil Pelajar Pancasila. “Enam indikator utama (Survei Karakter) yaitu, beriman dan bertakwa kepada Tuhan YME serta berakhlak mulia, kebinekaan global, kemandirian, gotong royong, bernalar kritis, dan kreativitas,”“Asesmen Nasional pada tahun 2021 dilakukan sebagai pemetaan dasar (baseline) dari kualitas pendidikan yang nyata di lapangan.

Asesmen nasional bertujuan mengevaluasi capaian pendidikan secara nasional. Untuk itu, melalui Merdeka Belajar, pemerintah memberikan kebebasan kepada guru untuk memilih cara penyampaian kurikulum atau cara mengajar. kegiatan yang penting untuk mempersiapkan generasi mendatang yang bisa di tata mulai dari sekarang. Adalah Bagaimana satuan pendidikan  mengingatkan peserta didik untuk menghindari hal-hal yang bersifat merugikan diri sendiri  dan orang lain. Artinya AKM bakal mengukur kemampuan siswa dalam memahami dan mengimplementasikan bacaan serta hitungan. (*)

Penulis, Kepala SMAN 1 Menjalin

error: Content is protected !!