Indonesia Jalin Kerjasama dengan Australia

TERTAWA: Presiden Indonesia Joko Widodo bersama Gubernur Jenderal Australia David Hurley berbicara dalam sebuah pertemuan di Canberra, Australia, Minggu (9/2). TRACEY NEARMY / POOL / AFP

Bicarakan Transportasi Udara Hingga Tata Kota

Memperkuat kerjasama dengan Australia di bidang transportasi udara menjadi salah satu tujuan kunjungan kerja Presiden Joko Widodo ke Canberra, Australia. Ada berbagai usulan kerjasama di dunia aviasi. Salah satu tujuannya adalah untuk mendukung sektor pariwisata, perdagangan, dan perindustrian. 

—-

“Kami mendampingi Presiden untuk bertemu dengan Perdana Menteri Australia Scott Morrison, dalam rangka memperkuat kerjasama kedua negara, salah satunya di bidang transportasi udara,” kata Menteri Perhubungan Budi Karya Sumadi kemarin (9/2). Pemerintah menyampaikan beberapa usulan kerjasama di sektor transportasi. Misalnya saja soal pembahasan lebih lanjut mengenai unlimite akses dan kapasitas penerbangan yang akan membuka seluruh kota di Australia dan Indonesia.

Dalam pertemuan tersebut juga mempromosikan keamanan transportasi. Indonesia meminta Australia agar dapat mengubah tingkatan travel advice ke Indonesia, dari tingkatan kuning yang berarti waspada risiko keamanan menjadi hijau atau tidak ada risiko keamanan khusus.

Dalam kunjungan tersebut, Presiden Joko Widodo menyebut bahwa tujuan lain kedatangannya ke Australia adalah untuk menindaklanjuti selesainya ratifikasi Indonesia-Australia Comprehensive Economic Partnership Agreement (IA-CEPA) yang telah disetujui DPR. “Yang paling jelas, kami ingin keterbukaan sehingga perdagangan, investasi, pariwisata akan lebih banyak antara kedua negara Indonesia dan Australia. Arahnya ke situ karena ratifikasinya sudah selesai,” tandasnya.

Jokowi juga menyebut bahwa pihaknya tengah mempelajari pembangunan Canberra sebagai ibu kota Australia. “Saya ingin mendapatkan sebuah bayangan seperti apa sebetulnya Kota Canberra, bagaimana dikelola, kemudian dimulainya seperti apa,” kata Presiden dalam keterangan pers. Tata kota Canberra bisa jadi inspirasi untuk pembangunan ibu kota baru. “Saya kira tadi kita lihat gedung-gedung pemerintah tidak ada yang tingginya lebih dari tujuh lantai. Tapi di sisi yang lain, ada juga yang jauh dari area pemerintahan diperbolehkan gedung tinggi-tinggi, di situ sangat bagus,” imbuhnya.

Kunjungan Jokowi ke Australia hanya berselang dua hari setelah DPR meratifikasi perjanjian kerja sama ekonomi Indonesia-Australia Comprehensive Economic Partnership Agreement (IA-CEPA).

Jokowi mengakui kunjungannya ke Australia bertujuan menyambut aliran modal berkat terbukanya keran perdagangan dan investasi antara dua negara bertetangga tersebut. ’’Kami ingin keterbukaan sehingga perdagangan, investasi, dan pariwisata akan lebih banyak antara kedua negara. Arahnya ke situ,” katanya kemarin (9/2).

Hari ini, Jokowi dan PM Scott Morrison menandatangani nota kesepahaman rencana aksi IA-CEPA 2020–2024. Itu adalah babak akhir dari alotnya perundingan perjanjian dagang Indonesia-Australia selama sembilan tahun terakhir.

Salah satu yang disepakati dalam IA-CEPA adalah pembebasan bea masuk 94 persen impor produk Australia ke Indonesia. Sebagai imbalannya, 100 persen produk ekspor Indonesia akan bebas bea masuk ke Australia. Indonesia juga akan mendapatkan kuota 4.100 visa kerja dan liburan di Australia pada tahun pertama IA-CEPA dan meningkat 5 persen tiap tahun.

Indonesia juga berharap Australia membuka ruang udara di seluruh wilayahnya untuk maskapai asal Indonesia. Imbalannya, Indonesia akan membuka seluruh akses penerbangan untuk maskapai Australia. Hal itu dilakukan untuk mendukung sektor pariwisata, perdagangan, dan perindustrian kedua negara.

Untuk mempromosikan keamanan transportasi kedua negara, Indonesia juga meminta Australia menurunkan tingkat anjuran perjalanan ke Indonesia dari kuning (waspada risiko keamanan) menjadi hijau (tidak ada risiko keamanan khusus).

Jokowi kemarin juga mengunjungi Mount Ainslie dengan didampingi Chief Executive National Capital Authority Canberra Sally Barnes. Dia mengaku mencari inspirasi pembangunan tata kota di ibu kota Australia tersebut untuk ibu kota baru Indonesia. ’’Saya ingin mendapatkan sebuah bayangan seperti apa sebetulnya Kota Canberra, bagaimana dikelola, kemudian dimulainya seperti apa,’’ kata Jokowi.

Menurut dia, tata kota Canberra bisa jadi inspirasi untuk pembangunan ibu kota baru. Jokowi menemukan bahwa gedung-gedung pemerintah di Canberra dibatasi maksimal berlantai tujuh. ’’Di sisi lain, ada juga yang jauh dari area pemerintahan diperbolehkan gedung tinggi-tinggi, di situ sangat bagus,” pungkasnya. (lyn/c17/noe)