Indonesia Merdeka dengan Mewujudkan Swasembada Beras

Oleh: Budhi Setyono 

INDONESIA berhasil swasembada beras dengan angka produksi sebanyak 25,8 ton pada tahun 1984. Kesuksesan tersebut mendapatkan penghargaan dari Food and Agriculture Organization / FAO (Organisasi Pangan dan Pertanian Dunia) pada 1985. Pasalnya, pangan merupakan kebutuhan mendasar bagi manusia untuk dapat mempertahankan hidup. Negara yang tak mampu mencukupi kebutuhan pangannya sangat rentan terhadap gejolak, baik gejolak harga hingga tergantung pada pasokan negara lain. Artinya, kedaulatan negara sebenarnya dalam konteks praktis bertumpu pada swasembada pangan.

Pangan menjadi magnet perhatian publik karena memang dampaknya yang luas, mulai dari pegawai kantoran, ibu rumah tangga, bahkan asisten rumah tangga pun ikut mengomentari berita tentang pangan. Sehingga pemerintah sebagai penguasa harus memprioritaskan komoditas pangan dan memastikan stok pangan selalu terjaga. Sesuai amanat Undang-Undang Nomor 18 tahun 2012 tentang Pangan bahwa negara berkewajiban mewujudkan ketersediaan, keterjangkauan, dan pemenuhan konsumsi Pangan yang cukup, aman, bermutu, dan bergizi seimbang, baik pada tingkat nasional maupun daerah hingga perseorangan secara merata di seluruh wilayah Negara Kesatuan Republik Indonesia sepanjang waktu dengan memanfaatkan sumber daya, kelembagaan, dan budaya lokal.

Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), arti kata swasembada adalah usaha mencukupi kebutuhan sendiri (beras dan sebagainya). Berdasarkan ketetapan FAO tahun 1999, suatu negara dikatakan swasembada jika produksinya mencapai 90 persen dari kebutuhan nasional. Keterangan dari Kementerian Pertanian (Kementan) pada  tahun 2016 sampai 2018 beras di Indonesia mengalami surplus.Sehingga tahun 2016 dan 2017 tidak ada impor beras, kalau impor 2016 itu merupakan limpahan impor 2015. Kemudian 2018 beras surplus 2,85 juta ton, adapun impor 2018 sebagai cadangan. Sementara itu produksi  padi tahun 2019 menurut data Badan Pusat Statistik (BPS) tercatat surplus 1,53 juta ton beras. Angka ini diperoleh dari perkiraan produksi beras sebesar 31,31 juta ton dibandingkan konsumsinya sebesar 29,78 juta ton. Jika dihitung secara kumulatif ditambah tahun sebelumnya menunjukkan surplus sekitar 5,9 juta ton beras.

Beras adalah salah satu produk makanan pokok paling penting di dunia. Pernyataan ini terutama berlaku di Benua Asia, tempat beras menjadi makanan pokok untuk mayoritas penduduk (terutama di kalangan menengah ke bawah masyarakat). Benua Asia juga merupakan tempat tinggal dari para petani yang memproduksi sekitar 90% dari total produksi beras dunia.Indonesia merupakan negara agraris dan salah satu negara produsen beras terbesar ketiga di dunia setelah China dan India. Produksi beras Indonesia berkisar 37 juta ton, China 148,87 juta ton, dan India 112,91 juta ton. Produksi beras Indonesia lebih besar dibanding Bangladesh (32,65 juta ton), Vietnam (28,47 juta ton), dan Thailand (20,37 juta ton).

Indonesia harus menggenjot produksi pertanian dalam negeri agar tidak mengandalkan impor. Apalagi, saat ini sedang terjadi pandemi Covid-19 yang belum juga mereda penularannya. Dengan memanfaatkan alat mesin pertanian (alsintan) yang tersedia untuk membantu meningkatkan produksi akan terwujud swasembada beras di Indonesia. Selain itu pemerintah juga gencar melakukan kegiatan pengelolaan air irigasi secara efektif dan efisien, seperti rehabilitasi jaringan irigasi, pompanisasi, perpipaan, dan pembangunan embung. Upaya lainnya adalah melakukan perluasan dan perlindungan lahan, seperti kegiatan perluasan areal sawah dan optimasi pemanfaatan lahan rawa juga jalan usaha tani.

Beberapa tahun terakhir, Indonesia impor beras hanya sebagai cadangan. Namun demikian jumlah impor beras bisa ditekan dengan program ketahanan pangan di berbagai daerah. Salah satunya pembentukan desa tangguh nusantara yang mengusung program andalan swasembada pangan.Data BPSmenunjukkan, pada 2019 nilai impor beras sebesar US$ 537ribu dengan rincian dari China US$ 482 ribu, Filipina US$ 1,6 ribu, dan India US$53ribu.Nilai impor tersebut lebih baik dibanding tahun sebelumnya yang mencapai US$ 1,09 juta.

Guna meningkatkan produksi komoditas pertanian dalam pemenuhan kebutuhan pangan di Indonesia, menurut studi Gultom dan Astuti (2019)tedapatbeberapa permasalahan. Pertama, luas lahan yang sempit menjadi salah satu penyebab rendahnya pendapatan petani. Rata-rata luas lahan petani sebesar 0,2 hektare, yang mengakibatkan petani sulit meningkatkan skala usaha taninya dan padi tidak bisa dijual langsung ke pabrik beras. Rata-rata produksi petani beras hanya berkisar 5 ton, sedangkan pabrik beras hanya bisa membeli dalam skala besar minimal sekitar 20 ton.

Kedua, rendahnya penghasilan petani menyebabkan terbatasnya modal petani sehingga petani terpaksa melakukan transaksi utang-piutang dengan sistem ijon. Petani biasanya meminjam sejumlah uang kepada tengkulak untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari. Sebagai gantinya, petani akan menjual padinya kepada tengkulak tersebut pada saat panen.Ketiga, lemahnya akses petani beras terhadap pasar adalah salah satu permasalahan utama pertanian di Indonesia. Hal ini menyebabkan petani terus terikat dengan institusi-institusi di desa yang tidak efisien, seperti tengkulak dan pengepul, yang acap kali membeli produk petani dengan harga yang rendah, yang selanjutnya akan menghalangi petani dalam meningkatkan efisiensi dan produktivitas usaha taninya.

Keempat, kurangnya sarana dan prasarana produksi pertanian, seperti pupuk, pestisida pembasmi hama, dan alat-alat pertanian (seperti traktor dan cangkul). Kelangkaan ini disebabkan oleh distribusi yang kurang baik dan tidak tepat sasaran sehingga mengakibatkan biaya produksi beras pun lebih tinggi.Kelima, fluktuasi harga beras sebagai akibat faktor musiman. Misalnya, pada saat panen, harga beras cenderung lebih murah dibanding saat musim paceklik atau saat gagal panen, ketika biasanya ada lonjakan harga karena pasokan terbatas. Keenam, kurangnya kemampuan teknis untuk melakukan budidaya padi sehingga produktivitas petani rendah.

Ekonom Indef Esther Sri Astuti mengemukakan, untuk menangani permasalahan tersebut, perlu adanya kebijakan yang komprehensif guna mewujudkan swasembada pangan di Indonesia. Salah satu cara untuk meningkatkan jumlah produksi beras adalah melalui mekanisasi sebagaimana yang telah dilakukan di China dan India. Data PriceWaterhouseCoopers(PWC, 2018)memperlihatkan tingkat mekanisasi di China sebesar 8 horsepower per hektare (hp/ha) dan India sebesar 2,6 hp/ha.

Melalui proses mekanisasi tersebut, baik China maupun India berhasil meningkatkan kapasitas panennya, meningkatkan produktivitas tenaga kerja, mengurangi kerugian pascapanen, meningkatkan pendapatan petani, dan mengurangi impor beras ke negaranya. Proses mekanisasi dimulai dengan menyediakan mesin-mesin pertanian yang penjualannya disubsidi, hingga pengadaan pusat sewa mesin-mesin pertanian sehingga petani yang tidak mampu membeli juga bisa menyewa alat tersebut.

Untuk itu, pemerintah diharapkan mampu menciptakan iklim investasi yang kondusif agar investor tertarik menanamkan modal pada usaha-usaha yang terkait dengan rantai nilai pertanian (agricultural value chain). Selainitu perlu juga meningkatkan infrastruktur perdesaan dan jumlah penyuluh pertanian lapangan sehingga produksi beras meningkat, baik dalam kuantitas maupun kualitasnya. Sehingga swasembada beras di Indonesia akan terwujud dengan baik walau dalam kondisi pandemi Covid-19. **

Penulis adalah Statistisi Pelaksana Badan Pusat Stastistik Kubu Raya

loading...