Infrastruktur Entikong Mewah, Regulasi Tak Mendukung

Bangunan terminal perdagangan internasional Entikong yang sudah rampung pembangunannya sejak awal tahun 2019. Namun belum digunakan.

PONTIANAK – Ketua Asosiasi Pengusaha dan Pedagang Perbatasan Indonesia Raden Thalib mengatakan Dry Port Entikong, Kabupaten Sanggau sejatinya sudah selesai dibangun sejak awal tahun ini. Namun fasilitas ekspor-impor itu belum beroperasi. Lantarannya, Dry Port Entikong belum memiliki kode pelabuhan dari Kementerian Perhubungan.“Saat ini belum ada regulasi yang jelas dari pemerintah soal perdagangan ekspor-impor yang menggunakan pelabuhan darat. Kalaupun kawasannya ada, tetapi regulasinya belum dibuat, juga percuma dibikin. Sayang kalau PLBN Entikong yang megah itu tidak dimanfaatkan,” ujarnya.

Menurutnya, pemberlakukan perdagangan umum (ekspor-impor) antar-negara di perbatasan Kalbar-Sarawak sudah seharusnya dilakukan. Pasalnya banyak komoditas Kalbar yang bisa langsung diekspor melalui pintu perbatasan. “Kita bisa memanfaatkan Pelabuhan Kuching melalui dry port. Ini akan membuang banyak cost logistik, dan lebih efisien ketimbang mengekspor melalui pelabuhan lain. Selain itu, kebutuhan pokok masyarakat perbatasan bisa dipasok dari Sarawak,” sebutnya.

Thalib mengatakan, pihaknya ingin pemerintah berkomitmen tentang rencana yang sudah dibikin dan didengung-dengungkan sejak bertahun-tahun lampau. Sebelum perdagangan luar negeri via Entikong ditutup pada beberapa tahun lalu, aktivitas bongkar muat di Tebedu Inland Port, pelabuhan daratnya Sarawak, sangat marak. (ars)

loading...