Infrastruktur Picu Geliat Ekonomi di Tapal Batas

POTENSI: Desa Temajok, Kecamatan paloh, Sambas memiliki Banyak potensi wisata yang indah dan layak untuk dikunjungi.

TEMAJUK desa yang indah. Jika kita lihat peta, lokasinya berada di ujung paling barat Kalimantan atau biasa disebut ekor Borneo. Persisnya di Kecamatan Paloh, Kabupaten Sambas, Kalimantan Barat. Dua pegunungan mengapit wilayah nan eksotik ini. Hamparan pasirnya begitu bersih dan indah, memanjang hingga ke tepi bukit. Di situ pula ada tapal batas, pemisah dua negara: Indonesia dan Malaysia.

Sebelum ada pembangunan jalan, kehidupan warga Temajuk tak seindah alamnya. Bertahun-tahun mereka hidup dengan segala keterbatasan. Keterisolasian membuat segalanya serba sulit, mulai dari sisi ekonomi, kesehatan hingga pendidikan.

Kini, kehidupan warga di Temajuk mulai membaik. Roda ekonomi berputar dengan cepat. Ini berkat dibukanya jalan yang menghubungkan daerah ini dengan wilayah luar. Jalan menuju Desa Temajuk memang belum semuanya mulus. Namun warga sudah begitu mensyukurinya.

Saat ini, jalan sepanjang 50 kilometer yang menghubungkan desa ini dengan ibu kota kecamatan terus dikerjakan. Sepanjang lima kilometer jalan sudah diaspal. Sisanya dalam proses pengerasan. Meski begitu jalan ini sudah bisa dilalui kendaraan dengan lancar.

Suwarno (46), warga Temajuk bercerita, sebelum 2014, desa ini sama sekali tak terhubung akses jalan. Akses utama warga adalah melalui jalur laut atau menggunakan sepeda motor melewati bibir pantai.

Tidak adanya akses jalan itulah yang membuat kehidupan warga begitu terpuruk. Harga barang begitu mahal karena sulit didatangkan. Pemilik toko harus menyewa kapal untuk membawa barang dagangan dari ibu kota kecamatan.  “Sampai di desa, harga barang sudah naik berkali-kali lipat,” ujar Suwarno saat ditemui di rumahnya, Sabtu (31/8).

Sementara itu, sayur mayur, buah-buahan, dan lada hasil pertanian warga sulit dijual. Ikan hasil tangkapan nelayan pun demikian. Harganya jatuh. “Ikan-ikan melimpah. Tapi siapa yang mau beli? Dibawa ke luar tidak bisa. Dijual di kampung sudah kelebihan. Harga tiga ribu per kilogram pun tak laku,” ujar Pengurus Lembaga Pengabdian Masyarakat Desa Temajuk itu.

Jalur pantai dan laut memang tidak mudah untuk dilalui. Apalagi memasuki musim penghujan dan angin kencang. Warga menyebutnya musim landas. Biasa terjadi pada November hingga Maret. Di musim landas, jarang ada warga berani bepergian sendiri. Mereka khawatir, bila terjadi sesuatu di jalan pasti tidak ada yang membantu.

Di sepanjang pantai Temajuk terdapat beberapa muara sungai. Saat hujan dan pasang datang, sungai-sungai itu meluap menutupi pasir pantai. Jadi, sepeda motor terpaksa harus digotong untuk menyeberangi sungai tersebut. Ada empat sungai yang sering meluap di musim hujan, yaitu Sungai Bakwan, Bandang, Ubah dan Belacan.

Kondisi inilah yang membuat desa dengan luas 2368 meter persegi itu sangat terisolir. Untuk mengantisipasi musim tersebut, warga Temajuk harus memiliki stok beras yang mencukupi. Jika tidak, mereka bisa kelaparan karena sulit membeli beras di musim landas. “Kami harus mengirit makan supaya beras tak cepat habis,” katanya.

Tak jarang ada warga yang kehabisan stok beras. Beras sudah kosong, namun musim landas belum berakhir. Bersyukur, rasa saling membantu di desa ini belum luntur. Warga yang masih punya cadangan beras rela berbagi dengan tetangga yang memerlukan.

Pariwisata Menggeliat

Dampak pembangunan jalan begitu dirasakan oleh warga Temajuk. Salah satunya di bidang pariwisata. Keindahan alam di desa ini kini bisa dinikmati masyarakat luar. Setiap bulan ratusan wisatawan mengunjungi daerah ini.

“Jumlah pengunjung ke desa kami terus meningkat. Terutama di hari libur atau akhir pekan,” kata Joko, Pegiat Wisata di Desa Temajuk. Wisatawan yang berkunjung ke desa Temajuk tidak hanya dari Kalbar, namun juga dari negara tetangga, Malaysia. Para wisatawan dari Malaysia datang ke Temajuk melalui perbatasan darat di Aruk Sambas. Ada juga yang datang dari Telok Melano, Malaysia. “Daerah ini memang berbatasan langsung dengan Malaysia. Jadi tidak mengherankan jika banyak wisatawan dari Malaysia yang berkunjung ke sini,” tambah Joko.

Saat ini sedikitnya ada 30-an penginapan dan 40 home stay di Temajuk. Wilayah pesisir yang indah, dengan pantai yang menawan menjadi lokasi strategis bagi usaha pariwisata. Semakin banyaknya wisatawan yang datang, semakin baik bagi peningkatan ekonomi warga.

Banyaknya penginapan dan home stay ini membuka lapangan pekerjaan bagi warga lokal. Meski para pemilik penginapan kebanyakan warga luar Temajuk, namun kebanyakan pekerjanya adalah warga setempat. “Dulu di sini susah mencari pekerjaan. Sekarang, mau kerja apa tinggal pilih. Banyak warga kini kerja di penginapan,” kata Joko.

Ketua Karang Taruna Desa Temajuk, Arsyi mengatakan, saat ini banyak warga temajuk yang menyediakan home stay bagi para wisatawan. Mereka mengubah desain rumah mereka agar nyaman ditinggali para pelancong. “Usaha ini mampu menggenjot pendapatan warga. Di momen-momen tertentu, seperti libur panjang, home stay milik warga banyak diminati para pengunjung,” tambah Arsyi.

Menurut Arsyi, pemuda setempat juga kerap mendapat pelatihan menjadi pemandu pariwisata. Tujuannya untuk meningkatkan kemampuan anak-anak muda setempat di dunia pariwisata. “Anak-anak muda dilatih bagaimana menyambut para wisatawan. Agar pengunjung betah dan merasa nyaman selama di sini. Sehingga suatu saat mereka mau kembali lagi ke Temajuk,” ujarnya.

Pelatihan diadakan dengan bekerjasama dengan sejumlah lembaga, baik pemerintah maupun swasta. Misalnya Kementerian Pariwisata dan pemerintah Kabupaten Sambas. Mereka terus melakukan terobosan untuk meningkatkan kunjungan wisatawan. Salah satunya, melalui kampanye Gerakan Sadar Wisata. Kampanye ini bertujuan untuk meningkatkan kesadaran masyarakat di sekitar destinasi pariwisata.

“Kegiatan ini dilakukan kepada masyarakat yang dekat destinasi wisata. Agar, mereka bisa menjadi tuan rumah yang baik bagi wisatawan,” ujarnya.

Banyaknya wisatawan yang datang juga membawa berkah bagi warga sekitar. Tak sedikit warga yang mendirikan rumah makan atau kafe. Para pengunjung bisa menikmati menu makanan yang disediakan warga. “Hasilnya lumayan juga. Kami bisa dapat rezeki dari para pengunjung,” ujar Syam, salah satu pemilik warung di Temajuk.

Syam berharap pembangunan jalan menuju di Temajuk terus dilanjutkan. Sejauh ini, para pengunjung masih mengeluhkan belum mulusnya kondisi jalan. “Kalau jalannya sudah mulus pasti jumlah pengunjung ke sini (Desa Temajuk) akan semakin banyak.”

Terisolasi Sejak Berdiri

Desa Temajuk merupakan daerah perbatasan paling barat di Kalimantan Barat. Dari ibu kota provinsi, Pontianak, butuh waktu 11 jam perjalanan darat untuk sampai ke desa ini. Temajuk berbatasan langsung dengan Kampung Telok Melano, Sarawak, Malaysia.

Pada 1970-an wilayah ini pernah menjadi tempat persembunyian Pasukan Gerakan Rakyat Serawak/Persatuan Rakyat Kalimantan Utara (PGRS/Paraku). PGRS/Paraku adalah para pemberontak yang terkait konfrontasi dengan Malaysia. Gerakan ini berhasil ditumpas militer Indonesia. “Sejak operasi Malaysia-Indonesia (Malindo) tahun 1987, anggota PGRS sudah tidak kelihatan lagi,” kata Suwarno, tokoh masyarakat Temajuk.

Pemerintah pusat kemudian menempatkan transmigran lokal di desa ini. Kebanyakan berasal dari Kecamatan Sungai Duri, Selakau, Pemangkat dan Tebas. Sejak itulah, Temajuk mulai dihuni. Setiap warga disediakan satu unit rumah sederhana dan lahan seluas lima hektare lengkap dengan bibit tanaman, seperti buah rambutan, karet dan lada.

Sayangnya, penempatan warga di Desa Temajuk tanpa diiringi pembangunan infrastruktur jalan dan layanan kesehatan.

Berubah Ketika Jalan Dibangun

Pada 2013, jalan menuju Desa Temajuk mulai dibangun. Jalan ini mulai bisa dilalui pada 2014 lalu. Dengan adanya jalan ini, warga tidak lagi harus menyimpan cadangan beras saat musim landas tiba. Ikan dan hasil pertanian pun bisa dijual dengan mudah lewat jalur darat. “Pendapatan warga jauh meningkat,” ujar Suwarno, Pengurus LPM Desa Temajuk.

Menurutnya, kondisi warga saat ini sudah jauh membaik ketimbang masa lalu. Suwarno mengumpamakannya bagaikan air dengan minyak. “Jauh sekali perbedaannya, dulu dengan sekarang,” katanya.

Sekretaris Desa Temajok, Pandri Ota mengatakan, sejak jalan darat menuju Desa Temajuk bisa dilalui, keterisolasian pun menyingkir. Warga Temajuk yang sebagian besar bekerja sebagai petani dan nelayan secara bertahap mulai merasakan dampak positifnya. Segalanya terasa lebih mudah.

“Kalau dulu, nelayan mau menjual hasil tangkapan mereka itu sangat sulit. Ikan tidak bisa dipasarkan ke luar desa. Harganya pun cukup murah. Beruntung bila masih ada yang mau membeli,” ujar Pandri.

Biasanya hasil tangkapan nelayan dibiarkan busuk begitu saja karena tidak bisa disimpan. Bila nelayan menggunakan es batu untuk mengawetkan ikan, biayanya justru lebih mahal daripada harga ikan itu sendiri. “Kini ikan tangkapan nelayan langsung bisa dijual. Banyaknya penginapan juga membuat nelayan tak susah menjual tangkapan mereka.”

Infrastruktur Begitu Penting

Pembangunan infrastruktur, tak bisa dinafikan, merupakan suatu keharusan. Ketersediaan infrastruktur memudahkan masyarakat untuk memanfaatkan sumber daya di sekitarnya. Infrastruktur juga dapat meningkatkan efisiensi dan produktivitas masyarakat. Pada gilirannya, peningkatan efisiensi dan produktivitas masyarakat akan mendorong peningkatan ekonomi suatu wilayah.

Inilah yang menjadi pekerjaan rumah bagi pemerintah saat ini. Bagaimana memastikan ketersediaan berbagai infrastruktur dasar di semua wilayah. Pekerjaan rumah yang bisa dikatakan tidak ringan, mengingat betapa luasnya wilayah Indonesia.

Sejauh ini, pembangunan infrastruktur jalan misalnya, sudah begitu masif digenjot pemerintah. Di Kalimantan Barat, program pembangunan jalan menyentuh hingga ke daerah-daerah terpencil. Bahkan hingga ke wilayah perbatasan yang selama ini terisolir.

Dari sisi ekonomi, pembangunan infrastruktur ini dapat mempercepat mobilitas barang dan jasa. Tak perlu memberi bantuan uang, cukuplah dengan pembangunan jalan. Warga akan mampu memberdayakan diri sendiri.

Wakil Bupati Sambas, Hairiah mengatakan, pembangunan jalan di kawasan perbatasan mampu mendorong pertumbuhan ekonomi mikro. Menurut Hairiah, setelah akses jalan dibangun, ekonomi warga akan ikut bergerak. Sejumlah usaha pun berkembang. Misalnya ada warga yang membangun usaha penginapan, rumah makan, dan kerajinan. Secara umum transaksi menjadi lebih lancar dengan adanya jalan. Selain transaksi antar-masyarakat lokal, ada pula transaksi antar-negara, yakni antara warga Indonesia dengan warga Malaysia di perbatasan.

Pembangunan infrastruktur memang menjadi prioritas pemerintah. Hairiah mengungkapkan, di tahun 2018, panjang jalan dengan kondisi baik di kabupaten ini sekitar 548 kilometer. Tahun 2019, panjangnya bertambah menjadi 580,31 kilometer. Prediksi ke depan, panjang jalan dalam kondisi baik akan bertambah menjadi 654,32 kilometer. “Jadi kalau keseluruhan di Kabupaten Sambas, prediksinya di tahun 2020 ada sekitar 59,36 persen jalan kabupaten dengan kondisi baik,” ujar Hairiah.

Pembangunan infrastruktur juga dinilai bisa mendorong peningkatan Indeks Pembangunan Manusia (IPM). Contohnya saja di bidang pendidikan. Jalan yang rusak akan membuat akses pelajar terkendala menuju sekolah. Kondisi ini dapat melemahkan semangat mereka. Dengan adanya pembangunan jalan serta sarana pendukung, akses pelajar berangkat sekolah akan lebih mudah.

Di tahun 2018, IPM di Kabupaten Sambas mencapai angka 66,1. Diharapkan pada tahun 2019, angka tersebut bisa naik menjadi 67,50. “Untuk tahun 2020, kita harapkan angkanya bisa naik menyentuh 68,30,” ujar Hairiah. Sementara untuk pertumbuhan ekonomi Kabupaten Sambas, di tahun 2019 tercatat sebesar 5,45 persen. Tahun 2020 ditargetkan pertumbuhan mencapai 5,60 persen.

Pertumbuhan ekonomi tersebut erat kaitannya dengan angka kemiskinan. Di  Kabupaten Sambas, angka kemiskinan terus menurun. Pada tahun 2018, angka kemiskinan sebesar 8,55 persen. Di tahun 2019,  pemerintah kabupaten menargetkan untuk menurunkan angka tersebut menjadi 8,32 persen. Sedangkan untuk tahun 2020, target penurunan angka kemiskinan menyentuh angka 8,20 persen.

Seusai arahan Gubernur Kalimantan Barat, pemerintah kabupaten juga berkomitmen untuk mewujudkan desa mandiri. Di tahun 2019, ditargetkan terbentuk lima desa, tetapi di Kabupaten Sambas sudah terbentuk delapan desa. “Semoga di tahun 2020 bisa terbentuk 38 desa mandiri,” katanya. Ia berharap setiap desa di Kabupaten Sambas bisa menjadi desa mandiri. Dengan desa mandiri diharapkan angka kemiskinan bisa menurun dan kemandirian desa terlaksana.

Sementara itu, pengamat ekonomi dari Universitas Tanjungpura, Eddy Suratman mengatakan, daya saing suatu negara salah satunya ditopang oleh keberadaan infrastruktur. Infrastruktur termasuk variabel keempat. Pembangunan infrastruktur yang dilakukan pemerintah pusat hendaknya dilanjutkan pemerintah daerah. Misalnya konektivitas jalan yang sudah dibangun untuk menghubungkan antarwilayah.

Apakah pemerintah daerah telah memprioritaskan APBD untuk membangun infrastruktur? “Alokasi anggaran untuk infrastruktur seharusnya menjadi prioritas,” tegas Eddy. Menurutnya, penganggaran pembangunan infrastruktur oleh pemerintah daerah masih tergolong rendah jika dibandingkan dengan belanja barang dan jasa. “Secara umum  di semua daerah belanja modal masih rendah dibanding pos belanja barang dan jasa. Memang ada daerah yang bagus, namun itu tergantung pemimpinnya.”

IPM suatu daerah juga sangat terkait dengan keberadaan infrastruktur. Ada tiga variabel IPM yakni pendidikan, kesehatan dan ekonomi. Ketiga variabel itu sangat dipengaruhi oleh infrastruktur. “Misalnya berapa jarak antara rumah ke sekolah itu mempengaruhi lama sekolah dan harapan sekolah. Untuk kesehatan juga sama. Demikian pula dengan ekonomi. Infrastruktur itu menjadi urat nadi ekonomi,” jelasnya.

Jika suatu negara ingin maju maka pemerintah harus memprioritas pembangunan infrastrukturnya. “Ini yang sudah dilakukan pemerintahan Jokowi. Ini perlu kita dukung,” ujarnya. (her/yad)

Read Previous

Regenerasi Pemain Meriam Karbit, Tujuh Tim Berlaga di Festival Tingkat SMA

Read Next

Pemkot Pontianak Ciptakan Remaja ber SDM Unggul

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *