Ini Daftar Daerah Penyumbang Titik Api di Kalbar

PENDINGINAN : Dandim 1203 Ketapang, Letkol Kav. Jami’an, turun langsung memadamkan dan mendinginkan lokasi kebakaran di Sungai Pelang, MHS, kemarin (15/9).afi/pontianakpost

Daerah Sebaran Hotspot

  • Sambas 5
  • Mempawah 8
  • Sanggau 3
  • Ketapang 148
  • Sintang 20
  • Kapuas Hulu 10
  • Bengkayang 8
  • Landak 0
  • Sekadau 7
  • Kayong Utara 25
  • Melawi 5
  • Kubu Raya 31
  • Pontianak 0
  • Singkawang 1
    ==========
    Jumlah 269 Hotspot

Kabut Tebal, Kapal Klotok dan Nelayan Salah Arah

PONTIANAK—Pekatnya kabut asap di Kalimantan Barat (Kalbar), membuat segala aktivitas nyaris lumpuh. Tidak hanya jadwal penerbangan terggangu, kegiatan di perairan juga ikut bermasalah. Kapal nelayan, kapal klotok termasuk aktivitas speedboat banyak yang enggan berangkat. Penyebab utamanya yakni jarak pandang terbatas.
Itu dialami pengendara transportasi sungai di Kubu Raya, Kalimantan Barat. Kondisi sekarang membuat penambang motor klotok yang beroperasi di Sungai Kapuas sering tersesat. Salah satunya dialami penambang motor klotok rute Pontianak-Sungai Raya-Terentang-Kubu dan Teluk Pakedai.

“Waduh kami benar-benar terganggu dengan kabut asap. Kawan-kawan ada yang berani beroperasi dengan resiko terkadang nyasar tidak sampai tujuan. Ada juga yang tiba tetapi dengan mempergunakan alat semacam GPS,” ujar Ahmadi, seorang penambang motor klotok di Sungai Durian.

Menurut dia jarak pandang yang sangat terbatas dirasakannya sebelum pukul 06.00 Wib. Selanjutnya setelah pukul 07.00 WIB, kabut asap sedikit berkurang. Tetapi sekarang meskipun sudah siang tetap saja jarak pandang hanya beberapa meter saja. “Jelas saja, mengganggu aktivitas transportasi sungai. Kami tak hanya tersesat, kabut asap pekat sering membuat para penambang sendiri tidak tahu posisi mereka,” ujarnya.

Karena kabut pekat ujung-ujungnya menghabiskan waktu penambang motor termasuk penumpang. Penumpang kena dampaknya. Pekerjaan mereka ikut terganggu dan terlambat. “Sudah parah beberapa hari ini. Apabila kabut asap semakin parah, maka kami tidak akan menambang dulu. Cuti dan libur sementara,” kata dia.

Bukan hanya pemilik kapal klotok protes, sekelompok nelayan di Kabupaten Kubu Raya mengaku enggan melaut selama dua hari belakangan. Ini karena kabut asap semakin menebal sejak beberapa hari belakangan.

“Waduh saya sudah dua hari tak turun melaut. Karena kabut pekat dan jarak pandang pendek. Siang hari saja pendek,” ungkap Ridwan, salah satu nelayan di Sungai Kakap, Kubu Raya.

Ridwan mengaku kabut asap sangat mengganggu nelayan menangkap ikan di laut. Ikan-ikan sulit didapat karena kondisi udara perairan ikut tidak bagus.

“Posisi ikan bakalan sulit diperkirakan akibat kabut asap,” jelasnya.

Tak hanya nelayan tradisional, nelayan dengan alat tangkap modern juga ragu k melaut karena biaya melaut (bahan bakar kapal) tidak sebanding dengan hasil tangkapan. “Biasanya ikan kembung, tamban, pari dan ikan lain yang didapat. Tetapi kemarin semenjak muncul kabut asap tidak ada sama sekali,” kesalnya.

Nelayan yang biasanya melaut di laut China Selatan ini menyebutkan bahwa

kondisi seperti sekarang berbahaya bagi keselamatan. Apalagi nelayan tradisional hanya dilengkapi peralatan seadanya, dan membuat letak daratan sering tidak terlihat. Belum lagi gelombang datang karena angin kencang di tengah laut. “Selain asap, kondisi gelombang juga menjadi penyebab semua nelayan enggan melaut beberapa hari terakhir,” ujarnya.

Sutikno, Forecaster Badan Meteorologi, Klimatologi dan Geofisika (BMKG) Supadio Pontianak menyebutkan bahwa jarak pandang mendatar di Bandara Supadio Pontianak secara umum memang lebih dari 1000 meter. Hanya Jarak pandang minimum juga berada di angka 1 kilometer terjadi pada tanggal 06, 07, 08, 09, 10, 11, 12, 13, 14, 15, 16 dan 17 September 2019. Sebabnya yakni hujan lebat dan asap.(den)

Read Previous

Bawaslu ; Pleno Tertutup KPU Bertentangan PKPU

Read Next

Tim PPDM Poltesa Terbitkan Buku Tenun

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Most Popular