Investigasi Dugaan Keterlibatan Oknum TNI dalam Kasus Perambahan Hutan

OLAH TKP: Tim Mabes TNI AD menggelar olah TKP di Hutan Pendidikan Untan, Sabtu (8/8) siang. ISTIMEWA

Mabes TNI AD Gelar Olah TKP

PONTIANAK – Markas Besar Angkatan Darat (Mabesad) menggelar olah tempat kejadian perkara (TKP) adanya dugaan keterlibatan oknum TNI dalam aktivitas pembalakan liar di kawasan hutan dengan tujuan khusus (KHDTK) Universitas Tanjungpura di Sungai Kenak, Kecamatan  Segedong, Kabupaten Mempawah, Sabtu (8/8).

Olah TKP tersebut melibatkan setidaknya 30 orang dari berbagai pihak, di antaranya, Fakultas Kehutanan Universitas Tanjungpura, Balai Gakkum LHK, KPH Mempawah, Korem 121/Amb/ Kodim 1201/Mph, Denintel Kodam XII Tanjupura dan perwakilan masyarakat. Pontianak Post berkesempatan melihat langsung proses pelaksaan olah TKP tersebut.

Olah TKP digelar di beberapa titik lokasi sekitar kawasan hutan yang dikelola Universitas Tanjungpura. Diantaranya, di titik lokasi  terjadinya perambahan hutan yang berdekatan dengan areal hibah dan lokasi perempatan Sungai Kenak/Parit Kurnia.

Untuk menuju ke lokasi, setidaknya memakan waktu selama dua jam perjalanan menggunakan perahu motor.

Sepanjang perjalanan menuju lokasi, Pontianak Post mengamati setidaknya ada enam buah tempat pengolahan kayu (sawmill) milik masyarakat yang berada di bibir sungai Segedong. Sawmill-sawmill itu terlihat kosong dan tidak ada aktivitas.

Berdasarkan informasi, sawmill-sawmill tersebut digunakan untuk mengolah kayu hasil perambahan illegal di area Segedong, termasuk area KHDTK Untan. Sejak terbongkarnya aktivitas illegal logging di areal KHDTK, operasional sawmill itu pun ikut berhenti.

Setelah dua jam menyusuri Sungai Segedong dan anak-anak sungai, kami pun tiba di lokasi. Tepatnya di perempatan Sungai Kenak/Parit Kurnia. Perahu yang saya tumpangi dan beberapa perahu lainnya terpaksa berhenti.

Debit air yang terus menyusut membuat perahu-perahu itu tidak bisa masuk ke lokasi utama yang dijadikan tempat Olah TKP. Hanya perahu-perahu ukuran kecil yang bisa masuk ke lokasi itu.

Setelah selesai melaksanakan olah TKP di lokasi pembalakan, lokasi olah TKP berikutnya ada di perempatan Sungai Kenak/Parit Kurnia.

Di lokasi itu, tim Mabesad yang dipimpin oleh Kolonel Sujono meminta pihak-pihak terkait untuk memperagakan kembali adegan sesuai dengan fakta yang terjadi pada pelaksaan operasi gabungan pada 23 Juni dan 24 Juni 2020 lalu.

Di lokasi itu, melibatkan adegan penyergapan malam pelaku illegal logging,  pemindahan barang bukti, pembicaraan lisan antara salah satu dari tim operasi gabungan dengan oknum TNI yang diduga menjadi backing aktivitas perambahan hutan tersebut.

Dalam peragaan adegan itu, terdengar bahwa perwira berpangkat Kolonel itu menanyakan keberadaan oknum TNI tersebut dan siapa yang memerintahkan.

Terpisah, Dekan Fakultas Kehutanan Universitas Tanjungpura Gusti Hardiansyah mengatakan, dengan olah TKP yang telah digelar, peran masing-masing pihak mulai tergambar dengan jelas. Demikian juga sejumlah oknum TNI dicurigai terlibat dalam aktivitas pembalakan hutan itu.

Di lokasi perambahan hutan, misalnya. Di lokasi itu, diketahui ada oknum TNI yang sudah berada di lokasi sejak 23 Juni 2020. Oknum TNI tersebut mengaku masuk ke area KHDTK melalui jalur Mandor dan mengumpulkan warga yang diduga sebagai pelaku, mengamankan senjata/parang, chainsaw, membakar pondok-pondok bersama tim binaannya.

Di samping itu, oknum TNI tersebut juga mengaku melakukan komunikasi dengan pimpinan dan seseorang bernama Endang Kusnadi. “Selama olah TKP, saya melihat langsung apa yang mereka perankan. Keberadaannya di lokasi tidak ada laporan dan koordinasi dengan tim gabungan,” kata Gusti.

Sedangkan di lokasi perempatan Sungai Kenak/Parit Kurnia, tim melakukan penyergapan terhadap pelaku illegal logging. Di lokasi itu, salah satu dari tim mempergoki oknum TNI yang berada di lokasi itu.

Terjadi percakapan antara anggota tim dengan oknum TNI tersebut. “Ini yang membuat saya heran, apa tujuan mereka berada di sana? Kalau pun ingin membantu kami (tim gabungan_Red), kenapa tidak ada koordinasi?” kata Gusti.

Sementara itu, Kepala Penerangan Kodam XII Tanjungpura Kolonel Aulia Fahmi Dalimunthe enggan berkomentar terkait pelaksaan olah TKP tersebut. Menurutnya, Kodam XII Tanjungpura hanya memfasilitasi tim Mabesad untuk melakukan investigasi dugaan keterlibatan oknum TNI dalam aktivitas pembalakan liar itu. “Kodam tidak ikut-ikutan dalam kegiatan ini,” terangnya saat dihubungi Pontianak Post, kemarin.

Sebelumnya, dugaan keterlibatan oknum TNI dalam aktivitas pembalakan liar di kawasan hutan dengan tujuan khusus (KHDTK) Universitas Tanjungpura di Sungai Kenak, Kecamatan  Segedong, Kabupaten Mempawah itu telah dilaporakan ke Detasemen Polisi Militer Kodam XII Tanjungpura pada Senin (27/7).

“Kami dari Fakultas Kehutanan Untan sudah membuat laporan secara resmi ke Denpom Kodam XII Tanjungpura,” ujar Prof Gusti Hardiansyah yang juga bagian dari tim operasi gabungan pemberantasan illegal logging, kemarin.

Dalam laporannya, Gusti menyampaikan adanya indikasi keterlibatan sejumlah oknum TNI dalam aktivitas perambahan di kawasan hutan yang dikelola oleh Fakultas Kehutanan Universitas Tanjungpura di Sungai Kenak, Kecamatan Segedong, Kabupaten Mempawah pada 23 dan 24 Mei 2020 lalu.

Menurut Gusti, indikasi keterlibatan oknum tersebut terjadi pada saat dilakukan operasi gabungan bersama TNI, Polri, Balai Gakkum LHK, Dinas Kehutanan Kalbar, dan Fakultas Kehutanan Untan di lokasi.

“Indikasi ini terungkap saat tim melaksanakan operasi gabungan di lokasi. Saat tim gabungan masuk ke lokasi, mereka (oknum TNI) diketahui berada dalam satu perahu bersama para pelaku menuju arah keluar dari lokasi,” beber Gusti.

Menurutnya, sebelum menyampaikan laporan resmi ke Detasemen Polisi Militer Kodam XII Tanjungpura, dirinya juga telah menyurati Kepala Staf Angkatan Darat (Kasad). “Laporan ini juga sudah saya sampaikan kepada Kasad, dan sudah direspon,” jelasnya.

Bahkan, lanjut Gusti, Kasad telah mengirim tim untuk menyelidiki kebenaran adanya indikasi keterlibatan oknum TNI tersebut.

Pada kesempatan itu, Gusti juga menyampaikan ucapan terima kasih kepada sejumlah pihak yang telah mendukung operasi gabungan illegal logging tersebut. Diantaranya Kepala Staf Angkatan Darat yang telah mengirimkan  tim untuk mencari kebenaran atas informasi keterlibatan oknum TNI AD dalam Illegal Logging di KHDTK Untan, Menteri LHK beserta jajarannya Dirjen Gakkum, SPORC/Gakkum LHK Kalbar, BPKH, BPHP, BKSDA, BPDAS yang telah aktif hadir bekerjasama dalam mensukseskan operasi illog, Gubernur Kalbar, Polda Kalbar dan jajaran, Pangdam XII Tanjupura dan jajaran, Rektor Universitas Tanjungpura serta berbagai instansi.

“Saat ini, biarkan proses hukum berjalan sesuai dengan  semestinya. Siapa pun yang terlibat, kami pinta untuk ditindak tegas sesuai dengan perundang-undangan yang ada,” pungkasnya. (arf)

error: Content is protected !!