Isi Sesuai Kebutuhan

zetizen

PERKEMBANGAN teknologi membawa pengaruh besar terhadap kehidupan. Terobosan yang dihasilkan dapat mempermudah kebutuhan sehari-hari dalam hampir segala aspek. Salah satunya, layanan keuangan. Di Indonesia, layanan keuangan berbasis digital atau dikenal dengan istilah e-wallet tengah menjadi primadona. Sebut saja ada OVO, DANA, Go-Pay (Go-Jek), DOKU, LinkAja, Paytren dan lainnya.

Adanya e-wallet memudahkan seseorang melakukan berbagai transaksi, tanpa menggunakan uang tunai. Hanya dengan saldo yang ada di dalam akun e-wallet, seseorang sudah bisa melakukan pembelian, baik secara online maupun offline. Keuntungan inilah yang membuat e-wallet nggak bisa dipisahkan dengan kawula muda.

Dr. Helma Malini, SE., MM, pun angkat bicara terkait fenomena e-wallet ini. E-wallet sendiri memang dirancang untuk memudahkan hidup penggunanya karena nggak perlu membawa uang bentuk fisik. Dengan bentuk virtualnya, nggak ada kekhawatiran dalam diri saat melakukan proses pembayaran.

“Kemudian, banyak tenant maupun retail yang menyambungkan e-wallet. Hal ini akan memberikan keuntungan bagi finansial seseorang,” ujarnya.

Sedangkan, kekurangannya hanya terletak pada implementasi e-wallet, khususnya penggunaan antara alat e-wallet yang satu dan lainnya. Berhubung masih dalam bentuk implementasi dan belum terintregasi antara yang satu dan lainnya, membuat beberapa masyarakat masih senang memilih membawa uang tunai.

Dosen Fakultas Ekonomi dan Bisnis (FEB) Untan ini nggak memungkiri produk e-wallet yang ditawarkan sangat banyak. Terkadang membingungkan si pengguna. Ketika memutuskan untuk memilih semua, yang terjadi bukan menguntungkan. Justru merugikan. Ada baiknya memilih produk bukan pada sifatnya pengembalian insentif atau hal-hal lainnya.

“Pilih yang memang bisa memudahkan. Dimana alatnya ada di banyak tempat dan terintegrasi pada penggunaan aplikasi lain,” tutur Helma.

Bagaimana dengan program cashback yang ada? Helma menjawab cashback ini bertindak sebagai insentif yang dibuat dari penyedia e-wallet. Bukan promosi untuk membuat orang tertarik, sehingga memilih menggunakan satu produk tertentu itu saja. Contohnya, ada satu tenant yang menyediakan cashback dalam jumlah sekian.

“Ketika seseorang mengunduh aplikasi produk dan memindahkan dana di produk e-wallet tersebut, maka program yang ada nggak akan bergulir terus-menerus,” jawabnya.

Sehingga, bukan berupa insentif agar tertarik menggunakan produk tersebut, melainkan memindahkan dana. Pada dasarnya, menurut penelitian yang dilakukan oleh Otoritas Jasa Keuangan (OJK), 40% masyarakat Indonesia sudah tertarik menggunakan e-wallet. Untuk program insentif yang ditawarkan bergantung kembali pada penyedia e-wallet.

Bagaimana mengelola e-wallet agar sesuai dengan kebutuhan? Jika nggak pandai menggunakannya, seseorang akan mudah menghabiskan dana yang ada di dalamnya. Apabila, benar-benar membutuhkan promo yang ada, langsung digunakan saat itu juga. Tetapi, jika hanya tergiur cashback usahakan untuk menahan dan nggak menggunakan dana yang ada.

Cara mudah yang dapat dilakukan adalah mengisi e-wallet pada batas minimal penggunaan kebutuhan sehari-hari. Bukan untuk tabungan. Misalkan, selama dua minggu menghabiskan uang jajan sebesar Rp200ribu. Maka, taruh lah dana di e-wallet sebesar itu. Uang tabungan tetap disimpan di bank saja.
“Jadi, e-wallet hanya bertindak sebagai uang jajan, karena menggunakannya hanya untuk menikmati insentif, cashback dan lainnya,” tutup Helma. (ghe)

Read Previous

Apresiasi Pelanggan, PLN Gelar Loyalty Customer Coffee Session

Read Next

Permudah Kucurkan Bantuan KPM dengan BPNT

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *