Jadi Orang Tak Punya

Dr. Ir. H. Feira B. Arief, M. Si.

Oleh :  Dr. Ir. H. Feira B. Arief, M. Si.     

Usaha pemerintah bahkan dunia dalam menanggulangi pendemi Covid 19 yang telah berusia setahun saat ini memasuki tahap baru dimana dicanangkan penyuntikan vaksin (baca: vaksinasi) bagi segenap warganya secara bertahap sesuai kemampuan masing-masing. Alhamdulillah penulis sudah mendapat giliran ini akhir bulan Maret lalu.

Hal menarik terlepas dari program ini dan mungkin dapat menjadi pembelajaran dalam Mutiara Ramadhan saat ini adalah di saat penulis mengikuti proses mendaftarkan diri. Saat tiba di Rumah Sakit diminta menuju meja pendaftaran dengan menyerahkan KTP. Setelah diinput data diminta bergeser ke meja tensi untuk memastikan kondisi tekanan darah sebagai salah satu sarat dalam memutuskan bisa atau tidaknya penyuntikan vaksis dilakukan. Setelah dinyatakan bisa maka diminta pindah ke meja pengisian data penerima vaksin.

Nah, bersamaan dengan proses mulai dari mendaftar sampai ke meja ini dilakukan berbarengan 2 sampai 3 pasien. Saya heran ada seorang Bapak yang biasa-biasa saja, mendaftar jauh setelah saya mendaftar di meja pertama tapi sudah masuk ke ruang penyuntikan vaksin. Setelah selesai disuntik, saat observasi sekitar 30 menit, saya tanyakan ke Beliau, “kok Bapak bisa lebih dulu, apa ada koneksi dengan petugas? Tidak jawabnya, saya cuma supir Pak”. Pikir saya seorang supir kok bisa mendahulu kita atau beberapa rekan dosen bahkan ada beberapa unsur pimpinan. Beliau jelaskan bahwa saat meja pengisian data penerima vaksin (meja ketiga) saya tidak punya apa pun yang ditanyakan petugas Pak. Baru saya ingat, di meja ini memang paling banyak pertanyaan yang perlu kita jawab calon penerima vaksin. Misalnya seingat saya mulai dari Bapak punya darah tinggi (hipertensi)? Punya riwayat sakit jantung? Ada diabetes? Pernah gejala stroke? Asma? Dan seterusnya.

Nah sampai di sinilah saya tersadar, ternyata jadi orang tak berpunya jauh lebih mudah dari kita yang berpunya. Berpunya dalam hal ini terbatas riwayat kesehatan.

Kita semua sebagai muslim tentu pernah mendengar bahwa nanti di padang masyar atau yaumil akhir kita akan menghadapi suatu hari yang disebut sebagai hari penghisaban, dari mulai umur, ilmu, harta dan jasad ( anggota badan ).

Ditanya semuanya terkait selama kita hidup di dunia. Untuk menentukan apakah akhir kita di Surga yang dirindukan atau Neraka jahannam (seburuk buruk tempat kembali), naujubillah. Salah satu hisab terberat adalah terkait harta, “Hartamu darimana kau dapat dan untuk apa kau membelanjakannya”.

Disinilah point penting judul Mutiara Ramadhan ini. Ternyata semakin banyak harta yang kita miliki semakin lama proses hisab kita karena semua satu persatu akan diperiksa.

Hadis yang diriwayatkan Tirmidzi menyatakan bahwa “tidak akan bergeser kedua kaki seorang hamba pada hari kiamat hingga ia ditanya tentang umurnya untuk apa ia habiskan, tentang ilmunya apa yang telah ia perbuat dan tentang hartanya darimana ia mendapatkannya dan untuk apa saja ia membelanjakannya dan tentang anggota badannya untuk apa saja ia gunakan”.

Hikmah pertama yang dapat kita ambil dari sekilah kisah ini adalah mari mulai dari sekarang benarkan cara kita memperoleh harta sesuai syariat Islam. Hidari semaksimalnya cara-cara yang dilarang Allah SWT.

Hikmah yang kedua yakni salurkan sebahagian harta kita kejalan yang diajarkan Allah swt dalam QS Al-Baqarah [2:261]:

“Perumpamaan orang-orang yang menafkahkan hartanya di jalan Allah serupa dengan sebutir benih yang menumbuhkan tujuh bulir, pada tiap-tiap bulir ada seratus biji. Allah melipatgandakan (ganjaran) bagi siapa saja yang Dia kehendaki. Dan Allah Mahaluas lagi Maha Mengetahui.”  Mulailah dari hal-hal kecil untuk selalu menimbang apakah ini kebutuhan atau keinginan, apakah bermanfaat untukku terutama untuk akhiratku atau tidak. Dengan begitu semoga kita bisa menjadi bagian dari orang-orang yang senantiasa membelanjakan hartanya di jalan Allah SWT.

Yang dimaksud dengan membelanjakan harta di jalan Allah tidaklah hanya tentang zakat, infak dan sodaqoh tapi juga untuk setiap hal yang kita lakukan di dunia ini yang ada sangkut pautnya dengan harta, misalnya saja harta yang digunakan untuk makan, sekolah, belanja, semua harus ada dijalan Allah.  In Syaa Allah ini akan membantu kita saat dihisab nanti terkait harta yang kita miliki di dunia ini. Wallahualam bissawab.  (*)

Penulis adalah Dosen Pertanian Untan dan Ketua Komite MIN 1 Pontianak.      

error: Content is protected !!
Hubungi Kami!