Jaga Asupan Gizi di Masa Pandemi Covid-19
Batasi Konsumsi Gula, Garam dan Lemak

Setahun sudah Hayati mengurangi konsumsi gula. Konsumsi gula yang dikuranginya itu bukan sekedar pemanis minuman, tetapi makanan yang mengandung gula. Kini terasa perubahannya, berat badan mulai turun dan rasa sakit di telapak kaki yang kerap terasa mulai hilang.

Ramses Tobing, Pontianak

Misinya sehat. Begitu yang disampaikan Hayati, ketika ia memutuskan mengurangi konsumsi gula. Satu tahun sebelumnya, kakinya kesakitan saat bangun tidur. Ia juga sering merasa kesemutan.

Kondisi itupun dikonsultasikannya ke dokter. Oleh dokter, ia disarankan diet dan mengurangi konsumsi gula. “Dari situ saya mulai perlahan mengurangi konsumsi gula,” kata Hayati di Pontianak, kemarin.

Wanita berusia 33 tahun itu mulai mengatur pola makan. Pagi hari yang biasanya makanan nasi lengkap, diganti dengan buah-buahan. Untuk siang hari, ia mengurangi porsi nasi. Sebagai gantinya ditambah protein dan serat. Makanan pun lebih dominan direbus, kukus, atau panggang ketimbang digoreng.
“Tapi asupan gizi tetap diperhatikan, ada protein, serta kebutuhan gizi lainnya,” jelas dia.

Jika dulu, ia mengandrungi minuman kemasan, cemilan hingga makanan manis. Sekarang tidak lagi. “Dulu hampir setiap hari selalu ada cemilan coklat, es krim dan makanan manis. Sekarang tidak lagi, jadi frekuensi memakannya yang dikurangi,” sambung Hayati.

Selain gula ia juga mengurangi konsumsi garam. “Makanan yang mengandung garam saya kurangi, misalnya snack-snack,” kata Hayati.

Semua itu diawalinya dari kebiasaan di rumah. Ia lebih memiliki memasak makanan sendiri ketimbang beli. Selain hemat biaya, juga bisa mengontrol konsumsi gula, garam maupun lemak.
“Jadi untuk kerja selalu bekal dari rumah. Baik untuk saya maupun suami,” ungkap Hayati.

Apa yang dilakukan Hayati, sama halnya dengan anjuran dari Kementerian Kesehatan. Anjuran konsumsi gula, garam dan lemak. Untuk gula 50 gram atau setara empat sendok makan per hari. Sedangkan garam lima gram, atau setara satu sendok teh per hari. Lalu lemak sebanyak 67 gram atau setara atau setara lima sendok makan per hari.

Manager Nutrifood Research Center, Felicia Kartawidjaja Putra, dalam Nutriclass Health and Nutrition Webinar Series for Journalists kerjasama Nutrifood dan AJI Indonesia menyebutkan konsumsi gula berlebihan faktor resiko mengalami diabetes.

Sementara diabetes adalah penyakit yang diderita seseorang karena memiliki kadar gula berlebihan atau di atas normal. Oleh karena itu, konsumsi gula, garam dan lemak harus terus dikontrol. Apalagi dalam situasi pandemi Covid-19 seperti sekarang. Erat kaitannya dengan masyarakat yang memiliki penyakit komorbid. Kelompok masyarakat ini masuk kategori rentan tertular Covid-19.

Adapun penyakit komorbid itu seperti diabetes, hipertensi dan jantung. Ketiga penyakit tak menular itu disebabkan pola hidup yang tidak sehat. Antara lain konsumsi gula, garam dan lemak berlebihan.
“Jika mengalami obesitas dan terinfeksi covid-19, kemungkinan masuk rumah sakit dan memerlukan penanganan intensif itu dua kali lipat,” terang Felicia.

“Penderita diabetes yang gula tak terkontrol rentan mengalami komplikasi, sehingga tubuh mengalami penurunan kemampuan,” tambah Felicia.

Ahli Gizi dari Poltekkes Pontianak Edy aluyo mengatakan kontrol konsumsi gula, garam dan lemak harus dimaksimalkan di masa pandemi Covid-19. Sebab konsumsi gula yang berlebihan akan membuat sistem imun tubuh lemah. Sementara batasan mengkonsumsi gula itu tidak lebih dari lima persen kebutuhan gula untuk tubuh.
“Makanya dibatasi. Apalagi memiliki riwayat penyakit komorbid,” kata Edy.

Begitu juga dengan lemak. Konsumsi yang dibatasi dan baiknya mengkonsumsi lemak tak jenuh. Misalnya untuk pemilihan daging ayam tanpa kulit untuk dikonsumsi. ”Terkecuali untuk anak-anak butuh lemak seperti itu juga. Untuk orang dewasa pilihannya adalah lemah tak jenuh,” tambah Edy.

Sama halnya dengan garam. Ia mengingatkan konsumsinya jangan berlebih. Konsumsi yang berlebihan berdampak pada orang memiliki riwayat penyakit tekanan darah tinggi.
“Sama juga untuk anak-anak. Jajanan anak-anak juga memiliki kandungan natrium yang tinggi sehingga berisiko ke depannya,” kata Edy.

Ia menambahkan asupan gizi yang seimbang harus terus diperhatikan. Apalagi dalam situasi pandemi Covid-19 seperti sekarang. Pemenuhan gizi seimbang memperkuat daya tahan tubuh.

Seperti memastikan konsumsi protein hewani dan nabati mesti tercukupi misalnya yang bersumber dari ikan, daging, tempe atau tahu. Protein juga bisa disuport dari tambahan lain seperti susu.

Kemudian asupan vitamin dan mineral juga harus terpenuhi. Sistem imun akan bekerja dengan baik jika ditopang dengan mengkonsumsi sayuran dan buah-buahan yang mengandung anti-oksidan.

Pemenuhan itu bisa juga dari buah-buahan lokal. Seperti jambu, jeruk maupun pepaya. “Kalau untuk sayur juga, tapi dalam konsumsi yang diperbanyak buah tapi komposisi sayurnya. Paling tidak dalam satu kali makan itu jika ditimbang 100-150 gram,” terang Edy. (*)

error: Content is protected !!