Jaga Jarak, Teknologi Bantu Mahasiswa Bimbingan Skripsi

Salah satu dampak dari pandemi Covid-19 di dunia pendidikan adalah bimbingan skripsi. Mahasiswa tingkat akhir harus beradaptasi dengan kebiasaan baru dalam melakukan bimbingan. Pemanfaatan perangkat komunikasi adalah salah satu solusi.

PONTIANAK – Pandemi Covid-19 membawa dampak luar biasa dalam kehidupan manusia, salah satunya di dunia pendidikan. Hingga saat ini, sekolah maupun kampus belum memungkinkan untuk belajar secara tatap muka. Manusia dituntut harus menjaga jarak dalam berinteraksi apalagi dalam suatu kumpulan. Salah satu yang kena imbas adalah bimbingan skripsi, mahasiswa tingkat akhir harus beradaptasi dengan kebiasaan baru dalam melakukan bimbingan skripsi.

Kemendikbud dalam laman resminya mengimbau pihak kampus untuk tidak mempersulit urusan mahasiswa terkait skripsi atau tugas akhir selama adanya aturan pembatasan sosial. Dihubungi melalui WhatsApp, Dr. Netty Herawaty, M.Si mengatakan bahwa adanya aturan physical distancing ini bukan sebagai alasan untuk meresahkan nasib skripsi.

“Arahan pemerintah sudah jelas tentang work from home, itu bukan berarti libur. Jadi tidak ada persoalan karena yang dibatasi itu fisik bukan interaksi sosial. Dengan teknologi, interaksi sosial tetap bisa berjalan. Contohnya, ketika membutuhkan bimbingan dosen saat malam hari atau sedang tidak berada di kampus, sekarang bisa dengan WhatsApp misalnya,” ujar Dosen FISIP Universitas Tanjungpura Pontianak ini.

Netty juga mengatakan terkait kinerja yang lebih optimal ketika berada di rumah. Jadi kegiatan bimbingan yang biasanya dilakukan di kampus, dengan segala persiapan baik dari penampilan juga kendaraan bisa dipangkas dan dikerjakan dari rumah. Bimbingan bisa melalui email juga aplikasi seperti WhatsApp. Tetapi menurutnya yang sangat perlu diperhatikan adalah soal etika komunikasi terkait bagaimana cara dan waktu menghubungi dosen tersebut.

“Banyak hikmah yang dapat diambil dari adanya wabah ini, selain pola hidup menjadi lebih bersih dengan rajin mencuci tangan misalnya, kita juga lebih mahir menggunakan teknologi media dengan maksimal. Seperti konsultasi mahasiswa saya diarahkan untuk mengirim berkas melalui email yang dimana itu menjadi back up data jika diperlukan,” tambahnya.

Senada dengan pendapat yang diutarakan oleh Netty Herawaty, Dr. Sri Syabanita Elida, SE, MM juga mendukung agar mahasiswa dapat lebih jeli membaca peluang dalam situasi ini. Dosen Politeknik Negeri Pontianak ini mengajak mahasiswa untuk terus berpikir positif dengan senantiasa memberi motivasi agar terus optimis dalam berkarya.

“Saya percaya elemen komunikasi sangat memegang peranan penting dalam tercapainya keharmonisan tim antara murid dan pembimbing agar menghasilkan karya ilmiah yang brilian dan kredibel. Untuk itu diperlukan seorang dosen yang mau mendengar dan bukan seorang dosen yang hanya mau didengar. Intinya be a good listener, motivator and coach. Jadikan murid sebagai mitra dalam berkarya, sehingga murid merasa dihargai dan diberikan ruang untuk berpendapat. Kesuksesan mahasiswa merupakan kesuksesan bagi dosen,” jelasnya.

Terkait kebijakan soal bimbingan mahasiswa, Sri memilih berbagai aplikasi seperti Cisco Webex yang nantinya berkas bimbingan dikirimkan ke email. Ia beranggapan terkait bimbingan atau study from home memang diberi kemudahan, namun tetap harus dilaksanakan secara serius. Dalam hal ini bimbingan tidak mesti pada jam kerja, tapi dapat dilakukan pada malam hari misalnya setelah shalat Maghrib atau Isya.

“Saya yakin banyak institusi dan para dosen yang menerapkan sistem dan kebijakan untuk memudahkan dan mendukung keberhasilan bagi para mahasiswa-mahasiswi untuk menyelesaikan tugas akhir dalam situasi pandemi Covid-19 ini,” tutup Sri.

Sebagai mahasiswa tingkat akhir yang sedang menjalani skripsi, Effendi harus sedikit beradaptasi dengan kondisi. Mahasiswa Akuntasi Universitas Widya Dharma Pontianak ini mengaku bahwa ia dan dosen pembimbingnya sangat berhati-hati dalam melakukan interaksi ketika bimbingan, dengan menggunakan masker misalnya.

“Pihak kampus juga cukup bijak dengan membuat kebijakan seperti adanya konsultasi dan kuliah online, walaupun ada beberapa dosen yang belum menerapkan sistem itu. Saya jadi lebih menjaga kondisi tubuh agar selalu fit dan bersemangat agar skripsi dapat segera selesai,” ungkapnya.

Adaptasi kebiasaan baru dalam menjalankan bimbingan skripsi ternyata sedikit menghambat Mega Anggraini. Mahasiswi Jurusan Administrasi Negara Politeknik Negeri Pontianak ini merasa kurang maksimal jika konsultasi dilakukan secara daring.

“Konsultasi tetap berjalan melalui WhatsApp dan email, tetapi justru itu jadi kendala ketika maksud dosen susah dipahami. Mau banyak bertanya juga tidak enak, beda ketika konsultasi tatap muka,” jelasnya.

Ditambah lagi ia butuh mengambil data ke kantor untuk penelitiannya tetapi harus terhambat karena kebijakan work from home. Namun, ia tetap memanfaatkan data atau sumber yang sudah ada dan berharap pihak kampus tetap mempermudah mahasiswanya. (mya/sya)

error: Content is protected !!