Jaga Kluster Baru dari Sekolah

Gubernur Kalimantan Barat,Sutarmidji meninjau proses simulasi proses belajar mengajar secara tatap muka di sekolah. HARYADI/PONTIANAKPOST

PONTIANAK – Gubernur Kalimantan Barat, Sutarmidji meninjau langsung simulasi proses belajar mengajar secara tatap muka di Sekolah Menengah Atas (SMA) Negeri 1 Pontianak, Kamis (3/9). Gubernur menyampaikan beberapa catatan kepada pihak sekolah agar menjadi perhatian.

Sutarmidji didampingi Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kalbar, Kepala SMAN 1 Pontianak, serta para pejabat lainnya melihat satu per satu kelas yang menjalani kegiatan belajar mengajar. Selain bercengkerama dengan para pelajar, orang nomor satu di Kalbar itu bahkan sempat mengajarkan cara berhitung cepat.

“Guru masih harus lebih peduli, tadi kan (kemarin) ada beberapa (pelajar) yang tidak masuk, harusnya duduknya diatur kembali. Kemudian nanti jarak (bangku antarpelajar) harus dipastikan. Tapi rata-rata di sini sudah bagus,” ungkapnya usai melakukan peninjauan.

Yang menurutnya baik adalah setiap pembelajaran yang dilaksanakan di masing-masing kelas disiarkan langsung melalui instagram. Dengan demikian para pelajar yang tidak mengikuti proses belajar mengajar di sekolah bisa tetap mengikuti dari rumah.

“Tapi yang paling penting saya minta, pihak sekolah menginformasikan ke orang tua, yang masuk (sekolah) siapa saja, kemudian ketika pulang disampaikan lagi (ke orang tua) bahwa siswa sudah pulang,” pesannya.

Harapannya anak-anak sekolah tidak berkeliaran di luar rumah stelah jam pulang sekolah. Untuk menertibkan hal ini, pihaknya akan mengerahkan Satuan Polisi Pamong Praja (Satpol-PP) memantau di lapangan.

Mengenai kebijakan selanjutnya, Midji mengatakan dalam dua minggu ke depan masih akan dievaluasi terlebih dahulu. Jika tidak ada hal yang menghambat bisa saja jam pembelajaran mulai ditambah. Setelah itu dievaluasi lagi dengan pemeriksaan uji cepat untuk pelajar dan uji usap untuk para guru. “Mungkin kelas XI kami minta masuk, sehingga diatur,” ucapnya.

Sementara mata pelajaran yang diajarkan juga hanya untuk persiapan menghadapi tes masuk perguruan tinggi atau mata pelajaran yang diujiannasionalkan. “Saya benar-benar jaga jangan ada di pendidikan ini menjadi kluster baru, kalau ada satu saja yang reaktif maka saya hentikan sementara sampai tidak ada lagi yang reaktif. Jadi guru harus disiplin, murid juga harus disiplin,” pungkasnya.

Dalam kesempatan yang sama gubernur sekaligus menyerahkan bantuan masker kain beragam warna untuk pihak sekolah. Masker tersebut kemudian akan dibagikan kepada seluruh pelajar. Minimal ada lima masker dengan lima warna berbeda.

Sehingga dalam proses belajar mengajar secara tatap muka di sekolah, dalam lima hari, setiap siswa menggunakan masker yang berbeda warna. Ini dilakukan untuk memastikan pelajar selalu mengganti masker yang sudah digunakan.

Kepala SMAN 1 Pontianak, Dwi Agustina menjelaskan, simulasi belajar mengajar secara tatap muka di sekolah yang dimulai pada Senin (1/9) sampai kemarin berjalan lancar. Pelajar yang ke sekolah juga diselang satu hari, dibagi dua sesuai absen ganjil genap. Selain itu pelajar yang diizinkan oleh orang tua untuk belajar ke skolah juga hanya 62 persen dari total 423 pelajar kelas XII.

“Jadi lainnya mengikuti kegitaan pembelajaran melalui live instagram. Kami memilih instagram karena instagram familiar dengan anak-anak SMA, kemudian kami melihat beberapa hal yang menguntungkan yaitu dia bisa ditonton ulang,” paparnya.

Mengenai target semua pelajar bisa kembali masuk sekolah, pihaknya tentu menunggu arahan dari Disdikbud serta Dinkes Kalbar. Paling tidak setelah simulasi selesai karena bakal menjadi contoh untuk sekolah-sekolah lainnya. “Dalam simulasi ini berlangsung satu pelajaran satu jam dan ada enam mata pelajaran yang diperlukan siswa dan satu tambahan (mapel) agama,” tutupnya.

Kepala Disdikbud Kalbar, Sugeng menambahkan, untuk simulai tingkat SMA satu-satunya memang baru dilaksankan di SMAN 1 Pontianak. Jika simulasi lancar rencananya pada 9 September 2020 akan dibuka proses belajar mengajar tatap muka di sekolah lebih luas lagi. Namun yang pasti harus tetap memperhatikan protokol kesehatan dan menjalankannya secara disiplin.

“Kami utamakan kelas XII, sebanyak 50 persen di dalam kelas dan sekolah wajib menyiapkan prasarana protokol Covid-19. Mulai dari alat pengukur suhu, tempat cuci tangan dan sabun atau penyanitasi tangan serta bangku yang berjarak,” pungkasnya.

Anggota DPRD Kota Pontianak, Mujiono mendukung pembelajaran tatap muka di masa pandemi Covid-19. DPRD Kota Pontianak sudah melakukan rapat kerja dengan Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kota Pontianak terkait dengan rencana dibuka kembali belajar tatap muka di sekolah.

“Pada prinsipnya kami (DPRD) sepakat dengan kebijakan Pemkot Pontianak. Jika perlu dilakukan tatap muka maka syarat utamanya adalah penerapan protokol kesehatan,” kata Mujiono di Pontianak, kemarin.

Penerapan protokol kesehatan itu antara lain wajib menggunakan masker. Sekolah harus menyediakan tempat cuci tangan, serta mengatur jarak duduk siswa. Bahkan bisa saja dengan melakukan pemeriksaan swab atau tes usap sebelum melakukan belajar tatap muka. Hal ini dilakukan agar tidak menjadi pemicu muncul klaster baru dalam pandemi Covid-19.

“Jadi dampaknya panjang. Tentu kami ingin dibuka kembali dengan mengedepankan protokol kesehatan,” imbuh Mujiono. (mse/bar)

error: Content is protected !!