Jajal Akses Sungai Sampai ke Perbatasan jadi Sahabat

BERTUGAS : Kepala BKKBN Kalbar Kusmana semasa bertugas diwilayah pedalaman Kalimantan Barat menggunakan kendaraan roda dua. MIRZA/PONTIANAKPOST

Penyebar Program Banggakencana Pamit Dari Kalbar

Ditempatkan di Kalimantan Barat sebagai Kepala Perwakilan BKKBN tiga tahun lalu, yang ada di kepala Ayah Uung adalah hutan belantara dan akses daerah yang sulit dijangkau. Seiring waktu, hutan dan akses sulit menjadi teman. Bagaimana pengalaman beliau mensosialisasikan Banggakencana semasa bertugas di Kalbar?

MIRZA AHMAD MUIN, Pontianak

TIGA tahun empat bulan. Masa yang cukup lama bagi seorang Kepala Perwakilan Badan Kependudukan dan Keluarga Berencana Nasional (BKKBN) ditempatkan disatu provinsi.  Pengalaman itu dirasakan Kusmana.

Sejak 14 Februari lalu, Ayah Uung sapaan karibnya telah mengakhiri masa jabatan sebagai Kepala BKKBN Perwakilan Kalbar. Ia mendapat tugas lebih besar. Yaitu menjadi Kepala Perwakilan BKKBN di Provinsi Jawa Barat. Jumlah penduduk yang tujuh kali lipat lebih banyak dari penduduk Kalbar jadi tantangan tersendiri.

Namun persoalan kependudukan dan masalah keluarga di Kalbar juga tak kalah pelik. Akses yang sulit dijangkau, mesti bolak balik ke wilayah batas negara, menerabas hutan belantara sampai menelusuri sungai dan riam berarus deras, merupakan pengalaman tak terlupa selama ia bertugas di Kalbar.

“Pertama kali saya ditugaskan di Kalbar, langsung terlintas Kalimantan kawasan hutan belantara. Pasti akan banyak tantangan ketika bertugas di sana,” kenang Kusmana.

Kata Kusmana semasa bertugas di Kalbar, 14 kabupaten/kota telah dijajal. Bahkan dibeberapa daerah terpencil, terluar, terdalam dan tertinggal sudah didatangi. Begitu banyak persoalan di wilayah ini yang mesti dituntaskan.

Program Kampung, KB kata dia, menjadi penerang buat menuntaskan berbagai persoalan yang ada. Di Kampung KB, ia mencoba menyatukan nada dengan lintas sektor agar semua persoalan yang ada dapat tertangani bersama.

Ditanya pengalaman dan kenangan yang tak terlupa kala bertugas di Kalbar, salah satunya ketika turun langsung ke Kampung KB Desa Riam Tapang, di pedalaman Kapuas Hulu.

Kunjungan kerja ke Riam Tapang dilaluinya menggunakan perahu. Sebelum menggunakan perahu, ia mesti melalui jalan darat dengan kendaraan roda empat. Kemudian berjalan kaki melintasi hutan untuk menuju lokasi tempat perahu bertambat.

Menyusuri riam-riam deras menggunakan perahu kecil dengan pemandangan kiri kanan hutan belantara dikatakan Ayah Uung, baru pertama kali bagi dirinya. Apalagi perjalanannnya memakan waktu hingga 5 jam. “Saat itu juga ada Direktur Lini Lapangan BKKBN pusat. Pak Hampray (sekarang sudah purnatugas),” katanya.

Lelah sudah pasti. Apalagi kata dia saat menyusuri sungai, perahu sempat kandas. Lalu beberapa orang turun buat mendorong perahu itu. Tantangan tak sampai disitu. Karena di depan sungai terdapat batu besar di tengah sungai. Perahu pun tak bisa lewat dan harus diangkat beramai-ramai. Setelah itu barulah perjalanan dilanjutkan kembali. Satu jam perjalanan perahu-perahu ini terhenti di kaki bukit. Di atas bukit itulah Desa Riam Tapang berada.

“Saat naik dari sungai ternyata kendaraan kami sudah ada di atas. Ayah kaget loh, kok mobil sudah di sini? Tanya ayah ke pak wakil bupati, Pak Antonius. Beliau melirik ke anggota forkopimda, saat itu yang ikut pak Kajari dan pak Dandim, langsung kompak tertawa sambil menjawab sengaja diajak jalur ini supaya tahu bahwa beginilah menjangkau Kampung KB awal,” kenangnya.

Dari Kampung KB akhirnya dukungan lintas sektoral dilakukan. Riam Tapang yang dulunya hanya bisa diakses melalui sungai, kini sudah bisa dilalui darat. Perjalanan masyarakat Riam Tapang ketika ke Kapuas Hulu pun tidak lagi memakan waktu berjam-jam.

Pengalaman bertugas di wilayah pedalaman yang begitu melelahkan itu bukan membuatnya makin ciut. Malah menjadi pelecut semangat untuk menemui keluarga Kalbar yang ada di pelosok, dengan niat memberikan dukungan dan semangat bahwa pelayanan Banggakencana  (Pembangunan Keluarga, Kependudukan dan Keluarga Berencana) bisa hadir disemua wilayah Kalbar.

Pengalaman yang tak terlupa ketika berada di Kalbar salah satunya kebersamaannya dengan awak media. Menurutnya ada banyak saran ide dan masukan dari kawan-kawan media yang tergabung dalam Ikatan Penulis Keluarga Berencana (IPKB). “Saking akrabnya, mereka memanggil saya ayah. Ini merupakan bagian penting dan bagi saya Kalbar sangat menyenangkan,” ungkapnya.

Ia memandang peran media massa begitu penting. Media menjadi pilar pembangunan. Dengan bersinergi dengan media, informasi programnya juga tersampaikan pada masyarakat. Tak lupa keceriaan anak-anak GenRe Kalbar yang selalu kreatif dan inovatif. Berawal dari kondisi soal ASFR (15-19) pada 2012 yang tinggi.

“104 dari 1000 wanita pernah melahirkan membuat anak GenRe semangat untuk berbagi. Alhamdulillah sekarang bisa ditekan menjadi 63 dari 1000 wanita. Itu data 2017,” katanya.(*)

error: Content is protected !!