Jakarta Lima Tahun Gelar Formula E

JAKARTA,– Kepastian apakah Jakarta jadi tuan rumah balap Formula E terjawab sudah. Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan memastikan bahwa balapan dengan mobil listrik itu bisa dilihat langsung di kawasan Monumen Nasional (Monas) pada 2020. Setelah diresmikan jadi host city, Jakarta punya waktu 9 bulan untuk berbenah.

Anies sengaja menggelar press conference di Monas, Jumat (20/9). Dia membawa pesan bahwa kawasan itu nantinya diubah menjadi lintasan balap sekitar 3 km. Memanfaatkan jalanan yang membentang dari Jalan Merdeka Selatan maupun Jalan Merdeka Utara. Melewati Balai Kota, kementerian, hingga Istana Presiden.

Saat pertemuan di Balai Kota bersama Direktur Operasional Formula E Manolo Ortiz Tallo, Kamis (19/9), Anies Baswedan bercerita banyak persiapan menuju musim 2020/2021. Termasuk, dasar dipilihnya Formula E daripada kompetisi lain seperti Formula 1 maupun MotoGP.

’’Untuk mendorong transformasi lingkungan hidup di Jakarta. Mobil atau motor sudah memberikan efek luar biasa ke udara kita,’’ ujar Anies. Formula E akan menjadi bagian penting dari kampanye kendaraan ramah lingkungan. Selain itu, Formula E juga lebih hemat biaya karena memanfaatkan jalanan kota.

Nah, tim teknis Formula E sebenarnya sudah melihat beberapa tempat di Jakarta. Namun, Monas dinilai paling oke. Sebab, jalanan yang mengitari Monas sudah lebar. Kualitas aspal juga sudah bagus, tinggal diperbaiki sedikit. Begitu juga dengan beberapa area yang masih menggunakan conblock.

’’Pesan mereka (pihak Formula E), seminim mungkin mengganggu lalu lintas. Seminim mungkin melakukan perubahan. Mereka ingin seperti apa adanya,’’ imbuh mantan menteri pendidikan itu.

Investasi paling besar, kemungkinan besar ada pada pembelian road safety barrier. Menariknya, dia bilang kalau berbagai investasi yang dikeluarkan nanti tidak sekali pakai. Sebab, Jakarta punya kesempatan untuk menyelenggarakan balap selama lima musim. Dimulai pada musim 2020/2021.

’’Lebih baik seperti ini, jadi investasi nggak habis sekali pakai. Seperti road safety barrier yang kalau dipakai sekali jadi mahal,’’ tandasnya. Untuk diketahui, selain menyiapkan berbagai investasi yang angkanya belum diungkap, DKI Jakarta juga harus membayar commitment fee sebesar 22 juta poundsterling atau sekitar Rp 389 miliar. Semuanya dari APBD DKI.

Bagi Anies, berbicara biaya penyelenggaraan tidak boleh tanpa ada perbandingan dengan event internasional lain. Menurutnya, apa yang dikeluarkan untuk Formula E lebih murah dibanding MotoGP,

Formula 1, maupun Asian Games. Informasi yang didapat Jawa Pos, commitment fee tersebut nilainya masih lebih murah dari pembangunan velodrome yang digunakan untuk balap sepeda Asian Games.

Selain itu, Anies juga melihat ada potensi pendapatan sampai Rp 1,2 triliun dari penyelenggaraan Formula E. Hitungan efek ekonomi itu memang bukan dari timnya. Melainkan oleh tim yang ditunjuk Formula E. Meski demikian, dia optimistis. Sebab, angka yang diberikan masih konservatif.

’’Efek ekonomi yang paling cepat adalah pariwisata. Perkiraannya, selama event akan pergerakan ekonomi Rp 1,2 triliun,’’ tegasnya.
Lantas, bagaimana dengan fakta bahwa tuan rumah Formula E tidak pernah untung? Direktur Operasional Formula E Manolo Ortiz Tallo tak menampik informasi itu. Namun, dia bilang masih wajar. Sebab, Formula E baru berjalan pada musim 2014/2015.
Dia juga bilang kalau Moto GP awalnya dulu merugi. Strategi yang digunakan Formula E juga banyak yang mirip, seperti menggratiskan siaran TV. ’’Saat ini masih gratis, tapi nanti akan kami kenakan biaya. Balapan ini masih baru. Prospek ke depan masih bagus,’’ kata Manolo.
Sampai kapan merugi? Dia tidak bisa menjawab. Sedangkan untuk biaya yang dikeluarkan DKI Jakarta, dia memastikan sebagian besar tetap berada di Jakarta. Sebab, digunakan untuk membayar beberapa hal terkait balapan yang berasal dari konten lokal. ’’70 persen tetap di Jakarta. Tidak ke London,’’ akunya.
Lebih lanjut dia menjelaskan, dari tahun ke tahun, Formula E makin menarik dan memberikan kontribusi terhadap teknologi kendaraan hijau. Dia lantas mencontohkan pada musim pertama, kendaraan perlu dua baterai untuk menyelesaikan balapan. Sekarang, teknologi berkembang dan cukup satu baterai.
Manolo juga mengklaim makin bagusnya Formula E bisa dilihat dari manufaktur yang ikut balapan. Tahun depan, saat digelar di Jakarta, ada 9 manufaktur. ’’Formula E menjadi acuan untuk perkembangan teknologi mobil listrik. Itulah kenapa, mereka bertanding bukan hanya untuk menang dan kalah,’’ jelasnya.(dim)

Read Previous

Kami Sudah Tak Berdaya

Read Next

Warga Kesulitan Air Bersih

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *