Jambu Kristal Sebagai Alternatif Konservasi Bekas Tambang Bauksit

Neng Devi

Oleh: Neng Devi

BUKIT Sato merupakan bukit yang terletak di Desa Subah, KecamatanTayan Hilir Kabupaten Sanggau dengan ketinggian 800 mdpl, dengan luas 58 hektare. Bukit Sato sendiri terletak di areal KPH Kabupaten Sanggau.

Namun dengan adanya kebutuhan pemerintah untuk pembangunan daerah, oleh sebab itu adanya kegiatan manajemen pertambangan bauksit di Bukit Sato. Dimana 30 hektare keadaan Bukit Sato sendiri mengalami proses degredasi hutan, akibat penambangan bauksit. Yang mana Bukit Sato tidak jauh dari area Danau Laet yang merupakan tempat para warga Dusun Subah mencari atau menangkap ikan.

Pada dasarnya masuknya pertambangan bauksit di Bukit Sato dikarenakan ada beberapa oknum masyarakat yang diam-diam menyerahkan tanah adat mereka ke pertambangan bauksit. Penambangan bauksit ini berlangsung sekitaran1-5 tahun di Bukit Sato Dusun Subah, KecamatatanTayan Hilir, Kabupaten Sanggau yang kira-kira sudah menghasilkan miliaran rupiah dari hasil penggerukan tanah di Bukit Sato tersebut.

Dampak dengan masyarakat yang dihasilkan oleh penambangan bauksit ini, kurang baik atau kurang menguntungkan, karena mengakibatkan pencemaran pada air sungai dan danau di sekitaran Bukit Sato tersebut. Kini danau sudah berubah jadi tanah merah. Sejumlah titik dijadikan kanal yang terisi dengan air bekas pencucian limbah bauksit.

Menurut informasi yang didapat dari warga Dusun Subah (Toni, 2020) menyatakan bahwa Bukit Sato, tempat sumber air itu, sejak 2011 masuk ke wilayah konsesi kebun sawit. Makin menyedihkan, pada 2012, bukit yang juga merupakan tanah pemakaman leluhur warga itu dimasukkan ke wilayah izin usaha pertambangan. Air di sungai kerap tercemar oleh limbah bauksit dari usaha pertambangan.

Terlebih bila hujan deras, banyaknya limbah yang terbawa masuk ke sungai sampai mematikan ikan yang ada di karamba warga. Karena itu, kisah warga Dusun Subah ibarat petani yang tidak dapat menuai panen. Selama ini hidup bersahabat dengan alam, tetapi kini mereka terancam tidak dapat menikmati hasil karena pihak luar.

Secaraturun-temurun, warga Dusun Subah memang hidup dengan aturan lahan yang cukup ketat. Ada pembagian antara lahan untuk bercocok tanam dan hutan yang kini mereka terancam tidak dapat menikmati hasil karena pihakluar.

Perlunya dilakukan konsevasi limbah bekas pertambangan di Bukit Sato ini, agar dapat memperbaiki sifat fisik tanah serta kualitas air yang telah tercemar. Pada tahun 2020 CSR PT. Antam unit Tayan Hilir memberikan bantuan berupa bibit jambu kristal sebanyak 5.000 pohon bibit jambu Kristal dengan jarak tanam 6 x 8 meter. Dimana CSR PT. Antam bekerja sama dengan Camat Tayan Hilir beserta Pokdarwis Desa Subah, serta masyarakat Dusun Subah yang ikut serta melakukan konsevasi atau penanaman jambu kristal bersama di Bukit Sato.

Jambu Kristal merupakan varietas yang tergolong banyak peminatnya dengan harga yang lumayan membuat prospek budidaya jambu kristal sangat bagus sebagai usaha pertanian atau perkebunan serta alternative konservasi. Kenapa hanya jambu kristal yang ditanam di Bukit Sato? Belajar dari pengalamaan di Jawa menggingat waktu tanam jambu kristal hingga berbuah hanya memerlukan waktu yang berkisar 8 bulan sampai 1,5 tahun berpoduksi, dengan harapan penanaman jambu kristal di Bukit Sato, Desa Subah, Kecamtan Tayan Hilir, Kabuten Sanggau dapat berprospek dalam mengembalikan atau memurnikan air yang sudah tercemar oleh limbah pertambangan bauksit tersebut (Harry, 2016).

Konservasi tanah merupakan serangkaian strategi pengaturan untuk mencegah erosi tanah dari permukaan bumi atau terjadi perubahan secara kimiawi atau biologi akibat penggunaan yang berlebihan, salinisasi, pengasaman, atau akibat kontaminasi lainnya. Jika tanah dan air mengalami kerusakan, maka tidak akan memberikan manfaat yang dapat menopang kehidupan. Oleh karena itu, dibutuhkan upaya konservasi tanah dan air untuk menjaga kualitas tanah dan air agar dapat digunakan secara berkelanjutan.

Adapun tujuan untuk konservasi air sendiri adalah untuk menjamin tersedianya air untuk generasi mendatang, penghematan air baik dari segi pengambilan dan pengolahan, konservasi habitat, yaitu pemanfaatan air oleh manusia harus dikelola dengan baik agar persediaan sumber air bersih untuk habitat liar dan penerimaan migrasi aliran air.

Menurut Pusat Konsevasi Kebun Raya Lokasi Kebun Raya Danau Laet, yang terletak di Desa Subah, Kecamatan Tayan Hilir, Kabupaten Sanggau, Provinsi Kalimantan Barat, yang menempati lahan seluas 328 hektare menjadi sebuah kebun raya di sekitar kawasan danau yang mengkonservasi keanekaragaman tumbuhan dari kawasan equator. Melalui tema koleksi tumbuhan kawasan equator, keberadaannya nanti diharapkan secara otomatis dapat menjadikannya sebagai kawasan konservasi air, mengingat Danau Laet yang merupakan sumber air penting bagi masyarakat hilir, termasuk masyarakat Kota Pontianak saat ini tengah terancam akibat maraknya pencemaran air danau terutama dari limbah bahan beracun dan berbahaya (B3).

Belajar dari pengalaman di Jawa bahwa konservasi jambu kristal sudah dapat dikatakan berhasil dalam prospek konservasi tanah. Menggingat perbedaan jenis tanah antara Jawa dan Kalimantan berbeda, diharapkan tindakan konservasi tanah dan air yang dilakukan dengan alternative penanaman jambu kristal di Bukit Sato, Desa Subah, KecamatanTayan Hilir, Kabupaten Sanggau dapat memberikan banyak harapan untuk tindakan memperbaiki kualitas dan kuantitas tanah dan air yang telah tercemar oleh limbah pertambangan bauksit.**

*Penulis, Mahasiswa Program Magister Kehutanan, Fakultas Kehutanan Universitas Tanjungpura.

error: Content is protected !!