Jeda Hujan Berlanjut

Sumber : Stasiun Klimatologi Kalimantan Barat

Puting Beliung Masih Mungkin Terjadi

PONTIANAK – Jeda hujan di wilayah Kalimantan Barat (Kalbar) diprakirakan masih berlanjut hingga akhir bulan Agustus 2019. Kepala Stasiun Klimatologi Mempawah, Syafrinal, menyampaikan, jeda hujan masih terjadi pada awal dasarian III (tanggal 21-30) Agustus 2019.

“Secara umum curah hujan di wilayah Kalbar pada dasarian III (tanggal 21-30) Agustus 2019 diprakirakan berkisar antara 40-100 mm/dasarian, dimana curah hujan Kalimantan Barat wilayah hulu diprakirakan yang lebih tinggi dibanding curah hujan di wilayah pesisir,” ungkap dia, Selasa (20/8).

Menurutnya, jeda hujan masih terjadi pada awal dasarian, namun terdapat potensi terjadinya hujan pada akhir dasarian III Agustus 2019. Dia memaparkan, curah hujan di wilayah Kalimantan Barat pada dasarian II (tanggal 11-20) Agustus 2019 didominasi hujan kategori Rendah dengan sifat hujan didominasi kategori Bawah Normal

“Monitoring hari tanpa hujan di Kalbar terpantau secara umum berada dalam kategori panjang (21-30 hari) hingga kategori sangat panjang (31-60 hari). Hari tanpa hujan terpanjang terjadi di Kabupaten Ketapang, tepatnya di Jelai Hulu sepanjang 61 hari,” papar dia.

Sedangkan, dari sisi kualitas udara, pada dasarian II bulan Agustus, tercatat maksimum sebesar 257.14 µg/m3 dengan kategori Sangat Tidak Sehat terjadi pada tanggal 11 Agustus 2019 pukul 09.00 WIB.

Sementara itu, Kepala Seksi Data dan Informasi BMKG Stasiun Meteorologi Supadio Pontianak, Sutikno, menuturkan, berdasarkan pemodelan potensi hujan menunjukkan hingga beberapa hari ke depan masih berpotensi hujan di wilayah Kalbar. Ia menjelaskan, wilayah Kalbar bagian timur yang mencangkup Kapuas Hulu, Sintang, dan Melawi, sudah beberapa kali turun hujan, sehingga potensi kebakaran hutan dan lahan sudah dalam kategori rendah di sana. Sementara wilayah yang masih cukup banyak terjadi kebakaran lahan, yakni di Kabupaten Ketapang dan Kubu Raya.

“Untuk wilayah sekitar Singkawang, Mempawah, dan Sambas yang belum hujan hingga saat ini diprakirakan potensi hujannya mulai tanggal 21 Agustus 2019 nanti,” kata dia.

Sementari itu, disinggung soal potensi terjadinya bencana puting beliung, dia menyatakan, hal tersebut masih mungkin terjadi. Hanya saja diakuinya, sulit untuk diprediksikan waktu dan lokasi yang berpotensi terjadinya bencana alam tersebut. Pembentukan puting beliung, dijelaskannya, terjadi karena adanya proses konvektif atau gaya angkat ke atas, dan pemanasan yang kuat, sehingga terbentuklah awan cumulonimbus yang besar dan menjulang tinggi.

“Beberapa wilayah Kalimantan Barat saat ini belum hujan, pemanasannya juga kuat, sehingga masih berpotensi terjadi puting beliung tersebut. Wilayah yang berpotensi puting beliung diprakirakan pada wilayah yang berpotensi hujan sedang-lebat,” pungkas dia. (sti)

Read Previous

Lulusan Kedokteran Universitas Malahayati Masuk Jajaran Terbaik Nasional

Read Next

XL Axiata Matangkan Persiapan Layanan 5G

Tinggalkan Balasan

Most Popular