Jejak Kepahlawanan Muhammadiyah

OLEH: H. Nilwani HAMID, M.Pd

Bagi warga dan simpatisan Muhammadiyah bulan November memiliki makna tersendiri karena dalam bulan ini Muhammadiyah melewati 2 momentum bersejarah pertama hari pahlawan yang jatuh pada tanggal 10 dengan segala hal ihwal cerita kepahlawanannya. Lengkap biasanya dengan dinamika sosial yang berkembang sejak 1945 hingga era milenial sekarang.

Kedua seluruh warga Muhammadiyah memperingati milad (HUT) setiap tanggal 18 November (miladiyyah) tahun ini ormas keagamaan yang didirikan Kyai Haji Ahmad Dahlan itu telah menapaki usia seratus delapan tahun. Seabad lebih yang mengisyaratkan kematangan dalam kehidupan bermasyarakat berbangsa dan bernegara.

Dua momentum besar itu sudah pasti tidak terlepas dari catatan sejarah yang kerap diidentikkan dengan cerita masa lalu yang membosankan. Tapi nanti dulu justru tanpa pemahaman yang benar atas sejarah gerak masa depan akan tidak terarah ibarat seorang sopir selain fokus melihat kedepan pasti tak bisa menghindari kaca spion tengah yang menggambarkan sikon di belakang.

Bung Karno pernah mengingatkan dengan akronim yang gampang diingat “JASMERAH” jangan sekali-kali melupakan sejarah! dan ini yang kadang memprihatinkan, catatan sejarah kerap memiliki banyak versi-versi yang mengemuka lazimnya dari kacamata penguasa yang bertahta dalam konteks itu sejarah bukan lagi history tetapi his Story.

Sebab itu catatan sekecil apapun layak dituliskan. Kali ini kita ingin membedah ulang bagaimana kontribusi perserikatan terhadap bangsa ini dari tokoh-tokohnya yang sudah menoreh tinta emas dalam perjalanan kebangsaan dan kenegaraan.

Bukan bermaksud membanggakan diri meski sah saja tetapi sekedar untuk mengingatkan memori dan memberikan pandangan visioner ke depan apalagi sejarah tidak jarang diputar balikkan. Kalau tidak malah dihilangkan.

Ketua umum PP Muhammadiyah Profesor Haidar Nasir mengatakan masih banyak yang tak mengerti bagaimana sebenarnya kuatnya pertalian organisasi Muhammadiyah dengan sejarah pergerakan Indonesia banyak contoh bagaimana Muhammadiyah melahirkan pejuang kemerdekaan ungkap Haidar.

Sebagai contoh kata Haidar, sejumlah pendiri bangsa yang sebenarnya kader Muhammadiyah tulen namun belum banyak di ketahui misalnya tentang Presiden RI pertama Soekarno yang merupakan salah satu murid pendiri Muhammadiyah Kyai Haji Ahmad Dahlan di masa silam kerap bolak-balik ke Surabaya menyambangi kos milik Cokroaminoto di tempat itu Ahmad Dahlan mengajar Soekarno dan anak muda pergerakan lainnya seperti Agus Salim juga Semaun sampai akhirnya Soekarno resmi menjadi kader Muhammadiyah di tahun 1930 bahkan Soekarno setelah itu menjadi pengurus majelis pendidikan dasar dan menengah milik Muhammadiyah ditempat pembuangannya di Bengkulu.

Soekarno pun lantas beristrikan Fatmawati yang merupakan puteri tokoh Muhammadiyah Bengkulu (Hasan Din), “kadang orang Muhammadiyah juga tidak tahu Sejarah Muhammadiyah dengan Soekarno” demikian kata Haidar.

Begitu juga Djuanda Kartawijaya yang melahirkan Deklarasi Djuanda juga merupakan kader Muhammadiyah. “Jadi betapa erat sebenarnya pertalian Muhammadiyah dengan pergerakan nasional, hanya kurangnya Muhammadiyah tak suka gembar-gembor, tak suka bicara bahkan tak suka ber slogan NKRI harga mati”.

Haidar menegaskan meski tak suka gembar gembor tentang NKRI, namun Muhammadiyah sangat mencintai NKRI. “Meskipun bentuk cinta Muhammadiyah pada NKRI itu tidak selalu memanjakan, tetapi juga meluruskan(jika ada yang dinilai salah arah)”.

Sayangnya kata Haedar, seringkali sikap kritis Muhammadiyah dianggap sebagai bentuk sikap anti pemerintah dan kekuasaan.”Kritisnya Muhammadiyah itu bentuk cinta kepada bangsa,agar tak salah arah.

Peran tokoh Muhammadiyah memiliki andil cukup besar dalam mendirikan Negara Republik Indonesia salah satu di antaranya yakni peran Kyai Haji Ahmad Dahlan dan Siti walidah Ahmad Dahlan kedua tokoh ini telah bergerak dalam mencerdaskan dan memajukan bangsa dan ditetapkan sebagai pahlawan nasional sementara Srikandi Aisyiyah, Hayyinah dan Munjiyah menjadi pelopor dan pemrakarsa bersama pergerakan perempuan lainnya untuk lahirnya kongres perempuan pertama tahun 1928
Kyai Mas Mansur menjadi tokoh empat serangkai bersama Soekarno Muhammad Hatta dan Ki Hajar Dewantoro dalam usaha Persiapan Kemerdekaan Indonesia.

Ki Bagus Hadikusumo didukung Abdul Kahar Muzzakir dan Kasman Singodimedjo menjadi penentu konsensus nasional penetapan Undang-Undang Dasar 1945 tanggal 18 Agustus 1945 sebagai konstitusi dasar sekaligus di didalamnya penetapan Pancasila sebagai dasar negara.

Dalam melakukan perjuangan kemerdekaan dan mempertahankan kemerdekaan kontribusi Muhammadiyah terbesar melalui Jendral Soedirman adalah perang gerilya dan melahirkan serta menjadi bapak Tentara Nasional Indonesia(TNI) yang tiada duanya gerakan cinta tanah air ini bermodalkan spirit Hizbul Wathan dan kepanduan tanah air yang dirintis tahun 1918 dimana Soedirman menjadi Pandu utamanya.

Bersamaan dengan perang gerilya aksi mempertahankan Indonesia dari serbuan kembali Belanda di DI Yogyakarta dan Jawa Tengah para tokoh Muhammadiyah menggerakkan aksi Angkatan Perang Sabil ( APS ) yang merupakan perlawanan umat Islam yang luar biasa militan demi mempertahankan bangsa dan tanah air
Peran tokoh Muhammadiyah Ir.Haji Djuanda juga sangat penting dalam menentukan dan menyatukan seluruh kepulauan Indonesia melalui Deklarasi Djuanda 1957 yang menjadi Pangkal tolak perjuangan Indonesia di PBB untuk menyatukan lautan dan daratan dalam satu kepulauan Indonesia yang utuh. Perjuangan tersebut berhasil tahun 1982 dengan diakuinya kesatuan laut dan daratan kepulauan Indonesia oleh PBB dalam hukum laut internasional.

Selain itu keberadaan Kementerian Agama juga merupakan gagasan tokoh Muhammadiyah dari Jawa Tengah Kyai Haji Abu Dardiri setelah itu Menteri Agama RI pertama ialah HM Rasyidi yang dikenal ilmuwan sekaligus ulama lulusan sorbonne berasal dari Kotagede Yogyakarta.

Sementara Abdul Kahar Muzakir yang menjadi anggota panitia Piagam Jakarta sebelumnya sewaktu di Al Azhar Kairo berjuang melakukan diplomasi di Timur Tengah sebelum yang lainnya.

Presiden berikutnya Soeharto juga merupakan anak didik sekolah Muhammadiyah kedua presiden Indonesia itu dengan segala kelebihan dan kekurangannya sangat berjasa bagi perjalanan sejarah dan pembangunan bangsa. Muhammadiyah terus berkiprah dan memberi kontribusi besar bagi pencerdasan dan pemajuan bangsa melalui usaha usahanya di bidang pendidikan, pembaruan pemahaman keagamaan, kesehatan, pelayanan sosial pemberdayaan masyarakat, pendidikan politik kebangsaan dan gerakan dakwah lainnya.

Dari rahim Muhammadiyah pula hadir tokoh Amien Rais sebagai tokoh reformasi, Syafii Maarif tokoh pluralitas kemanusiaan, serta Din Syamsuddin tokoh lintas agama di tingkat nasional sampai internasional. Semua berkontribusi bagi pencerahan dan kemajuan bangsa.

Berikut tokoh Muhammadiyah yang ditetapkan sebagai pahlawan nasional oleh pemerintah Republik Indonesia.

Kyai Haji Ahmad Dahlan pendiri Muhammadiyah ditetapkan 1961, Siti Walidah pendiri Aisyiyah ditetapkan 1971, Jendral Sudirman ditetapkan 1964, Ir. Djuanda ditetapkan 1963, Kyai Haji Fachrudin ditetapkan tahun 1964, Kyai Haji Mas Mansyur ditetapkan 1964, Ibu Fatmawati Soekarno ditetapkan tahun 2000, Ir. Soekarno ditetapkan 2012, Buya Hamka ditetapkan 2011, Gatot Mangkupraja ditetapkan 2004, Nani Wartabone ditetapkan 2003, Ki Bagus Hadikusuma ditetapkan 2015, Mr.Kasman Singodimedjo ditetapkan 2018, AR Baswedan ditetapkan 2018, Abdul Kahar Muzakir ditetapkan 2019.

Biduk kebangsaan dan kenegarawanan itu akan terus mengarungi lautan dengan gelombang problematika nasional dan internasional yang makin besar. Muhammadiyah sebagai salah satu tenda besar yang menempa kader-kader umat dan bangsa akan terus memberikan kontribusi terbaiknya untuk perjalanan yang panjang itu. Pendek kata sejarah telah menyaksikan dari rahim Muhammadiyah telah lahir warisan anak-anak bangsa yang tidak bisa dihapus begitu saja oleh tangan-tangan kekuasaan. siapapun penguasa itu!

Menurut Prof.Thohir Luth guru besar Univ Brawijaya,bagi Muhammadiyah kepahlawanan tidak hanya identik dengan rasa patriotik dan cinta tanah air,tetapi juga mengandung nilai-nilai keagamaan.Sehingga bagi ummat Islam, pengorbanan terhadap negara bukan hanya karena nasionalisme semata,namun juga ada nilai ibadah di dalamnya. Selamat hari Pahlawan 2020. **

*) Penulis Wk.Ketua PW Muhammadiyah Kalbar

error: Content is protected !!