Jelang CGM, Kedatangan dari Luar Negeri Meningkat

Petugas dari KKP memeriksa penumpang dengan thermal gun dan memberikan kartu kewaspadaan kesehatan di Bandara Internasional Supadio pada setiap penumpang yang tiba. foto Idil  

Penumpang Bandara Diperiksa Ketat

PONTIANAK – Bandara Internasional Supadio  bersama otoritas terkait menjalankan prosedur antisipasi penyebaran virus corona (2019-nCoV). Para penumpang, terutama yang datang dari luar negeri harus melalui serangkaian pemeriksaan secara ketat.

General Manager Bandara Supadio, Eri Braliantoro mengatakan untuk mengantisipasi wabah corona, pihaknya memang selalu berkoordinasi dengan pihak-pihak terkait, terutama Kantor Kesehatan Pelabuhan (KKP). Kewaspadaan di bandara ditingkatkan karena menjadi salah satu pintu masuk ke Kalbar.

“Kami sudah mendapat arahan dari kantor pusat PT Angkasa Pura untuk selalu siaga dan berkoordinasi dengan stakeholder yang ada di Bandara Supadio,” kata Eri, Kamis (6/2).

Menjelang puncak perayaan Cap Go Meh 2020, suasana di Bandara Internasional Supadio mulai ramai. Setiap hari, kurang lebih ada 300 penumpang dari luar negeri masuk ke Kalbar lewat Bandara Supadio.

Pantauan Pontianak Post, Kamis (6/2) sekitar pukul 10.00, misalnya, ratusan wisatawan baru saja sampai di terminal kedatangan. Mereka langsung dijemput oleh bus-bus pariwisata yang menunggu.

Rombongan yang datang terdiri atas berbagai kalangan usia. Mulai dari anak-anak, remaja, dewasa, hingga orang tua. Masing-masing dari mereka mengenakan masker sebagai antisipasi mewabahnya virus corona yang sampai saat ini masih menjadi perhatian dunia.

Pihak bandara bersama otoritas terkait sejak beberapa waktu lalu memang sudah memperketat prosedur pemeriksaan penumpang. Terutama untuk mereka yang datang dari luar negeri. Pontianak Post berkesempatan melihat langsung proses pemeriksaan sekaligus mendapat penjelasan soal penanganan ketika ditemukan penumpang dengan gejala terpapar virus corona ini.

Usai turun dari pesawat, sebelum menuju loket pemeriksaan paspor oleh Imigrasi, para penumpang harus melewati pemeriksaan kesehatan terlebih dahulu. Alatnya disebut thermal scanner atau pemindai suhu. Selain itu, mereka juga wajib memegang kartu kewaspadaan kesehatan (Health Alert Card) yang berwarna kuning.

Saat itu ada empat petugas dari Kantor Kesehatan Pelabuhan (KKP) yang menunggu tak jauh dari depan loket imigrasi. Masing-masing petugas yang mengenakan rompi kuning itu memegang thermal gun. Alat yang bentuknya seperti pemindai barcode itu digunakan untuk pemeriksaan singkat suhu tubuh. Sinar infra red yang dipancarkan dari thermal gun diarahkan ke kening para penumpang secara bergantian.

Tak hanya itu, Bandara Supadio juga dilengkapi dengan thermal scanner camera. Thermal scanner ini memiliki kamera yang digunakan untuk mengecek suhu di seluruh bagian tubuh. Cara kerja thermal scanner camera seperti kamera biasa namun sensitif terhadap panas. Rekaman dari kamera ini muncul di layar video. Objek yang lebih panas akan terlihat lebih terang. Dari sana bisa diketahui apakah penumpang yang datang mengalami demam atau tidak.

Dari pantaun Pontianak Post, tidak ditemukan satu pun penumpang yang suhu tubuhnya melebihi batas normal dan perlu penanganan lanjutan. Meski demikian, Dokter KKP Bandara Supadio, Andy Gunawan Pasaribu sempat mengajak melihat-lihat ruang kesehatan untuk pemeriksaan awal. Ada dua ruangan yang disiapkan.

Menurutnya, jika ditemukan penumpang mengalami gejala batuk, pilek, sesak napas atau demam dengan suhu tubuh lebih dari 38 derajat celcius maka akan langsung diperiksa. Apabila si penumpang itu diduga terpapar virus corona maka ruangan tersebut sekaligus bisa menjadi ruang isolasi. Caranya dengan mengubah tekanan negatif ruangan dengan alat HEPA.

HEPA merupakan singkatan dari High-Efficiency Particle Filters atau penyaringan partikel yang kuat. Sistem kerja HEPA adalah menyaring serta membuat sirkulasi ulang dari ruangan dan mencampurkannya dengan udara bersih.

Setelah diisolasi di bandara, selanjutnya penumpang yang diduga terpapar virus corona itu akan dirujuk ke rumah sakit penanganan. Untuk di Kota Pontianak, rujukannya yakni RSUD Soedarso. Mengingat penyakit tersebut berpotensi wabah, pasien tidak dibawa begitu saja ke rumah sakit. Ada prosedur khusus yang harus dilalui. Pasien akan dimasukkan ke mobile isolation chamber atau kapsul isolasi sebelum dibawa dengan ambulans.

Kapsul itu menyerupai tandu yang dilengkapi dengan penutup sebagai ruang isolasi sementara. “Jadi penumpang (pasien) sama sekali tidak akan keluar dari ruang isolasi, sampai ke RS rujukan,” pungkasnya.

Kadis Kesehatan Kalimantan Barat, Harisson menambahkan, saat pasien yang terduga mengidap virus corona sampai ke rumah sakit rujukan, yang bersangkutan dimasukkan dalam kriteria pasien dalam pengawasan. Pasien akan dirawat di ruang isolasi. Di Kalbar ada tiga rumah sakit rujukan yakni RSUD Soedarso Pontianak, Abdul Aziz Singkawang dan Ade Muhammad Djoen Sintang.

“Saat pasien diisolasi, dinkes akan mengirim spesimen cairan di tenggorokannya untuk dikirim ke Jakarta, diteliti di Balitbangkes Kemenkes,” ungkap Harisson. Untuk setiap pasien, ada dua spesimen yang akan dikirimkan, yaitu spesimen di hari pertama dan hari kedua rawatan. Kemudian setelah diperiksa, Balitbangkes akan memberikan jawaban apakah pasien tersebut negatif atau positif virus corona.

“Kalau dia negatif, menunjukkan penyembuhan maka boleh pulang dan aman. Kalau positif, dilakukan proses selanjutnya dalam rangka mengobati pasien sampai sembuh,” ujarnya.

Dalam kesempatan yang sama, Kepala Seksi PKC IV, Kantor Bea Cukai Pontianak, Bagus Endro Wibowo menjelaskan mengenai prosedur di bandara selanjutnya, setelah penumpang dinyatakan aman oleh KKP. “Ketika mereka (penumpang) sudah clear dari teman-teman KKP akan diteruskan pada Imigrasi dan Bea Cukai,” katanya.

Dari data Bea Cukai, setiap hari kurang lebih 300 penumpang dari luar negeri yang diperiksa di Bandara Supadio, berikut bagasinya. Petugas Bea Cukai yang memeriksa barang penumpang juga  bekerja sama dengan pihak Karantian Pertanian. “Sasarannya jika ada barang produk kaleng atau produk lainnya yang perlu dilakukan pencegahan. Sementara prosedurnya masih seperti biasa,” terangnya.

Khusus untuk impor, sejauh ini dari Bandara Supadio memang tidak ada barang impor yang masuk. “Dan yang sekarang lagi dilarang Pak Presiden masalah pangan. Yang jelas sampai sekarang tidak ada impor produk pangan lewat Pontianak,” ucapnya. (bar)

 

 

error: Content is protected !!
Hubungi Kami!