Jemaah Menangis Haru saat Qunut Nazilah Dibacakan

Ribuan jemaah Masjid Al-Akbar tetap melaksanakan shalat jumat dengan diberikan masker dan jarak antara jemaah, kemarin, Jumat (20/3/2020).FOTO:Dipta Wahyu/Jawa Pos

Kisah Dua Masjid Nasional di Tengah Kewaspadaan terhadap Covid-19

Baik di Istiqlal yang menggelar salat Duhur berjemaah maupun di Al Akbar yang menghelat salat Jumat, qunut  nazilah dibacakan. Protokol pencegahan persebaran virus corona juga dijalankan.  

WAHYU Z. BUSTOMI, Surabaya, BAYU P.-TAUFIQURRAHMAN, Jakarta

DENGAN suara serak menahan tangis, imam Masjid Istiqlal Husni Ismail memimpin pembacaan qunut nazilah. Diikuti sekitar seratus jemaah di ruang utama salah satu bangunan ikon Jakarta tersebut.

Persisnya pada rakaat terakhir salat Duhur kemarin siang (20/3). ”Allahummadfa’ ’annal ghalaa’ wal balaa’  wal wabaa’ wal wabaa’ wal wabaa’ wal fakhsyaa’ wal munkar,” baca sang imam, diikuti para makmum.

Qunut nazilah adalah doa yang dianjurkan mayoritas ulama untuk dibaca ketika terjadi wabah penyakit yang besar di sebuah wilayah. Dalam konteks sekarang tentunya Covid-19.

Jumat lalu merupakan kali pertama sejak Istiqlal berdiri 42 tahun silam salat Jumat ditiadakan dan diganti salat Duhur berjemaah. Sebagaimana yang telah lebih dahulu dilakukan sejumlah negara di Timur Tengah, meski tidak seekstrem kebijakan di kawasan tersebut. Langkah tersebut merupakan dampak dari meluasnya Covid-19 di tanah air.

Majelis Ulama Indonesia telah mengizinkan untuk tidak mengadakan salat Jumat dan menggantinya dengan salat Duhur. Khususnya di daerah yang memiliki potensi penularan Covid-19 tinggi seperti Jakarta.

Alhasil, Masjid Istiqlal pun nyaris kosong kemarin. Hanya ada seratusan jemaah yang tetap hadir.

Sebelum iqamah, pengurus masjid memberikan wejangan singkat tentang alasan peniadaan salat Jumat dan menggantinya dengan salat Duhur. Saat salat hendak dimulai, Husni meminta para jemaah melonggarkan saf. Itu sangat kontras dengan kebiasaan salat jemaah, yakni imam selalu meminta merapatkan saf.

Salat Duhur berjemaah di Masjid Istiqlal kemarin hanya menghasilkan 10 saf dengan posisi jemaah yang lebih renggang. Hanya sepertiga dari lebar saf di ruang utama yang dimanfaatkan dan diberi pembatas.

Selebihnya, masjid tersebut kosong. Tidak seperti Jumat biasanya saat puluhan ribu jemaah bisa berkumpul bersama di masjid nasional itu.

Ada pula jemaah yang memilih salat sendirian di balkon lantai 2 sisi selatan ruang utama. Yang sangat mungkin menjadi spot favoritnya bila tidak kebagian tempat di lantai 1.

Karpet masjid juga sudah digulung beberapa waktu lalu menjelang penyemprotan disinfektan. Rencananya peniadaan salat Jumat dilakukan lagi pekan depan.

Husni menuturkan, pembacaan qunut nazilah sudah dilakukan beberapa waktu belakangan. Tidak hanya saat salat Subuh, tetapi juga setiap salat fardu.

’’Yang diharapkan dengan qunut nazilah itu supaya Allah  menjauhkan dari bencana, dari wabah yang sedang merebak saat ini,’’ terangnya.

Qunut nazilah dibaca setelah bangkit dari rukuk di rakaat terakhir salat fardu. Itu adalah ikhtiar spiritual umat Islam yang oleh para ulama diimbau untuk dilakukan di semua masjid.

Berbeda dengan Istiqlal, salat Jumat tetap dihelat di Masjid Al Akbar Surabaya kemarin. Hanya berbeda dengan biasanya, ada penerapan protokol terkait kewaspadaan terhadap virus corona penyebab penyakit Covid-19.

Semua yang hadir harus menjalani pemeriksaan suhu terlebih dahulu. Selain itu, mereka wajib mengenakan masker oranye.

Sepuluh ribu masker dari Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Jatim pun habis dibagikan ke jemaah. Saat salat dimulai, antarjemaah juga diberi jarak sekitar 70 sentimeter. Dan, seperti juga di Istiqlal, ada bacaan qunut nazilah. Mengingat, dua wilayah di Jawa Timur sudah masuk zona merah Covid-19.

”Ini bentuk upaya batin kami dalam hadapi corona,” kata Humas Masjid Al Akbar Surabaya Helmy M. Noor.

Kemarin, jika saat dicek suhu tubuhnya di atas 38 derajat Celsius, jemaah yang bersangkutan akan diperiksa dokter yang berjaga. Pihak pengurus masjid nasional tersebut juga mengantisipasi dengan tiga ambulans.

Dari total 45 pintu masuk menuju area dalam masjid, khusus kemarin hanya tiga pintu utama yang dibuka: utara, selatan, dan timur. Karena yang Jumatan kemarin ribuan, antrean panjang pun terjadi di tiga akses menuju dalam masjid itu.

”Wajar, ini juga demi SOP (standard operating procedure),” kata Helmy.

Helmy menambahkan, setelah salat Jumat, pihaknya langsung melakukan sterilisasi. Dengan cara menyemprotkan puluhan liter disinfektan. Sejak seminggu lalu pengurus masjid juga menarik dan mensterilkan total 1.225 sajadah.

Karena sterilisasi itu, beberapa kegiatan yang sudah terjadwal harus ditiadakan. Salah satunya dialog setelah salat Jumat. Bahkan, untuk mempersingkat waktu salat, imam sengaja memilih surat pendek dalam bacaan salatnya.

Masduki, salah seorang jemaah, mengaku sangat terharu selama mengikuti salat Jumat kemarin. Dan, dia tak sendirian seperti itu.

Air mata sejumlah jemaah tak terbendung saat imam membaca qunut nazilah. Tak terkecuali Helmy.

”Saya hanya berharap pagebluk (bencana) ini bisa segera berakhir dan semuanya pulih kembali,” ucap Masduki kemarin. (*/c10/ttg)

Read Previous

Pemkot Sterilisasi Fasum

Read Next

Covid-19 Kian Parah, Pemda se-Kalbar Harus Segera Ubah APBD

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *