Jumlah OTG Meningkat

PENINJAUAN: Bupati Sintang Jarot Winarno meninjau tempat karantina OTG di Mess Diklat BKPSDM Sintang bersama Kepala Dinkes Sintang, Harysinto Linoh dan Kepala Dinas Perkim Sintang, Zulkarnaen, kemarin. ISTIMEWA

SINTANG – Orang Tanpa Gejala (OTG) yang mendapat hasil reaktif dari rapid test kian bertambah. Bupati Sintang Jarot Winarno memaparkan, untuk saat ini OTG yang sedang menjalani isolasi mandiri di tempat karantina yang sudah disiapkan oleh Pemkab Sintang di mess diklat sebanyak 19 orang, terdiri atas 8 perempuan dan 11 laki-laki.

Ya kita jaga-jaga siapkan lebihlah kamar. Siang ini bertambah 6 kamar lagi, besok bisa bertambah 6 lagi, jadi akan bertambah 12 kamar yang ada sekarang,” ungkap Jarot.

Orang nomor satu di Senentang ini pun berujar, pihaknya terus melakukan penyelidikan epidemiologi untuk memastikan kontak pasien OTG ini dengan pendertia Covid-19.

“Kalau dia kontak erat dengan Covid-19 dari hasil penelusuran, kemudian hasil rapid test reaktif, kita isolasikan disini (Mess Diklat BKPSDM Sintang). Kemudian yang tak bisa diisolasi mandiri di rumah, karena reaktif itu bisa isolasi mandiri dirumah, asal dia mampu disiplin. kalau kita tak yakin dia bisa disiplin kita isolasikan disini.  Kita isolasilah semuanya selama dua minggu sambil menunggu hasil swab tenggorokan,” terang Jarot.

Sementara, Kepala Dinas Perkim Sintang, Zulkarnain mengatakan pihaknya saat ini sedang menyiapkan 24 kamar yang nantinya akan digunakan untuk isolasi mandiri Covid-19 dengan ukuran kamar 3×3 meter karena satu kamar itu harus di tempati satu orang saja. Sementara kata Zul, kamar tersedia saat ini yang memang mess diklat BKPSDM ada 10 kamar saja. Untuk itulah pihaknya di minta Bupati menyiapkan kembali penambahan kamar tersebut.

“Dari 24 kamar, enam sudah jadi, masih 18 kamar yang kita kerjakan lagi, mudah-mudahan rabu ini kita bisa menyelesaikan 24 kamar yang di targetkan,” kata Zul.

Zulkarnain mengungkapkan yang menjadi kendala pihaknya yakni susah mencari tukang untuk mengerjakan penambahan kamar tersebut. Hal itu di sebabkan stigma negatif terhadap pasien Covid-19 di lingkungan masyarakat.

“Karena banyak tukang menghindar ketika kita tawarkan untuk mengerjakan ini, ada yang masih berani itulah yang kita pergunakan ada 4 orang, cuman kita juga masih mencari, minimal 10 oranglah agar target kita ini cepat selesai,” keluhnya. (fds)

 

error: Content is protected !!