Kabur ke Hutan, Residivis 5 TKP Tewas Didor

residivis
TERSANGKA: Salah satu tersangka digendong karena tak bisa berjalan. Satu diantaranya ditembak. SUGENG/PONTIANAKPOST

SANGGAU – Seorang residivis kejahatan di Kabupaten Sanggau atas nama Reno ditembak mati kepolisian karena berupaya melarikan diri usai ditangkap.

Pelaku sempat melarikan diri ke hutan dalam keadaan tertembak dan baru diketemukan pada pagi harinya oleh anggota yang merangsek masuk ke hutan.

Kejadian tersebut dibenarkan oleh Kapolres Sanggau, AKBP Imam Riyadi pada Selasa (24/9). Untuk tersangka Reno, terpaksa dilakukan tembakan peringatan yang terukur dan terarah karena melarikan diri.

“Ada lima tindak pidana yang diungkap terkait Reno, sehingga pada saat pengembangan pengungkapan yang lain, yang bersangkutan melarikan diri dan kita lakukan tembakan peringatan yang melumpuhkan, terukur dan terarah. Pada saat itu, pelaku lari ke hutan dan paginya baru ditemukan (dalam keadaan meninggal dunia) karena diduga kehabisan darah,” ungkap dia.

Dari pengungkapan 22 kasus, polisi menyita sejumlah barang sebagai bukti kejahatan diantaranya laptop, mesin gerinda, handphone, mesin cuci, baju dan celana. Sementara itu, hasil penjualan barang hasil kejahatan diantaranya berupa emas, cincin baccan dan baju hasil penjualan barang hasil kejahatan berupa uang.

Kepada masyarakat yang menjadi korban pencurian, Kapolres mempersilahkan untuk datang ke Polres Sanggau.

“Silahkan masyarakat Sanggau yang mengalami korban pencurian bisa hadir di Polres Sanggau untuk memastikan apakah barang-barang hasil curian yang kita sita tersebut betul barang-barang milik masyarakat yang menjadi korban,” jelasnya.

Selain itu, selama Operasi Panah digelar 7–24 September 2019, Polres Sanggau dan jajaran juga tetap konsisten dan komitmen untuk pengungkap kasus kejahatan di wilayah perbatasan. Ada tiga kasus yang berhasil diungkap yaitu penyelundupan barang-barang kosmetik asal Malaysia, gula ilegal dan kasus gaharu buaya.

“Barang-barang kosmetik asal Malaysia ini masuk ke Indonesia secara ilegal. Barang-barang ini masuk melalui jalur tikus,” katanya.

Untuk Gaharu Buaya, lanjut dia, hendak dibawa ke Pontianak melalui jalur perbatasan Sanggau dan Sintang. Ada sejumlah dokumen yang diperiksa dan terindikasi ada permainan salah satunya dengan mengubah unsur-unsur di dalamnya termasuk penggantian-penggantian tanggal dan lain sebagainya.

“Barang diduga hasil kejahatan ini sebanyak tiga truk yang semuanya bermuatan kayu gaharu buaya dan pemiliknya berinisial LR. Asal barang ini dari daerah Ketungau, Serawai dan sekitarnya di wilayah Kabupaten Sintang,” ujar dia.

“Termasuk untuk gula, pemiliknya Iw, ada 11 karung kemasan 50 kg merek asal Thailand. Dalam kasus ini kita juga mengamankan produk makanan lainnya seperti sosis sebanyak 5 kotak. Kasus-kasus ini masih kita dalami, seperti kasus gaharu kita juga akan meminta keterangan ahli,” tegasnya. (sgg)

loading...