Kami Sudah Tak Berdaya

DAMPAK ASAP: Seorang pasien berdampak kabut asap menggunakan alat bantuan pernapasan saat mendapatkan perawatan di RSUD Soedarso Pontianak, Jumat (20/9). HARYADI/PONTIANAKPOST

Warga Kalimantan Barat sudah tak berdaya. Kabut pekat belum juga berakhir. Sejak pukul 10.00-13.00, pantauan alat kualitas udara konsentrasi particulate matter (PM10) sudah tembus nilai ambang batas. Udara Pontianak masuk kategori berbahaya. Hampir satu bulan, warga di Kalimantan Barat menghirup asap akibat kebakaran hutan dan lahan.

Bahaya kualitas udara Pontianak, Kalimantan Barat diukur dari nilai 0-50 (baik), 50-150 (sedang), 150-250 (tidak sehat), 250-350 (sangat tidak sehat) dan berbahaya 350 ke atas.

Berdasarkan data BMKG bahwa konsentrasi particulate matter (PM10) pukul 10.00, kualitas udara tembus 402,59. Selanjutnya pukul 11.00 masuk 456,59, pukul 12.00 masuk 497,26 dan pukul 13.00 sudah tembus angka 502,25.

Sutikno, Prakirawan Badan Meteorologi, Klimatologi dan Geofisika (BMKG) Supadio Pontianak menyebutkan bahwa bahwa kualitas udara dianalisis berdasarkan pantauan alat kualitas udara particulate matter (PM10) di Stasiun Klimatologi Mempawah pada 20 September 2019 dilakukan pada pukul 00.00 hingga pukul 23.55. Konsentrasi PM10 tertinggi sebesar 502.25 µg/m3 terjadi pada pukul 13.00. Itu artinya kualitas udara masuk dalam kategori berbahaya.

Bahaya kualitas udara Pontianak pada siang hari, juga berimbas pada jumlah hotspot yang terus mengalami perubahan. Jumlahnya terkadang naik, tiba-tiba turun. Sebelumnya menyentuh angka 572 bertambah menjadi 872 hotspot, sekarang (kemarin) menjadi 1.431 hotspot. “Sebarannya merata pada 13 kabupaten/kota di Kalimantan Barat. Hanya Pontianak yang tak terdeteksi hotspot,” ujarnya.

Olahan data Badan Meteorologi, Klimatologi dan Geofisika Supadio Pontianak dari peta sebaran hotspot dari olahan data Lapan menggunakan sensor Modis pada satelit Terra dan Aqua memberikan gambaran lokasi wilayah yang mengalami sebaran hotspot dari 19 September pukul 07.00 sampai dengan 20 September pukul 07.00.

Wilayah penyumbang hotspot terbanyak tetap kembali dipegang Kabupaten Ketapang. Kabupaten penghasil ale-ale dan kerupuk amplang ini terdeteksi menyumbang 1061 hostpot. Sementara Kabupaten Kayong Utara terdeteksi sebanyak 128 hotspot, disusul Kabupaten Melawi terpapar sebanyak 64 titik api dan, Kabupaten Kubu Raya dekat Bandar Supadio Pontianak terpapar sebanyak 54 hotspot.

Sementara itu, pelayanan kesehatan di RSUD Soedarso, Pontianak berjalan normal. Ada yang rawat jalan, sebagian lagi rawat inap. Hilir mudik masyarakat yang berobat, pekerja rumah sakit hingga keluarga pasien terlihat seperti biasanya di setiap lorong rumah sakit.

Kepala Bidang Pengendalian RSUD Sudarso, Diah Kusuma Wardhani mengatakan, ada peningkatan pelayanan kesehatan seiring berjalannya bencana kabut asap. Peningkatan itu khusus pasien rawat jalan.
“Biasanya rata-rata kunjungan pasien rawat jalan itu 300 orang per hari. Sekarang menjadi 350 orang per hari. Hal ini juga sama terjadi di IGD. Namun kasusnya dan umur pengunjung tetap bervariatif,” kata Diah saat dihubungi Pontianak Post, siang kemarin.

Diah mengakui kondisi ini juga berdampak pada keluarga pasien. “Mereka lebih banyak di luar ruangan sehingga lebih banyak juga terpapar asap,” kata Dian.

Meski demikian pihak rumah sakit tetap mengingatkan untuk selalu menggunakan masker, terutama saat berada di luar ruangan. Untuk di dalam ruangan pihaknya memastikan selalu tertutup. “Sebenarnya pemakaian masker yang tepat pada saat di luar ruangan,” sambung Diah.

Manajemen rumah sakit plat merah itu juga sesegera mungkin membagikan masker baik itu kepada pasien rawat inap atau rawat jalan beserta keluarganya. “Kami sedang berkoordinasi dengan Dinkes Kalbar untuk kebutuhan masker. Saat ini persediaan masker kami di RSUD minim,” kata dia
Selain masker, manajemen rumah sakit juga menyediakan ruang oksigen. Diah mengatakan ruangan instalasi gawat darurat (IGD) disulap menjadi ruang oksigen dan bisa memberikan pelayanan maksimal 24 jam.

Sementara itu terkait dengan penyakit ISPA, Diah melanjutkan belum menunjukkan peningkatan yang signifikan untuk pasien rawat jalan maupun rawat ini. Penanganan yang dilakukan di rumah sakit, ketika pasien penderita ISPA tidak bisa ditangani di puskesmas atau rumah sakit di kabupaten/kota.

Pihak rumah sakit mencatat sejak tanggal 1 hingga 19 September 2019 pasien yang menderita penyakit ISPA ada empat orang. Kemudian tiga orang menderia asma dan tidak ada penderita pnemoni. Untuk lama menginap rata-rata tiga hari.

“Jadi yang biasa dirujuk ke kami itu lebih mengarah ke pnemoni karena adanya infeksi,” kata Diah.
Untuk rawat jalan, penderita ISPS tercatat sebanyak 12 orang. Penderita asma 14 orang dan dua orang menderita pnemoni. Lalu pasien di IGD, dari tanggal 1 hingga 19 September 2019 ada lima orang menderita ISPA, penderita asma tujuh orang dan satu penderita pnemoni.

Dari golongan umur, rata-rata penderita itu berusia 1 hingga 14 tahun. “Rata-rata untuk penderita pnemoni itu bayi dan anak-anak, tetapi sekarang dirawat saat ini pasien berusia lanjut. Ada dua pasien di usia lanjut yang menderita pnemoni,” terang Diah.

Diah mengingatkan masyarakat tetap mengurangi aktivitas di luar rumah dalam kondisi seperti sekarang. Terutama anak-anak dan yang berusia lanjut rentan terserang penyakit akibat memburuknya kualitas udara yang disebabkan kebakaran hutan dan layanan.

Meski demikian jika lebih banyak beraktivitas di luar rumah karena pekerjaan, Diah menyarankan banyak minum air putih serta mengkonsumsi vitamin dan buah-buah. “Paling utama itu banyak minum air putih. Jangan malas dan paksakan diri untuk memperbanya minum,” pesan Diah. (den/mse)

Read Previous

Ahli Keuangan yang Senang ke Lapangan

Read Next

Jakarta Lima Tahun Gelar Formula E

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *