Kampanye Anti-Money Politics lewat Film Pendek Berjudul ‘Kampanye Dino Iki’ 

INSAN KREATIF: Penulis cerita Andrie Sukiswoko (pertama dari kanan) dan kru pemain film pendek Kampanye Dino Iki setelah nobar dalam acara deklarasi damai Bawaslu di Hotel Majapahit, Jumat (25/9). Umar Wirahadi/Jawa Pos

Diproduksi atas Inisiatif Bawaslu, Sarat Pesan Politik untuk Tim Sukses

Selain sarana hiburan, film juga menjadi media pembawa pesan yang efektif kepada publik. Bawaslu Kota Surabaya berinisiatif memproduksi film untuk sosialisasi Pilwali Surabaya. Khususnya kampanye kepatuhan menjalankan protokol kesehatan hingga larangan keras melakukan money politics.

UMAR WIRAHADI, Surabaya

SI Bos langsung murka  begitu mengetahui survei yang menunjukkan elektabilitasnya tetap jeblok. Masih kalah di bawah calon wali kota yang lain. Dia kesal bukan main. Dia kontan memerintah sekretaris pribadinya yang cantik nan seksi untuk mengumpulkan tim sukses. Di depan dua anggota tim suksesnya, Si Bos langsung meluapkan emosinya. ”Lihat hasil survei ini. Dari segala penjuru kita kalah,” ucap Si Bos dengan nada tinggi sambil menggebrak meja di depannya.

Raut mukanya tegang. Si Bos terus memelototi dua anggota tim suksesnya. Dia berpikir keras bagaimana agar elektabilitasnya bisa menyalip para pesaingnya. Si Bos yang juga seorang pengusaha itu lantas meminta sekretaris pribadinya masuk ke ruangan sambil membawa sekoper uang. ”Sekarang hitung. Ada berapa orang yang bisa kita beli,’’ ujarnya sambil memperlihatkan tumpukan uang di dalam koper.

Begitu melihat tumpukan uang, respons tim sukses ternyata di luar dugaan. Darky Gimbal, nama seorang anggota tim sukses, langsung menimpali bahwa politik uang dilarang keras. Itu diketahuinya setelah dirinya berkonsultasi langsung dengan petugas Bawaslu. ”Aku baru dari Bawaslu, Bos. Politik uang itu melanggar aturan. Itu nggak boleh, Bos,” ujar Cak Gimbal.

Darto Gimbal, timses yang lain, awalnya tergiur melihat tumpukan uang. Namun, dia juga cepat-cepat sadar dan mengikuti saran Darky Gimbal. Panggilan ”Gimbal” di nama dua anggota timses itu disesuaikan dengan rambut mereka yang dibiarkan panjang dan gimbal. Keduanya pun cukup berhasil membujuk bosnya agar tidak sampai melakukan politik uang untuk membeli suara pemilih.

Itu adalah salah satu cuplikan adegan dalam film berjudul Kampanye Dino Iki. Film pendek berdurasi 21 menit tersebut diproduksi khusus sebagai sosialiasi menjelang Pilwali Surabaya 2020.

Tujuannya, para paslon berikut tim sukses dan partai politik (parpol) pendukung menghindari cara-cara terlarang dalam menghadapi kontestasi pilwali. Termasuk di antaranya money politics. Film pendek itu diproduksi atas inisiatif Bawaslu Kota Surabaya.

Banyak pesan yang disampaikan dalam film itu. Selain larangan politik uang, timses maupun tim pendukung paslon harus membaca aturan sebelum bertindak. Norma apa saja yang dilarang dan diperbolehkan saat masa kampanye misalnya. Salah satunya teknis pemasangan alat peraga kampanye (APK). Biasanya, KPU dan Bawaslu akan menetapkan titik mana saja yang diperbolehkan untuk dipasangi APK paslon. Termasuk wilayah atau kawasan yang harus steril dari APK.

Soal pemasangan APK juga termasuk dalam adegan di film Kampanye Dino Iki. Sampai-sampai Darky Gimbal dan Darto Gimbal sebagai tim sukses terlibat adu mulut dengan petugas Bawaslu dan masyarakat sekitar. Keduanya dituding salah dalam memasang APK. Namun setelah dicek dalam aturan KPU, pemasangan APK yang dilakukan duo ”Gimbal” ternyata tidak menyalahi aturan.

”Pesannya bahwa seorang tim sukses juga harus membaca aturan. Itu sangat penting agar tidak ngawur,” tutur penulis naskah cerita Andrie Sukiswoko.

Bersama Rumah Production yang dikelolanya, Andrie Sukiswoko memang kerap terlibat dalam proyek-proyek perfilman. Khususnya pembuatan naskah. Nah dalam film Kampanye Dino Iki, Andrie terlibat langsung sejak awal. Mulai penulisan naskah, perekrutan pemeran, hingga penentuan lokasi syuting. Mereka mulai melakukan syuting pada 15 September lalu. ”Kami berupaya bagaimana agar pesan ini sampai ke masyarakat,” ujarnya.

Sutradara film tersebut adalah Dwi Turbinawan. Untuk menghasilkan film yang sesuai dengan tema, pihaknya harus melakukan survei kecil-kecilan. Misalnya, mewawancarai sejumlah orang yang terlibat langsung sebagai tim sukses paslon di kehidupan nyata. Baik timses yang mendukung pasangan calon wali kota dan calon wakil wali kota Eri Cahyadi-Armudji maupun yang mendukung duet paslon Machfud Arifin dan Mujiaman. ”Sejumlah tim sukses itu kami ajak ngobrol-ngobrol. Misalnya, bagaimana keseharian mereka dalam mendukung calonnya,” tutur Dwi.

Selain menggaet dukungan masyarakat, para anggota timses juga ikut memasang APK. Itu menjadi bahan bagi Dwi dalam menggarap film tersebut.

Selain itu, dia harus putar-putar Kota Surabaya sebelum menentukan lokasi syuting. Akhirnya, syuting diputuskan dilakukan di wilayah Tenggilis Mejoyo dan sekitar Rungkut. Tujuannya lebih dekat dengan kantor Bawaslu Kota Surabaya. Total ada sembilan lokasi syuting yang dipilih. ”Saya survei lokasi (syuting, Red) sampai tiga hari. Akhirnya, kami untuk mengeksplorasi daerah Tenggilis dan Rungkut saja,” tuturnya.

Selama penggarapan film, tutur dia, banyak suka dukanya. Sebab, hampir semua pemain adalah figur dadakan. Total ada 19 orang pemeran. Ada yang pengusaha warkop hingga pekerja bangunan. Tentu ada beberapa pemain perempuan yang sudah cukup terlatih dalam seni peran. ”Selebihnya, pemeran lain harus banyak berlatih menghafal dialog maupun melatih gestur,” tutur Dwi Turbinawan.(*)

error: Content is protected !!