Karena Pandemi, Gelar Lomba Secara Virtual

Pemenang: Tiga anak yang menjadi juara dalam kategori lomba berceloteh untuk TK. Ramses L Tobing/Pontianak Post

Peringatan Bulan Bahasa

Persekolahan Suster Pontianak kembali menggelar lomba di bulan bahasa, Oktober 2020. Namun terasa berbeda, karena digelar di tengah pandemi Covid-19. Jika sebelumya dilakukan dengan tatap muka, kali lomba digelar secara daring (dalam jaringan.red).

Ramses L Tobing, Pontianak

Para orangtua sudah datang berkumpul di aula Persekolahan Suster Pontianak, Jalan RA Kartini, Kecamatan Pontianak Kota, Selasa (27/10) pagi kemarin.  Mereka datang bukan untuk mengambil raport, tapi mengambil hadiah untuk anak-anaknya yang menang dalam lomba yang digelar pada bulan bahasa. Ada lima lomba yang digelar. Lomba baca puisi untuk anak SD dan SMP. Lomba berceloteh untuk TK. Bercerita untuk SD dan Storytelling SMP.

Sebenarnya lomba sudah digelar sejak awal-awal oktober. Selasa kemarin merupakan pengambilan hadiah untuk pemenang untuk setiap kategori. Tahun ini peserta lomba tidak bisa unjuk gigi di depan juri. Sebabnya pandemi masih melanda. Pilihannya lomba tetap digelar tapi secara virtual. Peserta yang mendaftar kemudian mengirim video rekamannya sesuai dengan lomba yang diikuti. Panitia memberikan prasyarat. Antara lain batas waktu, kemudian video tidak boleh diedit.

Hironimus salah seorang juri mengatakan, lomba yang digelar tahun ini menjadi tantangan bagi juri. Mereka harus menilai peserta melalui video tak melihat langsung penampilannya.  Ia melanjutkan juri harus benar-benar teliti mendengar video yang dikirim peserta lomba. Sebab ada empat hal yang dinilai. Artikulasi, intonasi, gaya tubuh dan waktu. “Ada sampai tiga kali saya mengulang video agar jelas mendengar apa yang diucapkan peserta,” kata Hironimus, usai penyerahan hadiah.

Ia mengatakan video yang dikirim peserta ada yang tidak maksimal. Seperti rekaman tidak jernih, sehingga suara peserta yang tampil dalam rekaman video itu tidak jelas terdengar. “Bisa saja mereka tidak di ruangan tertutup, sehingga lalu lintas kendaraan juga ikut terekam. Meskipun kalau secara offline, penampilan peserta juga pasti baik,” terang Hironimus.

Meski demikian ia mengapresiasi antusias peserta yang ikut dalam lomba ini. Termasuk kreativitas di setiap kategori lomba.  “Ada yang betul-betul mempersiapkan dengan baik. Misalnya lomba bercerita. Alur ceritanya benar-benar baik dan terstruktur,” kata Hironimus.  Ia berharap tahun depan bisa lebih ramai lagi peserta yang ikut, meski lomba digelar secara daring. Secara keseluruhan ada 132 peserta yang ikut dalam lomba kali ini.  Penanggungjawab kegiatan Suster Sudiarti SFIC juga mengakui antusias peserta yang ikut tahun ini lebih ramai dibandingkan tahun sebelumnya.  “Meski dilakukan secara virtual tapi tidak mengurangi antusias peserta yang ikut,” kata wanita yang juga menjabat sebagai Kepala SD Suster ini.

Antusias itu menurutnya tak lepas dari peran serta orangtua. Meski dalam situasi pandemi, para orangtua tetap mendorong anak-anak mereka untuk terlibat dalam perlombaan. “Artinya orangtua terus mendukung anaknya untuk terus berprestasi dalam situasi seperti sekarang,” imbuhnya.  Ia melanjutkan selain teknis yang berbeda, tahun ini jangkauan lomba juga lebih luas. Tahun sebelumnya lomba hanya digelar untuk di Kota Pontianak. Tahun ini peserta yang ikut dari berbagai kabupaten. Seperti Sanggau, Singkawang, Sambas dan tetap ada dari Pontianak. Sudiarti berharap antusias peserta yang ikut di tahun depan terus bertambah.”Sehingga anak-anak yang punya prestasi antusias menunjukkan kemampuan dirinya,” harapnya.

Ketua Panitia Lomba Bulan Bahasa Junaidi Florentinus mengatakan lomba yang digelar secara virtual merupakan hal yang baru bagi peserta. Sesuai jadwal proses pembuatan video dari tanggal 12 hingga 19 Oktober. Lalu pengumpulan video tanggal 20 sampai 22 Oktober. Penjurian tanggal 23 sampai 25 Oktober. Tanggal 26 Oktober pengumuman pemenang. Kemudian Tanggal 27 Oktober pembagian hadiah. Yuniarsih, salah satu orangtua peserta mengatakan dua anaknya mengikuti lomba di bulan bahasa. Keduanya pun meraih juara di masing-masing kategori.  “Anak saya yang SD, Syafa Maulidiasari meraih juara I, sedangkan yang SMP, Shelo Mita PermataSari meraih juara II,” kata dia.

Ia mengatakan persiapan yang dilakukan terbilang mepet. Menjelang tiga hari pengirimkan video, latihan dimaksimalkan. Satu hari latihan dilakukan selama satu jam.  “Hari terakhir baru mengirim ke panitia,” kata Yuniarsih.

Ia mengakui kendala yang dialami adalah perekaman video. Perekaman hanya mengandalkan telepon genggam. “Dibantu-bantu kakak-kakaknya, dan sebisa mungkin mereka dengan baik, video dikirimkan ke panitia lomba,” kata dia. Dalam lomba Syafa Maulidiasari membacakan puisi karya Taufik Ismail, yang berjudul “Kita adalah pemilik sah republik ini”. (*)

error: Content is protected !!
Hubungi Kami!