Karhutla di Desa Sungai Rasau, Polisi Belum Temukan Jejak Pelaku

DIDUGA DIBAKAR: Petugas saat memantau titik api di Desa Sungai Rasau dan kondisi lahan di Desa Rasau saat pertama kali terbakar.  

MEMPAWAH – Lebih dari 20 hektar lahan kosong dan kebun kelapa sawit di Desa Sungai Rasau terbakar sejak kemarin sore. Upaya pemadaman terus dilakukan petugas baik menggunakan jalur darat maupun udara. Hingga kini, polisi belum menemukan jejak pelaku pembakar hutan.

“Kami belum dapat memastikan pihak-pihak yang bertanggungjawab dalam kasus karhutla di Desa Sungai Rasau. Sebab, ketika petugas kami tiba di lokasi tidak ditemukan adanya oknum yang melakukan pembakaran,” terang Kapolsek Sungai Pinyuh, AKP Sandhy WG Suawa, SP, S.Ik kepada wartawan.

Namun, Kapolsek menduga kasus karhutla di Desa Sungai Rasau bisa saja disebabkan ulah oknum tidak bertanggungjawab yang melakukan aktivitas pembakaran lahan. Dari aktivitas itu menyebabkan api membesar akibat tiupan angin kencang hingga menyebar ke lokasi lainnya.

“Kami selalu menghimbau masyarakat agar tidak melakukan aktivitas membakar lahan dan hutan. Sebab, kami akan memberikan sanksi tegas kepada siapa saja yang menyebabkan kasus karhutla,” tegasnya.

Sementara iut, Kepala Desa Sungai Rasau, Edawrd mengaku saban tahun hutan di desa itu menjadi langganan karhutla. Dia memprediksi sumber api berasal dari tepi sungai air merah. Namun, dirinya tidak dapat memastikan kebakaran disebabkan unsur kesengajaan atau ketidaksengajaan.

“Apakah memang ada orang yang membakar baik secara sengaja atau tidak sengaja, kita belum bisa memastikan. Namun saya mempredikasi ada warga yang ke hutan dan membuang puntung rokok kemudian api membesar,” terkanya.

Edward menyebut upaya pemadaman karhutla di Desa Sungai Rasau tidak mudah. Sebab, titik api berada ditengah hutan dan sulit dijangkau petugas baik menggunakan roda dua maupun empat. Akan tetapi, dia meyakini api akan padam dalam waktu beberapa hari kedepan.

“Kita perkirakan dalam waktu 3-4 hari karhutla sudah bisa ditangani. Kalau pun masih ada tersisa api dalam skala kecil. Kami akan selalu melakukan pemantauan dan mengawasi untuk pergerakan api. Dan kita berharap agar segera turun hujan di Desa Sungai Rasau agar api dapat segera dipadamkan,” ucapnya.

Dalam penanganan karhutla itu, Edward memberikan apresiasi atas kesigapan dan kecepatan seluruh elemen terkait. Mulai dari BPBD, TNI-Polri, BPA Sungai Pinyuh hingga komponen masyarakat yang secara suka rela membantu memadamkan api. Bahkan, warga sampai malam hari masih berjaga-jaga di sekitar hutan yang terbakar.

“Sampai malam tadi (kemarin) ada puluhan warga Desa Sungai Rasau yang berada di lokasi untuk membantu memadamkan api. Kita semua bekerja keras untuk melakukan penanganan dan penanggulangan karhutla,” tegasnya.

Lebih jauh, Edward mengaku sejak tahun 2016 lalu pihaknya berupaya memberikan edukasi kepada masyarakat. Pihaknya bersama BPBD dan TNI-Polri menghimbau masyarakat agar tidak membakar hutan dan lahan terutama pada musim kemarau.

“Sosialisasi kami lakukan secara door to door di rumah masyarakat. Kami juga memasang baliho di lokasi-lokasi tertentu agar mengingatkan masyarakat supaya tidak membakar hutan dan lahan. Semua itu sudah kami lakukan,” tukasnya.(wah)

Read Previous

Bupati Landak Pimpin Upacara Peringatan ke-26 Hari Keluarga Nasional

Read Next

Melihat Pelayanan KB MKJP di Ekor Borneo

Tinggalkan Balasan

Most Popular