Karhutla Pelang Ternyata Disabotase

BERI DUKUNGAN: Bupati Ketapang Martin Rantan memberikan dukungan kepada petugas pemadam api, saat melakukan monitoring ke lokasi karhutla di Desa Sungai Pelang, Kecamatan Matan Hilir Selatan, kemarin (27/8). AHMAD SOFI/PONTIANAK POST

600 Ha dari 900 Ha Lahan Gambut

PESAGUAN – Kebakaran-kebakaran hebat pada hutan dan lahan yang terjadi di Ketapang, hampir semuanya sengaja dilakukan oleh pihak-pihak yang tidak bertanggung jawab. Hal tersebut diungkapkan Kepala Manggala Agni Daops Ketapang, Rudi Windra Darisman, saat menerima kunjungan Bupati beserta jajaran Forkopimda, kemarin (27/8), di lokasi karhutla di Desa Sungai Pelang, Kecamatan Matan Hilir Selatan.

Bahkan, dia memastikan ada pihak-pihak yang melakukan sabotase. “Rata-rata kebakaran yang terjadi ini memang sengaja dibakar. Dari hasil Pulbaket dari teman-teman, memang faktor kesengajaan.

Kemungkinan besar memang disabotase. Cuma sampai saat ini masih didalami oleh polisi,” paparnya.
Rudi tak memungkiri jika kebakaran di tahun ini cukup besar. Ada beberapa lokasi yang menurut dia mengalami kebakaran yang cukup parah. Empat lokasi yang mengalami kebakaran hebat tersebut diungkapkan diia adalah di Kecamatan Matan Hilir Selatan, Matan Hilir Utara, Muara Pawan, dan Kecamatan Kendawangan. “Paling parah itu di Matan Hilir Utara dan Matan Hilir Selatan, termasuk di Sungai Pelang ini,” kata Rudi.

Dia menjelaskan, luasan lahan yang terbakar khususnya di Sungai Pelang, mencapai 202,7 hektare. Areal yang sudah dipadamkan, sebut dia, hanya 47 hektare. Sementara untuk seluruh Ketapang, lahan yang terbakar diakui diia mencapai sekitar 900 hektare. “Kebakaran banyak terjadi di lahan gambut. Ada sekitar 600 hektare lahan gambut yang terbakar,” jelas Rudi.

Rudi mengungkapkan, kebakaran di kawasan Pelang terjadi sejak 13 Agustus lalu. Hingga saat ini petugasnya masih berjibaku memadamkan api di lokasi tersebut. Sebanyak 280 personel dikerahkan mereka untuk memadamkan api. Sebanyak 12 unit mobil pemadam, 30 unit pompa, tiga unit helikopeter pengebom air, dan satu unit helikopter pemantau juga dikerahkan mereka.

“Sampai saat ini sudah 12 hari pemadaman. Kendala kita di lapangan itu sumber air yang tidak bisa diakses menggunakan jalur darat. Jika tidak bisa dipadamkan menggunakan mobil, maka pemadaman dilakukan dengan menggunakan helikopter,” ungkapnya.

Bupati Ketapang Martin Rantan ketika itu melakukan peninjauan sebagai tindak lanjut terjadinya karhutla di Desa Sungai Pelang. Usai monitoring tersebut, Pemda dipastikan Bupati akan melakukan beberapa kajian penanggulangan pascakebakaran.

Bupati mengatakan setelah monitoring dan evaluasi tersebut, Pemda melalui Beppeda dan Litbang akan membuat telaah bagaimana mengantisipasi pencegahan karhutla, tindakan penanganan ketika terjadi kebakaran, dan penanganan setelah kebakaran. “Dampak dari kebakaran ini merugikan banyak pihak,” kata Martin di sela-sela monitoring lokasi kebakaran lahan.

Martin mengatakan, salah satu langkah yang akan dilakukan ke depannya adalah membuat pos satuan Satgas di daerah Pelang. Karena sampai saat ini, diakui dia, belum ada pos tetap untuk Satgas Karhutla. Pemda juga dipastikan dia akan mendorong perusahaan untuk membuat embung di dalam kawasan.

“Karena saat terjadi kebakaran, meski ada helikopter, tapi tidak ada air, maka percuma saja. Oleh karena itu, embung itu penting,” tegasnya.

Terkait kebakaran yang terjadi di kawasan perusahaan, Martin berjanji akan memberikan teguran kepada pihak perusahaan. Hal ini diharapkan dia agar ke depannya perusahaan menyiapkan diri mengantisipasi terjadinya karhutla di internal perusahaan. “Tujuannya agar tidak kecolongan dan kebakaran seperti ini. Kalau seperti ini, kasihan juga perushaan lahannya hangus terbakar,” ungkapnya.

Martin juga mengimbau kepada semua pihak, khususnya yang menggunakan lahan untuk berusaha, agar jangan membakar lahan, terutama di musim kemarau. “Kita juga meminta kepada aparat keamanan untuk memberikan sanksi atau proses hukum bagi siapa saja yang sengaja membakar lahan. Kepala desa dan camat untuk selalu memberikan dorongan agar tidak membakar lahan,” pintanya.

Sementara itu, Area Manajer PT. Arrtu Energie Resources, Suhaimi, mengaku mengalami kerugian yang sangat besar akibat kebakaran tersebut. Kebakaran tersebut tidak hanya terjadi di lahan milik masyarakat, namun juga merembet ke lahan milik perusahaan. “Api masuk pada 15 Agustus kemarin.

Saat ini api sudah mati karena dua hari ini turun hujan. Saat ini tinggal asap. Ada 12 mesin diturunkan untuk benar-benar memadamkan api,” katanya.

Dia menjelaskan, sebelum masuk ke areal perusahaan, ada lima titik api yang terlihat di luar konsesi. Api tersebut, menurut dia, muncul dari setiap penjuru yang kemudian masuk ke lahan milik perusahaan. “Sudah dihalang menggunakan alat, tapi karena api sangat besar akhirnya kewalahan dan akhirnya masuk ke lahan perusahaan,” jelasnya.

Akibat kebakaran tersebut, seluas 465 hektare milik perusahaan, diakui dia, hangus terbakar. Padahal, dia menambahkan, hampir 400 hektare lahan sudah ditanami kelapa sawit. Sementara untuk kerugian diperkirakan dia perhektarenya sekitar Rp50 juta. “Usia sawit tahun tanam 2013,” paparnya.

Suhaimi mengungkapkan, kebakaran tahun ini paling parah. Karena waktu terjadi kebakaran, menurut diia, tidak hanya satu titik, melainkan dari lima titik. Sehingga kebakaran terjadi, diakui dia begitu hebat. Dia pun menyaksikan sendiri bagaimana petugas kewalahan memadamkan api. Kondisi tersebut, menurut dia, diperparah dengan tidak ada air di tempat-tempat yang telah disediakan. “Embung air ada, cuma mobilisasi menggunakan tangki cukup lama, kalah dengan kecepatan api. Ke depannya akan lebih siap dengan sarana dan prasarana menghadapi karhutla,” pungkasnya. (afi)

Read Previous

Program BSPS Bedah 330 Rumah

Read Next

Pemkab Luncurkan Aplikasi Sihumpro

Tinggalkan Balasan

Most Popular