Kasus Corona Landai, Kalbar Berpeluang jadi Target Investasi

Investasi: Hamparan pohon sawit yang ada di sejumlah perkebunan Kelapa Sawit di Kalbar, salah satu andalan di daerah ini. Melandainya angka pandemi Covid-19 membuka peluang Kalbar dilirik para investor.

PONTIANAK – Dalam beberapa pekan terakhir tidak ada peningkatan yang cukup berarti dalam penularan kasus Covid-19 di Kalimantan Barat. Bahkan kerap kali angka penambahan pasien baru di provinsi ini nol. Ketua Asosiasi Pengusaha Indonesia (Apindo) Kalbar Andreas Acui Simanjaya menyebut hal ini sebagai peluang bagi Kalbar untuk menarik investasi.

“Kalbar tergolong provinsi yang sudah realtatif aman kalau dari kacamata pebisnis, karena penambahan kasus barunya kecil sekali. Kita bersyukur akan hal ini sambil tetap waspada dan tetap menjalankan protokol kesehatan dalam aktivitas sehari-hari,” ungkap dia kepada Pontianak Post, kemarin (5/7).

Selain itu, kata dia, yang menggembirakan, sejumlah aktivitas ekonomi yang sebelumnya seakan mati suri sudah mulai dibuka kembali. Walaupun dengan tetap mengedepankan protokol kesehatan. Roda perekonomian pun mulai berputar lebih cepat dari pada masa pandemi. Hal ini juga bisa membuat investor dari provinsi lain untuk melirik Kalbar.

Hanya saja, kata dia, butuh waktu agar ekonomi Kalbar kembali sepenuhnya normal seperti sedia kala. Pasalnya ekonomi Kalbar juga banyak dipengaruhi oleh ekonomi nasional dan dunia. Sejumlah sektor, terutama transportasi udara misalnya, juga masih menerapkan aturan ketat, sehingga arus perjalanan belum akan normal. Terlebih Jakarta sebagai pusat perekonomian nasional masih dalam masa PSBB transisi. Belum lagi daya beli masyarakat Kalbar sendiri yang belum membaik.

Kepala Perwakilan Bank Indonesia Provinsi Kalbar Agus Chusaini menyebut daya beli masyarakat Kalbar pada masa-masa pandemi lalu anjlok. Sejumlah sektor tak beraktivitas sama sekali. Sektor lain lesu dan kurang darah. Pendapatan masyarakat pun berkurang drastis, yang bertimbal balik dengan menurunnya konsumsi. Bank Indonesia memperkirakan penurunan konsumsi di provinsi ini hilang setengahnya. Padahal sektor konsumsi ada faktor penunjang utama ekonomi Kalbar.

“Konsumsi kita turun sampai 50 persen pada masa pandemi pada pandemi ini. Karena memang pengeluaran masyarakat kurang sekali. Selain memang pendapatan yang menurun. Juga karena tutupnya sejumlah usaha sektor huburan wisata dan hiburan, ketakutan untuk berbelanja, serta kebijakan physical distancing,” ujar dia.

Ketua Kamar Dagang dan Industri (Kadin) Kalimantan Barat Santyoso Tio menyebut sejak New Normal dijalankan, maka roda ekonomi mulai sedikir bergerak. Hanya saja, protokol kesehatan wajib dijalankan semua pihak. Agar tidak terjadi ledakan Covid-19 di Kalbar. “Anggota Kadin dan asosiasi di bawahnya berkomitmen menerapkan protokol ini. Kita ikuti anjuran pemerintah,” pungkas dia. (ars)

loading...