Kategori Guru dan Perilaku Supervisor

Oleh: Aswandi

SUPERVISI pembelajaran mengalami pergeseran paradigma dari yang semulanya dilakukan secara konvensional oleh seorang penilik dan/atau pengawas sekolah menjadi supervisi collegial dilakukan oleh kepala sekolah sebagai pemimpin pembelajaran (instructional leader) dan/atau guru (supervisors are teachers of teachers).

Glickman, Carl. D.; Gordon, Stephen. P & Gordon, Jovita M. Ross (2013) dalam bukunya “The Basic Guide to Supervision and Intructional Leadership” menegaskan “A paradigm shift toward the collegial model, if it is to succeed, must include a shift away from conventional or congenial supervision toward collegial supervision”.

Sebuah studi dilakukan Wallace Foundation melaporkan bahwa “principals spend about 67 persent of their time focused on management functions (ex. discipline) and 30 percent of their time focused on the instructional program (ex. observing teacher, participating in the professional development with teacher, providing feedback)”, dikutip dari Zepeda, Sally J (2017) dalam bukunya ““Instructional Supervision: Applying Tools and Concepts”.

Dampak pergeseran paradigma supervisi pembelajaran tersebut membawa hembusan isu belakangan ini bahwa pemerintah akan menghapus jabatan pengawas sekolah.

Jika keberadaan pengawas sekolah dirasakan kurang efektif dan kurang efesien bagi peningkatan mutu pendidikan dan pembelajaran, menurut penulis penghabusan jabatan pengawas sekolah tersebut dapat dipahami. Namun, fungsi supervisi pembelajaran tidak boleh dihilangkan dari suatu sistem pendidikan dan ia merupakan unsur utama dari keefektivan pembelajaran. Glickman, Carl. D.; Gordon, Stephen. P & Gordon, Jovita M. Ross (2013) mengatakan bahwa “Supervision as the glue a successful school. Research shows that schools that link their instruction  and classroom management with profession development, direct assistance to teachers, curriculum development, group development and action research  under a common purpose achieve their objective.

Efektivitas pelaksanaan supervisi pembelajaran tergantung pada kesesuaian perilaku supervisor dan kategori guru, sementara kategori guru itu sendiri adalah quadran komitmen dan abstraksi yang dimilikinya, demikian Carl D. Glickman dan Gordon (2013) dalam bukunya “The Basic Guide to Supervision and Instrructional Leadership”,

Abstraksi (abstract), yakni ketrampilan berpikir abstrak guru, baik pada level rendah (tidak memahami masalah, tidak tahu apa yang harus dilakukan), sedang (dapat mendefinisikan masalah, dapat memikirkan satu atau dua respons yang mungkin untuk menyelesaikan masalah), dan tinggi (dapat memikirkan masalah dari banyak prespektif).

Sedangkan komitmen (commitment), yakni keinginan, semangat kerja, tanggung jawab terhadap profesinya, baik pada level rendah (perhatian yang sangat kurang terhadap peserta didiknya, waktu dan energi yang digunakannya untuk melaksanakan tugas sangat sedikit), sedang (memiliki perhatian terhadap peserta didiknya, menghabiskan energi secara sporadis dalam areal tertentu) dan  tinggi (perhatian yang sangat besar terhadap peserta didik dan para guru, menyediakan ekstra waktu dan energi yang sangat besar dalam mendukung profesinya).

Berdasarkan kualitas abstraksi dan komitmen guru tersebut di atas, maka seorang guru dikategorikan sebagai berikut: (1) teacher dropouts, yakni guru yang memiliki kualitas abstraksi dan komitmen rendah. Selain tidak memiliki kemampuan mengajar juga tidak memiliki semangat dan tanggung jawab dalam profesinya;  (2) unfocused  workers, yakni guru yang memiliki kualitas abstraksi rendah, namun memiliki kualitas komitmen tinggi. Kemampuannya, baik materi maupun strategi mengajar sangat rendah, namun sangat rajin, bersemangat dan penuh tanggung jawab dalam mendidik siswanya; (3) analytical observers, yakni guru yang memiliki kualitas abstraksi tinggi, namun komitmen dalam profesinya rendah. Guru kategori ini memiliki kemampuan, baik mengenai materi dan strategi mengajar, bahkan sangat pandai berbicara, namun ia malas, kecintaannya kepada murid kurang, demikian pula tanggung jawab terhadap pekerjaanya sangat rendah; dan (4) professionals, yakni guru yang memiliki kualitas abstraksi dan komitmennya tinggi. Selain menguasai materi dan strategi mengajar dengan baik, ia juga memiliki semangat, motivasi dan tanggung jawab terhadap pekerjaannya sangat tinggi.

Jika kategori guru diurutkan dari quadrat terbaik, maka disimpulkan kategori guru sebagai berikut: (1) professional, (2) unfocus workers, (3) analytical observers and (3) teacher dropouts.

Memperhatikan kategori guru tersebut, pertanyaan berikutnya adalah bagaimana seharusnya seorang supervisor berperilaku dalam pengembangan keprofesionalan guru secara berkelanjutan?.

Carl D. Glickman (2002) dalam bukunya “Leadership for Learning” mengemukakan 4 (empat) perilaku supervisor secara kontinum, yakni: directive control, directive informational, collaboration and non directive. Empat perilaku supervisor tersebut dilengkapi 10 (sepuluh) aspek perilaku, yakni: listening, clarifying, encouraging, presenting, problem solving, negotiating, demonstrating, directing, standardizing and reinforcing.

Directive Control: supervisor mengklarifikasi masalah guru (clarifying), supervisor menunjukkan ide, apa dan bagaimana informasi dikumpulkan (presenting), supervisor menunjukkan perilaku mengajar yang efektif (directing), supervisor mengarahkan tindakan apa yang harus dilakukan guru (demonstrating), supervisor menjelaskan baseline data dan standar perbaikan (standardizing), dan supervisor menggunakan materi dan insentif sosial (reinforcing).

Directive Iformational: memahami persepsi guru tentang masalah dan meminta input kepada guru mengenai alternatif pemecahan masalah (listening), meminta input kepada guru dan meminta guru memilih (clarifying), mengidentifikasi masalah (presenting), menentukan dua atau tiga solusi alternatif (problem solving), memulai alternatif untuk menjadi pertimbangan guru dan memfreming pilihan akhir (directing), menentukan tindakan specific (standardizing) dan membuat ringkasan tindak lanjut (reinforcing). Collaborative: supervisor mendengar guru (listening), supervisor meminta guru mempersentasikan persepsinya tentang perbaikan (clarifying), supervisor mempresentasikan persepsi tentang kawasan perbaikan (presenting), supervisor beserta guru merencakan tindakan alternatif (problem solving) dan supervisor dan guru merevisi dan  dan meninjau kembali rencana yang sudah dibuat (negotiating).

Nondirective: supervisor mendengar secara serius diskusi guru tentang pembelajaran (listening), supervisor mengajukan pertanyaan guna mengetahui statemen guru untuk menyelesaikan masalah agar semua jelas (cralifying), supervisor meminta guru mengelaborasi  (encouraging), ketika diminta oleh guru supervisor mengemukakan solusi yang mungkin dilakukan (presenting), dan supervisor meminta guru menentukan apa tindakan yang akan diambil (problem solving).

Penulis menyatakan bahwa tidak ada satu perilaku supervisor lebih baik dari perilaku supervisor lainnya, sedemikian sebaliknya karena implementasi dari perilaku supervisor tersebut dipengaruhi oleh kategori guru. Contoh kasus, seorang guru dalam kategori dropout  dimana kualitas abstraksi dan komitmennya rendah, maka perilaku supervisor yang tepat untuk melakukan pembinaan dan pengembangan keprofesionalan guru tersebut adalah directive control, sementara seorang guru dalam kategori professional  dimana kualitas abstraksi dan komitmennya tinggi, maka perilaku supervisor yang tepat dilakukan kepada guru tersebut adalah nondirective. (*)

Penulis, Dosen FKIP Untan.

error: Content is protected !!
Hubungi Kami!