Ke Korsel, Terancam Karantina 14 Hari

SEMPROT DISINFEKTAN: Petugas kesehatan menyemprotkan disinfektan untuk mencegah penularan virus corona di Suwon, Korea Selatan, Minggu (1/3). Presiden Korea Selatan Moon Jae-In mengatakan, pemerintah serius menangani wabah corona di negara itu. YONHAP / AFP

PONTIANAK – Kepala Dinas Kesehatan Provinsi Kalimantan Barat (Kalbar) Harisson mengungkapkan alasan mengapa Gubernur Sutarmidji melarang warga Kalbar ke Korea Selatan (Korsel). Salah satunya karena negara yang dijuluki Negeri Ginseng tersebut merupakan negara yang paling tinggi penyebaran kasus virus Corona (COVID-19), setelah Tiongkok dibanding negara-negara lain.

Ia menyebut sampai dengan 29 Februari 2020, di Korea Selatan terdapat 3.150 kasus COVID-19 yang terkonfirmasi. Dalam satu hari terdapat sekitar 800 penduduk Korsel yang terjangkit Corona. “Di Korea sudah ada 17 kasus kematian karena Corona,” katanya kepada Pontianak Post, Minggu (1/3).

Negara lain yang juga tinggi kasus penyebaran Corona dikatakan dia, ada Italia yaitu 888 kasus dengan 21 kasus kematian. Selanjutnya Jepang sebanyak 230 kasus COVID-19 terkonfirmasi dengan lima kasus kematian per 29 Februari 2020.

Untuk itu diharapkan agar masyarakat Kalbar sementara tidak melakukan perjalanan ke Korsel, Italia dan Jepang. “20 orang warga Kalbar yang sedang berkunjung ke Korea Selatan memang mempunyai risiko tinggi untuk tertular COVID-19,” ujarnya.

Untuk itu Harisson mengatakan pihaknya bekerjasama dengan pihak KKP dan Imigrasi akan benar-benar melakukan pemantauan kesehatan secara ketat terhadap warga Kalbar tersebut. “Dinas Kesehatan akan menjalankan kebijakan Pak Gubernur, bila perlu kami lakukan karantina selama 14 hari,” ujarnya.

Ditemui terpisah, Gubernur Sutarmidji kembali mengungkapkan kekesalannya terhadap warga Kalbar yang berlibur ke Korsel.

Ia mengaku tahu informasi tersebut dengan melihat langsung unggahan foto-foto di facebook yang bersangkutan. Meski demikian Midji sapaan akrabnya enggan menyebut nama warga Kalbar yang sedang berlibur ke Korsel tersebut. “Saya tahu dari tayangan facebook dia, dia ke Korea pakai masker memang tapi anaknya tidak, orang tua kayak apa begitu itu,” katanya, Minggu (1/3).

Harusnya, lanjut dia, ketika sudah tahu tingkat keterjangkitan virus corona di Korsel sangat cepat, maka jangan lagi ada yang pergi ke sana. Karena bahkan beberapa negara sudah melarang warganya untuk ke sana. “Eh kita melenggang-lenggang di sana, malah diposting di facebook. Saya kalau boleh orang yang pergi ke daerah itu mau saya karantina 14 hari, kalau perlu 20 hari,” ucapnya kesal.

Kalbar menurutnya harus tetap waspada. Meski jangan juga panik tapi tetap tidak boleh lengah dalam pencegahan. Daerah ini dinilai tidak bisa berharap negara tetangga benar-benar  memproteksi secara ketat.

“Kita juga harus (Proteksi). Imigrasi, Bea cukai, Karantina jangan lengah. Dinas Kesehatan kabupaten/kota sudah harus ada protap-nya bagaimana menangani, kalau ada misalnya yang diduga suspek cepat tangani,” pungkasnya. (bar)

 

error: Content is protected !!