Kebakaran Lahan Nyaris Lahap Lembaga Pendidikan Tuna Netra
Ibu Hamil dan Anak-anak Diungsikan

PADAMKAN API: Seorang perempuan parobaya sedang berusaha memadamkan api yang membakar lahan di Jalan Pembangunan, Sungai Raya, Kabupaten Kubu Raya. ARIEF NUGROHO/PONTIANAK POST

PONTIANAK – Kebakaran lahan di Jalan Sepakat 2 Ujung, Kelurahan Bansir Darat, Kecamatan Pontianak Tenggara nyaris melahap sebuah rumah dan bangunan Lembaga Tuna Netra Iqro Braille Center, Rabu (24/2), sore. Akibatnya, seorang ibu hamil dan belasan santri diungsikan di tempat yang aman.

Menurut Sri Wulandari, Pengasuh Lembaga Pendidikan Tuna Netra Iqro Braille Center, api sudah mulai membesar sejak pagi menjelang siang. Sore harinya, api diketahui sudah membakar sebagian lahan di samping bangunan dan menimbulkan asap tebal.

“Tadi sebelum dzuhur api membakar sebelah sana. Setelah dzuhur, api mengarah ke sini. Terus, seletah Ashar, ternyata sudah membakar lahan di samping,” katanya, kemarin.

Selain itu, asap tebal yang ditimbulkan sudah memasuki seluruh ruangan dan mengakibatkan sesak napas.

“Karena asap sudah tebal. Sudah masuk ke rumah dan tidak bisa bernafas. Apalag. ada ibu hamil di sana. Kami berinisiatif untuk mengungsi,” terangnya. Dikatakan Sri, total santri yang diungsikan sejumlah kurang lebih 15 orang. Termasuk ibu hamil.

“Ada sekitar 13 atau 15 orang. Termasuk ibu hamil. Mereka sementara ditampung oleh salah satu pengurus di rumahnya,” kata dia.

Menurutnya, Sri Wulandari, kebakaran lahan yang serupa juga pernah terjadi pada tahun 2018. Seluruh penghuni diungsikan hingga berhari-hari.

“Kejadian seperti ini sudah pernah, tahun 2018. Kami semua harus mengungsi selama  seminggu,” kenangnya.

Sementara itu, menurut Karim (50), seorang warga yang rumahnya nyaris terbakar mengatakan, kebakaran lahan yang terjadi di wilayah itu sudah terjadi sejak tiga hari lalu.  Kondisinya akan semakin parah jika angin berhembus kencang.

“Kebakaran ini sudah sejak tiga hari lalu. Kalau angin kencang, pemadam pun kesulitan memadamkannya,” kata Karim.

Ia khawatir jika api semakin membesar akan melahap rumahnya.

“Ini saja tinggal beberapa meter mendekati rumah,” katanya.

Untuk mengantisipasi hal-hal yang tidak diinginkan ia pun harus mengungsikan anggota keluarga, terutama istri dan anaknya.

“Istri dan anak sudah mengungsi di tempat keluarga. Dan kami terpaksa harus berjaga, agar api tidak merembet ke sini (rumah). Kami tidak ada tempat tinggal lagi, kalau sampai ini terbakar,” lanjutnya.

Sementara itu, petugas pemadam kebakaran masih berusaha memadamkan api yang berlahan mulai bermunculan. Ketersediaan sumber air yang minim, membuat proses pemadalam terkendala.

Di sisi lain, kebakaran hebat juga terjadi di sebuah lahan kosong di Jalan Pembangunan Sungai Raya Dalam, Kabupaten Kubu Raya.

Dengan mengenakan kerudung, baju dan rok Panjang, serta sepatu boot, seorang ibu parobaya terlihat sibuk memadamkan api dengan alat seadanya. Ia merangsek di antara kobaran api, seolah tidak ada rasa kakut di dalam dirinya.

Perempuan yang belakangan diketahui bernama Eka Rahmawati itu terus menerus menyemprotkan air pada titik api yang berlahan mulai membakar semak-semak di sekitarnya. “Air. Tolong air,” teriaknya.

Ia juga tidak segan-segan membuatkan jalan agar proses pemadaman lebih gampang.

Ditemui Pontianak Post di sela-sela proses pemadaman api, ia mengaku terpanggil untuk membantu warga sekitar.

“Saya bukan orang sini. Saya merasa terpanggil untuk membantu warga,” katanya.

Menurutnya, ia bersama warga setempat mulai memadamkan api sejak pukul 10.00 pagi, dengan alat seadanya.

“Hari ini dari jam 10 pagi. Tadi pagi, saya sebenarnya mau ke rumah saudara sekitar sini. Pas lewat, api membesar saya ikut memadamkan,” ceritanya.

Sementara itu, menurut Agung, warga sekitar, kebakaran lahan sudah terjadi sejak sepekan lalu. Hanya saja, tidak ada bantuan pemadaman.

“Kira-kira dari seminggu lalu. Kami sudah sering melapor, tetapi tidak ada tanggapan. Mungkin petugas pemadam kebakaran juga lagi sbuk madamkan api di tempat lain,” katanya.

Masyarakat pun terpaksa harus bahu membahu medamdamkan api. Bahkan hingga malam hari sekalipun. “Minggu lalu, kami sampai jam empat subuh. Berjaga, biar api nggak merembet ke mana-mana,” pungkasnya. (arf)

error: Content is protected !!
Hubungi Kami!