Kegiatan Belajar Mengajar yang Terseok-seok

Oleh : Budhi Setiono

Statistisi Terampil di BPS Kubu Raya

Kegiatan Belajar Mengajar (KBM) tahun ajaran 2020/2021 di Indonesia secara serentak sudah dimulai. Namun kali ini proses KBM masih dilakukan secara daring (pemanfaatan media dalam jaringan) seperti akhir semester lalu. Ya, hal ini lantaran masih dalam kondisi pandemi Corona Virus Disease 2019 (Covid-19)yang tak kunjung usai. Masih banyak daerah tergolong zona merah, kuning dan oranye belum bisa melakukan sistem pembelajaran secara tatap muka. Kebijakan tersebut merupakan langkah terbaik yang diundangkan oleh pemerintah.

Pemerintah melalui Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud) telah menerbitkan Surat Edaran Nomor 15 Tahun 2020 tentang Pedoman Penyelenggaraan Belajar Dari Rumah (BDR) Dalam Masa Darurat Penyebaran Covid-19.Surat Edaran Nomor 15 tersebut diterbitkan untuk memperkuat Surat Edaran Mendikbud Nomor 4 Tahun 2020 tentang Pelaksanaan Pendidikan Dalam Masa Darurat Covid-19.

Pelaksanaan BDR selama darurat Covid-19 bertujuan untukmemastikan pemenuhan hak peserta didik dalam mendapatkan layanan pendidikan selama pandemi berlangsung. Tujuan yang lain adalah untuk melindungi warga satuan pendidikan dari dampak buruk akibatCovid-19. BDR juga bertujuan untukmencegah penyebaran dan penularan Covid-19di satuan pendidikan serta memastikan pemenuhan dukungan psikososial bagi pendidik, peserta didik dan orang tua/wali.

Pada daerah zona hijau tentunya Pemerintah Daerah (Pemda) setempat telah melakukan berbagai persiapan dalam proses KBM. Tugas dan wewenang Pemda di masa persiapan ada lima tahap. Pertama, memastikan kesiapan satuan pendidikan untuk pembelajaran tatap muka dengan aman termasuk melakukan evaluasi terhadap pengisian daftar periksa di Data Pokok Pendidikan(Dapodik). Kedua, menentukan pembukaan satuan pendidikan berdasarkan hasil evaluasi daftar periksa kesiapan. Ketiga, menugaskan pendidik dari satu satuan pendidikan ke satuan pendidikan yang lain jika diperlukan. Keempat, berkoordinasi dengan gugus tugas percepatan penanganan Covid-19. Kelima, memberikan peningkatan kapasitas kepada pengawas sekolah, kepala satuan pendidik dan pendidik.

Pelaksanaan KBM secara daring juga dilakukan untuk peserta didik di daerah Provinsi Kalimantan Barat (Kalbar). Peralihan metode ini memaksa berbagai pihak untuk mengikuti alur yang sekiranya bisa ditempuh agar pembelajaran tetap dapat berlangsung. Tentunya pembelajaran secara daring ini erat kaitannya dengan penggunaan teknologi. Para pakar pendidikan di Indonesia menyayangkan perihal ini, lantaran dalam penggunaan teknologi tersebut masih ada beberapa kelemahan. Kelemahan ini tidak hanya dirasakan oleh seorang guru, melainkan juga oleh peserta didik.

Penguasaan teknologi yang masih rendah merupakan salah satu faktor penghambat efektivitas pembelajaran. Harus diakui bahwa tidak semua guru melek teknologi, terutama guru generasi X (lahir tahun 1980 ke bawah) yang pada masa itu penggunaan teknologi belum begitu masif. Sebenarnya mereka bukan tidak bisa kalau mau belajar, pasti mampu karena prinsipnya guru adalah manusiapembelajar yang harus selalu siap menghadapi perubahan zaman sekaligus mengikuti perkembangannya.Keadaan hampir sama juga di alami oleh para peserta didik, tidak semuanya terbiasa menggunakan teknologi dalam kehidupan sehari-hari. Di sekolah pun mereka harus rebutan dalam menggunakan perangkat teknologi pendukung pembelajaran karena keterbatasan sarana yang dimiliki oleh sekolah.

Keterbatasan sarana prasarana dan kepemilikan perangkat pendukung teknologi juga menjadi masalah tersendiri. Bukan rahasia umum bahwa kesejahteran guru masih sangat rendah, termasuk di daerah-daerah se-Kalbar. Jadi jangankan untuk memenuhi hal-hal tersebut, untuk memenuhi kebutuhan pokok keluarganya saja masih banyak guru yang kesulitan.Hal yang sama pun terjadi pada peserta didik, karena tidak semua orangtua mereka mampu memberikan fasilitas teknologi kepada anak-anaknya. Bahkan kalaupun mereka punya fasilitas,tetapi tidak sepenuhnya digunakan untuk media pendukung pembelajaran. Bisa jadi karena ketidaktahuan orang tua dalam membimbing anaknya untuk pemanfaatan teknologi dalam pembelajaran.

Pembelajaran daring tidak bisa lepas dari penggunaan jaringan internet. Tidak semua sekolah di Kalbar ini sudah terkoneksi dengan internet sehingga guru-gurunya pun dalam keseharian belum terbiasa dalam memanfaatkannya. Kalaupun ada yang menggunakan jaringan seluler terkadang jaringan yang tidak stabil karena letak geografis yang masih jauh dari jangkauan sinyal seluler. Jaringan internet yang sangat dibutuhkan dalam pembelajaran daring menjadi masalah tersendiri bagi guru dan peserta didik. Kuota yang dibeli untuk kebutuhan internet menjadi melonjak dan banyak diantara guru juga orang tua murid yang tidak siap untuk menambah anggaran dalam menyediakan jaringan internet.

Memang banyak hambatan dalam proses KBM secara daring, sehingga pembelajaran tidak bisa berjalan optimal.Seakan-akan dengan adanya pandemi Covid-19 ini pendidikan di Indonesia terseok-seok. Walaupun demikian, sekolah yang belum bisa menyelenggarakan KBM secara daring dapatmengembangkan kreativitas guru untukmemanfaatkan media belajar alternatif selamapeserta didik belajar di rumah. Mereka dapatmenggunakan sumber belajar yang ada yaitu bukusiswa sesuai dengan tema-tema yang diajarkansesuai jadwal yang telah dibuat sebelumnya. Evaluasi hasil belajar peserta didik bisa dilakukan secara periodik oleh masing-masing guru kelas atau guru mata pelajaran.

Potret Pendidikan di Kalbar

Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS) Provinsi Kalbar, Kalbar adalah provinsi di Pulau Kalimantan dengan ibu kota Pontianak.Jumlah penduduk Provinsi Kalbar tahun 2019 hasil proyeksi penduduk berjumlah sekitar 5,07  juta jiwa, dimana sekitar 2,58 juta jiwa berjenis kelamin laki-laki dan 2,49 juta jiwa adalah perempuan. Luas wilayah Provinsi ini adalah 147.275,25 km² (7,53 persen luas Indonesia) atau 1,13 kali luas pulau Jawa. Kepadatan penduduk Kalbar sekitar 35 Jiwa per kilometer persegi. Menurut klasifikasi tingkat kepadatan penduduk yang tertuang dalam Undang-undang Nomor 56 tahun 1960, ini tergolong tidak padat. Tetapi, kondisi ini tentunya kurang menguntungkan dalam rangka percepatan pembangunan wilayah khususnya menyangkut pengelolaan sumber daya alam dengan segala potensi dan keragamannya.

Dampak dari kepadatan penduduk salah satunya adalah di sektor pendidikan. Pendidikan merupakan dasar yang sangat penting bagi perkembangan suatu daerah. Semakin bagus pendidikan suatu daerah bisa mendorong daerah tersebut untuk maju dan lebih berkembang.Jika kepadatan penduduk tidak dapat ditanggulangi dengan baik dan sarana prasarana pendidikan semakin kecil, maka banyak anak-anak yang tidak bisa bersekolah. Selain itu lingkar pendidikan di suatu daerah menjadi rendah hingga akhirnya produktifitas bekerja akan menurun nantinya.

Sektor pendidikanmerupakan salah satu indikator untuk melihat keberhasilan pembangunan sumber daya manusia. Sektor pendidikan yang berkualitas harus didukung dengan sarana dan prasana yang baik. Data statistik menunjukkan, pada tahun ajaran 2019/2020 jumlah prasarana Sekolah Dasar (SD)se-Kalbar sebanyak 4.426 unit. Jumlah tersebut mengalami kenaikan sebanyak 30 unit dari tahun sebelumnya, dengan rincian 17 unit SD negeri dan 13 unit SD swasta. Untuk jumlah murid SD menurun 0,19 persen dari tahun sebelumnya atau menurun dari 590.388 orang menjadi 589.247 orang. Selain itu juga terjadi peningkatan pada jumlah tenaga pengajar (guru) tingkat SD, yaitu sebanyak 3.150 orang. Kemudian untuk rasio murid-guru sebanyak 16,89, artinya satu orang guru dibebani mengajar murid sebanyak 16 orang. Demikian juga untuk rasio guru terhadap sekolah, yaitu satu sekolah tersedia sebanyak 8 orang guru.

Sementara itu jumlah prasarana Sekolah Menengah Pertama sebanyak 1.323 unit atau meningkat 0,37 persen dari tahun sebelumnya. Jumlah murid juga mengalami peningkatan menjadi 235.560 orang atau meningkat sekitar 0,55 persen. Untuk jenjang pendidikan Sekolah Menengah Atas, jumlah sekolah mengalami peningkatan 1,61 persen sehingga menjadi 441 unit. Senada dengan jumlah murid yang juga mengalami peningkatan sebanyak 5.886 orang sehingga menjadi 130.869 orang. Pada jenjang pendikan Sekolah Menengah Kejuruan jumlah sekolah sebanyak 223 unit. Jumlah guru sebanyak 4.384 orang, dan jumlah murid sebanyak 75.603 orang.

Selain data tersebut, terdapat juga data Angka Melek Huruf (AMH) di Provinsi Kalbar Tahun 2019yaitu sebesar 93,21 persen. AMHmerupakan proporsi penduduk berusia 15 tahun ke atas yang memiliki kemampuan membaca dan menulis kalimat sederhana dalam huruf latin, huruf arab, dan huruf lainnya (seperti huruf jawa, kanji, dll). Tingkat melek huruf yang tinggi menunjukkan adanya sebuah sistem pendidikan dasar yang efektif dan atau program keaksaraan yang memungkinkan sebagian besar penduduk untuk memperoleh kemampuan menggunakan kata-kata tertulis dalam kehidupan sehari-hari dan melanjutkan pembelajaran. AMH sebesar 93,21 persen artinya adalah sekitar 93 persen penduduk di Provinsi Kalbar yang berumur 15 tahun ke atas dapat membaca dan menulis huruf latin atau huruf lainnya. (*)

loading...