Kekalahan yang Tak Akan Dilupakan Melati Seumur Hidup

Praveen Jordan dan Melati Daeva Oktaviani | JAWA POS

JAKARTA—’’Ini adalah kekalahan paling menyakitkan dalam kariermu?’’ Mendapatkan pertanyaan dari wartawan Jawa Pos Ainur Rohman di mixed zone Arena Birmingham, Inggris, Praveen Jordan terdiam cukup lama.

Satu detik, tiga detik, lima detik…..mulutnya tetap terkunci. Mimiknya menggambarkan antara kebingungan dan kesedihan. Sejurus kemudian, Praveen cepat mengambil tas raket yang dia letakkan di lantai. Pemain 25 tahun itu lantas beranjak. ’’Sudah ya,’’ ucapnya pendek lantas berlalu.

Pasangannya di ganda campuran, Melati Daeva Oktaviani mengikuti Praveen dari belakang. Saat itu, 10 Maret 2019, Praveen dan Melati memang luar biasa terpukul. Dan ternyata, kegagalan melaju ke final All England 2019 tersebut menjadi mimpi buruk pada malam-malam mereka di masa datang.

Hal itu diakui Melati dalam sesi live di akun Instagram resmi PP PBSI, Jumat malam (15/5). “Itu nyesek banget,” kata Melati yang mengaku tidak bisa tidur sampai jam 03.00 pagi pada hari itu.

Pada semifinal All England 2019, Praveen/Melati kandas di tangan ganda campuran nomor satu dunia asal Tiongkok Zheng Siwei/Huang Yaqiong. Hasil itu sungguh sangat menyebalkan. Tidak hanya bagi mereka, tetapi juga bagi penggemar bulu tangkis di seluruh Indonesia.

Betapa tidak, bermain sensasional pada game pertama dan unggul 21-13, Praveen/Melati sudah diambang kemenangan karena leading 20-17. Namun, pasangan yang saat itu menempati ranking 15 dunia itu menyia-nyiakan peluang raksasa di depan mata. Zheng/Huang, ganda campuran peraih delapan gelar pada 2018 dan awal 2019 itu, malah berhasil merebut lima angka beruntun untuk berbalik unggul 22-20.

“Sampai Jakarta, (kejadian) itu terus kebayang. Bahkan itu juga masih terbayang dalam setiap pertandingan. Sampai sekarang juga masih inget. (Kekalahan) itu tidak akan aku lupakan seumur hidup. Itu pasti kebawa. Bahkan setelah menjadi juara, itu masih membekas di hati,” tambah Melati.

Kehilangan game kedua begitu memukul Praveen/Melati. Dan di game penentuan pada laga tersebut, mental Praveen/Melati sudah sangat hancur. Berada di titik terendah, mereka dihajar dengan telak 13-21.

’’Saat unggul itu, kami sangat tegang. Dua poin saya buang dengan mudah,’’ keluh Melati saat itu. ’’Pada set ketiga, kami bukannya tidak berusaha. Namun, mental mereka sudah kuat dan pede. Kami tidak bisa apa-apa,’’ tambahnya.

Praveen mengatakan luar biasa menyesal mengapa tidak bisa menuntaskan pertandingan tersebut. Padahal final salah satu turnamen paling penting di dunia sudah ada di depan mata.

Zheng Siwei sendiri mengakui bahwa dia tidak bermain baik melawan Praveen/Melati. Jadi, dia sangat bersyukur bisa meraih kemenangan dalam pertandingan menegangkan itu. ’’Saya dinaungi keberuntungan,’’ katanya kepada Jawa Pos lantas tersenyum.

Melati menambahkan, meski pada akhirnya mereka juara All England 2020, tetapi kekalahan tersebut masih sangat membekas. “Proses untuk menjadi juara itu sangat panjang. Saat akhirnya juara di Denmark (Open 2019), kami sebelumnya lima kali kalah di final. Bayangkan betapa sakitnya,” kata Melati. (jp)

 

Read Previous

Tak Sabar Gelar Laga Besar, Khabib vs Gaethje

Read Next

Ketar Ketir Jelang Lebaran