Kekerasan terhadap Anak dan Penyelesaiannya

Kasus kekerasan terhadap anak masih ditemukan hingga saat ini. Baik anak sebagai pelaku maupun korban. Perlu upaya dan penanganan untuk meminimalisir segala bentuk kekerasan tersebut.

Oleh: Ghea Lidyaza Safitri

Ketua Komisi Perlindungan dan Pengawasan Anak Daerah (KPPAD) Provinsi Kalbar, Eka Nurhayati Ishak, SE mengatakan kekerasan terbagi atas tiga bentuk, yakni kekerasan fisik, kekerasan psikis, dan kekerasan seksual atau yang telah berganti nama menjadi kejahatan seksual.

Bentuknya beragam, sesuai dengan kekerasan yang dialami. Bentuk kekerasan fisik seperti pemukulan atau penganiayaan. Sifatnya terlihat dari kasat mata dan meninggalkan bekas di lebam, luka dan memar di bagian tubuh.

Kekerasan psikis erat kaitannya dengan emosional dan psikologis dari anak. Contoh kekerasan ini adalah perundungan (bullying), mengancam, mengintimidasi atau korban pernah melihat secara langsung pertengkaran yang dilakukan orang tuanya.

“Sedangkan, kejahatan seksual bentuknya seperti persetubuhan, pencabulan dan sodomi,” ujarnya.
Eka menuturkan rerata korban tindak kekerasan berasal dari kalangan ekonomi menengah ke bawah. Penyebab terjadinya kekerasan pun beragam. Mulai dari kurangnya pemahaman masalah hukum, pengaruh masalah ekonomi di dalam keluarga, yang berkaitan dengan orang tua.

Misalnya, sang ibu bekerja di luar negeri. Sedangkan sang ayah tidak ada di tempat. Sehingga, ada kesalahan dalam pola asuh anak atau berada di dalam lingkungan yang tidak baik. Karena ada istilah ‘the right man is the right place’. Sehingga, anak terjerumus menjadi korban.

Selain itu, lanjut Eka, bisa juga karena pergeseran nilai dan norma yang terjadi sehingga menyebabkan kekerasan pada anak. Misalnya, orang tua sang anak bertengkar dan menjadi anak sebagai sasaran untuk meluapkan emosi. Kemudian, ada juga pola pendidikan.

Eka tidak memungkiri di zaman serba canggih seperti saat ini, akses penggunaan smartphone cenderung bebas. Tanpa adanya pemahaman, smartphone membuat anak tidak berpikir edukasi, tapi secara masif. Anak akan belajar otomatis dan tersistem dari alam yang membentuknya.

Di Kalbar, kasus kekerasan yang paling sering terjadi adalah kekerasan fisik dan kejahatan seksual. Keduanya dinilai saling berkejaran. Di awal tahun 2019, kasus kejahatan seksual paling banyak dilakukan. Namun, dari Mei sampai Juli, KPPAD banyak menangani kasus kekerasan fisik.

Kejahatan seksual di Kalbar lebih banyak mengarah pada pencabulan dan persetubuhan. Untuk paling banyak dialami anak-anak usia 13 tahun sampai 16 tahun. Sedangkan, kekerasan fisik banyak dialami anak-anak usia dibawah 12 tahun, yakni dari usia lima sampai sembilan tahun.

Rerata penyebab kekerasan dilatar belakangi sikap emosional pelaku. Salah satunya, kasus pemukulan yang dilakukan seorang pensiunan ASN kepada anak tetangganya di halaman rumah korban . Masalahnya hanya karena korban mengejek hewan peliharaan pelaku.

“Adapula kasus pria yang memukuli anak pacarnya. Seringkali pelaku tidak menyadari bahwa anak-anak memiliki undang-undang spesial,” ujar Eka.

Setiap bulannya juga ada sekitar lima sampai enam kasus hak asuh anak yang juga termasuk dalam kekerasan psikis. Anak akan merasa bingung ketika dihadapkan pada dua pilihan, yakni ikut dan tinggal bersama ayah atau ibu.

“Terasa semakin sulit ketika keduanya merasa paling benar. Tanpa disadari keduanya bahwa anak akan menjadi korban dari perilaku tersebut,” tambahnya.

Eka menerangkan penanganan yang dilakukan terbagi dalam tiga aspek, dimana hak anak sebagai korban, hak anak sebagai pelaku dan hak anak sebagai saksi. Semuanya tercantum di dalam undang-undang. Penanganan seluruh kekerasan kurang lebih sama.

Pertama, dilakukan pendampingan oleh psikolog klinis. Psikolog akan memberikan trauma healing untuk mengukur tingkat trauma yang dialami anak bersangkutan. Jika angkanya mencapai 8, berarti harus ada penanganan lagi dari psikolog.

Kedua, pendampingan advokasi hukum. Pendampingan dimulai dari kepolisian. Nantinya, dari pendampingan kasus akan naik ke P21 kejaksaan, yakni proses penanganan dan penyelesaian perkara tindak pidana. KPPAD akan tetap mendampingi sampai putusan pengadilan.

Ketiga, pendampingan sosial untuk menimbulkan kembali kepercayaan diri anak dan menghilangkan trauma, takut dan pesimis akibat tindak kekerasan yang dialaminya. KPPAD juga akan mendatangi orang tua dan lingkungan sekolah untuk memberi pemahaman mengenai keadaan anak.

Pemberian pemahaman ini berdasarkan dari hasil tes yang dilakukan psikolog. Eka menyatakan hak kesehatan juga diberikan. Sehingga bukan hanya psikologis, tapi juga jasmaninya. Serta, hak rekreasi agar anak bisa mengeluarkan isi hati dan merasa nyaman.

“Momen ini digunakan untuk melepaskan beban dan pikiran yang ada di dalam dirinya,” jelasnya.
Memperingati hari anak nasional yang jatuh pada tanggal 23 Juli, Eka mengatakan apa yang dilakukan seluruhnya mengacu pada anak-anak. KPPAD dititipkan anak-anak yang bukan lahir dari rahim sendiri, melainkan dari ibu pertiwi.

“Sehingga, KPPAD berperan dalam melaksanakan sesuai dengan ketentuan yang telah diatur oleh undang-undang,” ucapnya.

Apapun yang KPPAD lakukan tidak lari dari tupoksi yang telah ditetapkan, yaitu perlindungan dan pengawasan terhadap anak. Apabila tupoksi yang dilanggar, berarti KPPAD tidak menjalankan sesuai yang diamanahkan oleh negara.

Eka menambahkan KPPAD menyejahterakan dan melindungi anak dari segala bentuk kekerasan yang dapat terjadi. KPPAD akan tetap berada ditengah, disamping korban disebelah kanan, pelaku disebelah kiri, serta saksi di bagian depan dan belakang.

Tetap berdiri ditempat dan menjalankan undang-undang perlindungan anak dan sistem peradilan anak, serta undang-undang perlindungan saksi dan korban. Karena anak-anak spesial dalam hal apapun.
Eka menyatakan salah atau tidaknya, selama usia masih dibawah 18 tahun, anak-anak berhak memperoleh hak-hak sesuai dengan undang-undang yang ada. Agar bisa ditegakkan dengan baik dan benar untuk kepentingan penyelenggaran perlindungan anak di bumi Khatulistiwa. **

Read Previous

Nuril: Amnesti Hadiah untuk Anak Saya

Read Next

Pendiri Parit Banjar Mulai Jadi Pertanyaan

Tinggalkan Balasan

Most Popular