Kemarau Panjang dan Hama Bikin Gagal Panen

GAGAL PANEN: Petani menunjukan sawahnya di Desa Sungai Paduan, Kayong Utara yang mengalami gagal panen akibat hama tikus. ARISTONO/PONTIANAK POST

PONTIANAK – Pertanian padi pada sejumlah titik di Kalimantan Barat mengalami gagal panen. Penyebabnya adalah kemarau panjang yang membuat sawah tadah hujan dan pasang surut kering kerontang. Selain itu, serangan hama membuat situasi semakin parah. Di Sungai Paduan, Kabupaten Kayong Utara misalnya, persawahan di sana banyak terserang hama tikus. Tikus menghabisi lebih dari 80 persen potensi panen para petani.

Karni, petani setempat mengatakan biasanya panen di saat musim basah kira-kira 6 ton per hektare. Tetapi rata-rata panen di sini hanya 2 ton per hektare karena musim kemarau dan terserang hama tikus. Bahkan sawah miliknya hanya menghasilkan dua karung gabah saja. “Tinggal ini yang berhasil diselamatkan. Masih bisa untuk benih musim tanam Oktober nanti,” ujarnya kepada Pontianak Post, kemarin.

Dia menjelaskan, hama tikus sudah puluhan tahun ada. Namun belakangan ini populasinya meningkat tak dan tak terkendali. Para petani dan warga pun sudah melakukan berbagai upaya untuk membasminya. Mulai dari penggunaan racun tikus, pukat, perangkat tikus, hingga turun beramai-ramai melakukan perburuan tikus. Namun hingga sekarang belum mendapatkan hasil yang memuaskan.

“Sekarang makin parah, lihat saja sendiri,” ujarnya kepada sembari menunjuk hamparan padi miliknya yang habis dilalap tikus. Padi-padi itu terlihat seperti diketam. Padahal digigit tikus. Menurut dia, hama tikus jauh lebih berbahaya dari burung dan serangga. Pasalnya tikus mengerat batang padi, sehingga seluruh daun dan bulir padi ikut mati.

Hal serupa terjadi di Kabupaten Ketapang. Kepala Dinas Pertanian, Peternakan dan Perkebunan Kabupaten Ketapang, Sikat Gudag mengatakan di musim kemarau ini banyak petani yang tidak berani menanam padi. Pasalnya risiko gagal panen cukup besar. Terutama di sawah tadah hujan maupun sawah pasang surut. Hama tikus pun cukup tinggi akhir-akhir ini. “Sebanyak 20 persen lahan pertanian padi terserang hama tikus,” ungkap dia.

Pengamat pertanian, Sigit Sapta Wibowo mengatakan musim kemarau kali ini memang sangat panjang di Kalbar. Sementara sebagian besar lahan pertanian di Kalbar bertipe tadah hujan dan pasang surut. Karena suhu yang tinggi tanah menjadi pecah. Sementara untuk membasahi sawah, masih banyak petani yang belum memiliki sumur bor atau sumber air lainnya.

Namun, kata dia, ada beberapa benih yang cocok ditanam pada kondisi cuaca dan tipe tanah seperti itu. Misalnya, Bank Indonesia dan Balai Pengkajian Teknologi Pertanian bersama Gapoktan Pematang Ubi Jaya, Pesaguan Kiri, Matan Hilir Ketapang baru saja memanen padi di lahan demplot seluas satu hektare.
Benih yang digunakan adalah Tropico yang cocok untuk tanah rawa, tahan cuaca panah dan hama wereng serta jamur. “Hasilnya lumayan. Gabah panennya rata-rata 6,5 ton per hektare dan gabah kering gilingnya 5,5 ton. Hasil ini sangat baik di tengah musim panas seperti ini,” pungkas dia. (ars)

Read Previous

Dinkes Fokus pada Yankes Dasar

Read Next

BI Kalbar Implementasikan QRIS

Tinggalkan Balasan

Most Popular