Kemerdekaan Belajar

Oleh: Aswandi

MENTERI Pendidikan dan Kebudayaan RI pada upacara bendera peringatan Hari Guru Nasional (HGN) tahun 2019 di Jakarta menyampaikan pidato sedikit berbeda; singkat dan padat. Diakuinya, pidato tersebut apa adanya, disampaikan dari lubuk hati yag tulus. Satu kalimat singkat penulis kutip dari pidato tersebut, yakni “… Satu hal yang pasti, saya akan berjuang untuk kemerdekaan belajar di Indonesia…”. Bapak menteri mengatakan prinsip birokrasi dan regulasi bidang pendidikan sering kali menghambat inovasi dan  kemerdekaan belajar. Beliau mengajak para  guru Indonesia untuk melakukan perubahan kecil, antara lain mengembangkan diskusi kelas dan siswa mengajar.  Mengingat pentingnya kemerdekaan belajar itu, maka sebelum menutup pidatonya, beliau kembali menegaskan #Merdeka Belajar dan #Guru Penggerak”.

Merdeka belajar dan guru penggerak bukanlah suatu yang baru dalam dunia pembelajaran. Penganut ideologi humanistik dalam pembelajaran telah mendikusikan secara mendalam dua tema tersebut lebih dari setengah abad yang lalu. Pada tahun 1969 Carl Rogers mempublikasikan sebuah buku berjudul “Freedom to Learn”. Pada pengantar buku tersebut, Lima puluh tahun lalu, ia mengatakan, “Sekolah kita umumnya sangat tradisional, konservatif, birokratis dan resisten terhadap perubahan. Satu cara yang harus dilakukan untuk menyelamatkan generasi muda ini adalah melalui kemerdekaan belajar”. Pada tahun 1962 Everett M. Rogers menulis buku berjudul “Diffusion of Innovation” dimana pada buku tersebut memuat satu bab tersendiri tentang pengerak atau agen perubahan.

Indonesia telah merdeka selama 74 tahun, semestinya pembangunan pendidikan mengalami kemajuan, kenyataannya tidak demikian, mutu pendidikan di negeri ini masih sangat rendah. Diantara penyebab rendahnya kualitas pendidikan di Indonesia menurut Daoed Yoesoef, Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Kabinet Pembangunan III (1978-1983) antara lain pembangunan pendidikan tanpa konsep yang jelas. Dengan perkataan lain, mengurus pendidikan dengan kepala kosong, ada kesan urusan pendidikan diserahkaan kepada mereka yang bukan ahlinya, dan pendidikan dipermainkan. Mengutip John Maxwell, ketika semua (sukses dan gagal) tergantung pada pembelajaran, namun sayangnya pembelajaran belum merdeka dan belum memerdekakan.

Sandy MacGregor (2000) dalam bukunya “Piece of Mind” menyatakan anak-anak usia 0-5 tahun (usia PAUD) memperoleh lebih banyak data dan fakta dari pada mahasiswa selama lima tahun kuliah di perguruan tinggi karena anak-anak mendapat kemerdekaan dalam tumbuh kembangnya, Mereka menikmatinya dan sangat senang melakukannya, sementara banyak mahasiswa mengalami stress dalam perkuliahannya. Mereka masih banyak dihantui rasa takut kepada dosennya.

Bukti lain, pikiran manusia kurang berkembang. Gardner seorang pakar kecerdasan ganda mencatat bahwa pikiran manusia tidak sekolah (unschool mind), pada siswa duduk manis mendengar gurunya bertutur, sebesar 97% pikiran manusia masih tertidur nyenak akibat dari proses pembelajaran yang belum memerdekakan itu, demikian pula Martin Seligman menegaskan bahwa ketidak berdayaan manusia akibat dari proses pembelajaran tidak merdeka yang dialaminya.

Sebuah ilustrasi, Rockefeller University di New York City, sebuah universitas swasta ternama, berdiri tahun 1901, alumninya telah menghasilkan 24 orang ilmuan penerima nobel. Selain sumber daya yang dimilikinya, faktor yang sangat mempengaruhi kesuksesan dan prestasi akademik alumni universitas tersebut adalah “Kemerdekaan dalam Pembelajaran” (freedom of learning).

Sejak berdiri, Universitas Rockefeller telah memeluk struktur terbuka untuk mendorong kolaborasi antar disiplin dan sumber daya fakultas, berani mengambil “high-risk” dan “high-reward project”, tidak ada departemen formal, birokrasi dikesampingkan, para dosen dan peneliti diberi sumber daya, dukungan dan kebebesan secara tidak terbatas mengikuti kemanapun dan dimanapun ilmu itu berada. Pada jenjang pasca sarjana diterapkan, “Learning Science by Doing Science” berbasis adat dan budaya setiap peserta didik.

Harvard University sebuah universitas prestesius di dunia hingga saat ini juga melakukan hal yang sama, yakni memberikan kemerdekaan dalam pembelajaran, contoh kasus, jika dosen dinilai oleh mahasiswanya tidak mampu menyampaikan perkuliahan secara efektif, maka para mahasiswa meminta dosennya untuk memilih; dosen atau mahasiswa yang harus keluar meninggalkan ruang kelas”.

Hal yang sama “Kemerdekaan dalam Pembelajaran” juga diterapkan di Finlandia, sebuah negara yang dikenal memiliki mutu pendidikan terbaik dunia. misalnya tidak ada kurikulum dan evaluasi standar secara nasional, semua diserahkan pada kebebasan sekolah masing-masing.

Mengutip pendapat Nyoman Degeng bahwa kemerdekaan belajar bermula dari sebuah asumsi atau pandangan bahwa pengetahuan adalah non-objektif, bersifat temporer, selalu berubah dan tidak menentu.

Belajar adalah penyusunan atau membentuk pengetahuan dari pengalaman konkrit, aktifivitas kolaboratif, refleksi dan interpretasi. Sementara mengajar adalah menata lingkungan agar si belajar termotivasi dalam menggali makna serta menghargai ketidakmenentuan. Akibatnya, siswa memiliki pemahaman yang berbeda terhadap pengetahuan tergantung pada pengalamannya, dan presfektif dan interpretatif. Dan sukses mengajar ditentukan oleh kesiapan siswa untuk belajar atau readness of learning.

Tujuan pembelajaran yang memerdekakan menekankan pada belajar bagaimana belajar; menciptakan pemahaman baru yang menuntut aktivitas kreatif-produktif dalam konteks nyata (kontektual) yang mendorong siswa untuk berpikir, memikir ulang dan mendemonstrasikan.

Kemerdekaan belajar memerlukan penataan lingkungan belajar dalam suasana kondusif sekalipun terlihat tidak teratur, tidak pasti, dan semeraut. Sebuah asumsi, orang belajar harus bebas (freedom of learning). Hanya di alam yang penuh kebebasan tersebut si belajar dapat mengungkapkan makna yang berbeda dari hasil interpretasi terhadap segala sesuatu yang ada di dunia nyata. Kebebasan menjadi unsur yang esensial dalam lingkungan belajar.

Kegagalan atau keberhasilan, kemampuan atau ketidakmampuan dilihat sebagai interpretasi yang berbeda yang perlu dihargai. Kebebasan dipandang sebagai penentu keberhasilan belajar. Siswa adalah subjek, bukan objek, Mereka harus mampu menggunakan kebebasan untuk melakukan pengaturan diri dalam belajar. Hal yang sangat penting bagi pembelajaran yang memerdekakan itu dimana kontrol belajar dipegang oleh diri siswa sendiri, bukan orang lain.

Sebaliknya, praktek pembelajaran yang tidak memerdekakan selama ini tampak dimana si belajar dihadapkan dan ditetapkan pada aturan yang jelas dan ketat. Pembelajaran lebih banyak dikaitkan dengan penegakan disiplin, bahkan kegagalan atau ketidakmampuan dalam penambahan pengetahuan dikategorikan sebagai kesalahan yang perlu dihukum sehingga ada kesan “Sekolah tempat menuntut ilmu lebih kejam ketimbang penjara”, demikian Bernard Shaw sebagaimana dikutip dari Naomi (1999) dalam buku “Menggugat Pendidikan”.

Strategi pembelajaran yang memerdekakan, menekankan pada penggunaan pengetahuan secara bermakna dan proses pembelajaran lebih banyak diarahkan untuk meladeni pertanyaan atau pandangan siswa. Aktivitas belajar lebih menekankan pada ketrampilan berfikir kritis, analisis, membandingkan, generalisasi, memprediksi, dan menyusun hipotesis.

Pelaksanaan evaluasi dalam pembelajaran yang memerdekakan menekankan pada proses penyusunan makna secara aktif yang melibatkan ketrampilan terintegrasi dengan menggunakan masalah dalam konteks nyata.

Evaluasi menggali munculnya berfikir divergen, pemecahan masalah secara ganda atau tidak menuntut satu jawaban benar karena pada kenyataannya tidak ada jawaban siswa yang salah, yang ada adalah pertanyaan pendidik yang salah.

Evaluasi merupakan bagian utuh dari belajar dengan cara memberikan tugas yang menuntut aktivitas belajar yang bermakna serta menerapkan apa yang dipelajari dalam konteks nyata, artinya evaluasi lebih menekankan pada ketrampilan proses dalam kelompok.

*) Penulis adalah Dosen FKIP Untan

 

Read Previous

Sengketa Pilkades Sengah Temila Berakhir Damai

Read Next

Epson Indonesia Meriahkan Konser Magenta Orchestra 15 dengan Projection Mapping

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *