Kenalkan Ibadah pada Buah Hati

Setiap orang tua pasti ingin buah hatinya berperilaku baik. Rajin beribadah dan taat menjalankan perintah agamanya. Lantas, kapan waktu yang tepat untuk mengenalkan pentingnya beribadah pada anak?

Oleh: Ghea Lidyaza Safitri

Psikolog Endah Fitriani, M.Psi mengatakan orang tua merupakan pendidikan utama, pertama dan sangat berpengaruh pada proses perkembangan anak-anaknya. Dari keduanya lah anak mulai menerima pendidikan.

“Dengan demikian bentuk pertama dari pendidikan terdapat dalam kehidupan keluarga. Terutama seorang ibu yang memiliki hubungan batin terhadap anak, semenjak masih dalam kandungan,” ujar Endah.

Endah Fitriani // Psikolog

Setelah anak telah mengenal dunia sekolah, lingkungan sekitarnya, sewajarnya sebagai orang tua, baik ayah maupun ibu selalu mengontrol dan memantau anak menghadapi pengaruh dari luar.

Hal ini dikarenakan kepribadian orang tua, sikap, dan cara hidupnya merupakan unsur-unsur pendidikan yang dengan sendirinya akan masuk ke dalam pribadi anak yang sedang dalam masa pertumbuhannya.

Keberhasilan pendidikan yang didapat pada diri seseorang bergantung pada keberhasilan pendidikannya pada masa kanak-kanak, dimana anak adalah generasi penerus dalam proses perkembangan serta pendidikan.  Anak harus mendapatkan bimbingan dari orang lain. Untuk menanamkan nilai-nilai keagamaan serta dapat mengamalkannya dalam kehidupan sehari-hari pada diri anak, maka peran orang tua sangat diperlukan.

Orang tua bisa mulai memberikan pemahaman mengenai nilai-nilai keagamaan dengan mengajarkan anak salat sejak usia dini agar terbiasa salat dan memahami kewajibannya saat ia dewasa kelak.

Endah menuturkan tak ada salahnya orang tua mengenalkan salat sedini mungkin, meski usia ideal untuk memerintahkan anak menjalankan salat adalah saat usianya mencapai tujuh tahun.

Pada bulan suci Ramadan ini, orang tua juga sudah bisa memperkenalkan anak pada ibadah puasa.

“Namun, pada tahap awal pengenalan puasa, yakni bagi anak berusia lima sampai tujuh tahun, sebaiknya mulailah mengajarkan anak untuk berpuasa selama tiga sampai jam dalam sehari terlebih dahulu. Atau, bisa juga dengan menunda waktu sarapan anak,” ungkapnya.

Semangat atau tidaknya anak dalam menjalankan ibadah, bergantung pada orang tuanya. Karena orang tua merupakan panutan untuk anak. Jika orang tua rajin beribadah dan dilihat oleh anak, anak akan mengikutinya.

“Bisa juga orang tua mengajak anak untuk bersama-bersama melakukan ibadah,” tambah Endah.

Ibu satu anak ini mengungkapkan orang tua dan anak akan sama-sama mendapatkan manfaat rajin beribadah, yakni dapat berfikir jernih, memahami tujuan hidup, merasa lebih tenang dan damai, dapat mengontrol emosi dan mencapai kesuksesan.

Namun, masih ada sebagian orang tua yang beranggapan belum perlu memberi pemahaman dan mengajak buah hatinya rajin beribadah. Terlebih jika usia buah hatinya masih di bawah tujuh tahun.

“Itu kembali lagi pada pola pikir orang tua. Dalam perjalanan mengenalkan dan mengajak buah hati beribadah, hindari untuk memaksa. Paksaan justru akan membuat anak mudah mengalami stres, menghindar atau lari tak mengikutinya,” pungkasnya.**

error: Content is protected !!
Hubungi Kami!