Kepala Daerah Diminta Swab Massal

RAPID TEST: Sejumlah pelajar mengikuti rapid test di sekolahnya, Senin (27/7). Tes cepat dilakukan sebagai persiapan menghadapi pembelajaran tatap muka. HARYADI/PONTIANAKPOST

Guru dan Pelajar Positif Covid-19

  1. SMAN 1 Pontianak : 1 orang pendamping lab*
  2. SMPN 1 Pontianak : 3 orang guru
  3. SMAN 2 Pontianak : 2 orang guru
  4. SMAN 3 Pontianak : 2 orang guru dan 1 murid
  5. SMAN 1 Ketapang : 6 orang murid
  6. SMPN 1 Ketapang : 2 orang murid
  7. SMPN 1 Sambas : 3 orang murid
  8. SMAN 1 Ngabang : 2 orang murid
  9. SMPN 1 Ngabang : 1 orang guru

Total : 23 orang

Sumber : Dinkes Kalbar

Catatan: *Sudah dinyatakan sembuh dan pemeriksaan ulang

Jumlah Guru dan Murid Positif Covid-19 Capai 23 Orang

PONTIANAK – Provinsi Kalimantan Barat (Kalbar) kembali mencatatkan enam tambahan kasus konfirmasi (positif) Covid-19 baru pada Senin (10/8). Keenam warga yang positif ini terdiri dari para guru dan pelajar yang tersebar di beberapa daerah se-Kalbar. Kepala Dinas Kesehatan Kalbar Harisson mengungkapkan, kasus baru ini diketahui berdasarkan pemeriksaan laboratorium RS Untan.

“Keenam orang ini terdiri dari pelajar dan guru ya, nah itu SMAN 1 Ketapang ada dua orang pelajar, SMPN 1 Ketapang satu orang pelajar, terus SMAN 1 Ngabang di Kabupaten Landak dua orang pelajar dan SMPN 1 Ngabang satu orang guru,” ungkap Harisson, Senin (10/8).

Harisson menjelaskan, memang untuk mempersiapkan proses kegiatan belajar mengajar secara tatap muka di sekolah, Dinkes Kalbar dibantu Dinkes kabupaten/kota telah melakukan swab dan rapid test terhadap guru dan pelajar di seluruh Kalbar. Untuk saat ini sekolah yang dilakukan pemeriksaan adalah, sekolah yang berada di ibukota kabupaten/kota.

“Nah kami sudah memeriksa, yang sudah kami masukkan ke lab Untan itu sebanyak 604 orang sampel (untuk RT-PCT), dari guru dan petugas lainnya,” katanya.

Dari jumlah tersebut sejauh ini sudah didapatkan hasil ada delapan orang guru yang kasus konfirmasi (positif) Covid-19 dan satu orang tenaga pendamping laboratorium di SMAN. “Jadi kalau kami buat persentase 604 orang yang diperiksa ada sembilan orang yang positif jadi sekitar 1,5 persen,” jelasnya.

Sedangkan untuk para pelajar yang sampel swab sudah diperiksa oleh Lab RS Untan ada sebanyak 495 pelajar. Dimana 14 orang diantaranya telah dinyatakan kasus konfirmasi Covid-19. Artinya ada sekitar 2,8 persen pelajar dinyatakan positif dari total 495 yang diperiksa.

“Jadi untuk murid-murid dan guru yang dinyatakan kasus konfirmasi ini langsung kami isolasi. Kalau di Kota POntianak di Rusunawa, di kabupaten lain juga langsung diisolasi di rumah-rumah siolasi yang disipakan pemerintah kabupaten/kota,” paparnya.

Dengan adanya temuan kasus Covid-19 terhadap para guru dan pelajar ini, Harisson mengingatkan kepada masyarakat, bahwa sebenarnya di daerah ini ada sekitar dua sampai tiga persen orang yang sebenarnya terkonfirmasi Covid-19. Namun orang-orang ini dalam keadaan asimtomatik atau tanpa gejala.

“Ini kalau memang mereka masih di luar dan kami tidak dapat mendeteksinya, mereka akan terus menularkan ke masyarakat yang lain. Untuk itu masyarakat saya ingatkan untuk benar-benar menjaga protokol kesehatan,” pesannya.

Ke depan pihaknya memastikan bakal terus melakukan pemeriksaan terhadap guru-guru dan pelajar se-Kalbar. Selain itu penelusuran kontak juga sudah dilakukan pada guru dan pelajar yang sudah dinyatakan positif Covid-19. Hasil penelusuran kontak itu bakal di-swab dan diperiksa dengan RT-PCR di Lab RS Untan.

Harisson mengakui, rata-rata mereka yang dinyatakan positif ini sebenarnya tertular dari transmisi lokal antar masyarakat. Seperti diketahui ia mengatakan, saat ini memang kebanyakan masyarakat sudah melakukan aktivitas seperti biasa dan tidak memperhatikan protokol kesehatan. Hal itu yang kemudian meningkatkan risiko tertular.

“Sekarang kami sudah lihat pada populasi guru dan murid di beberapa daerah di Kalbar. Saya mengharapkan agar orang tua benar-benar memperhatikan mengenai standar protokol kesehatan itu. Jangan sampai dari sekolah kami dapatkan kluster baru dan kenaikan kasus yang (bisa) menyebabkan terjadinya gelombang kedua,” pungkasnya.

Terpisah Gubernur Kalbar Sutarmidji mengatakan, dengan adanya kejadian ini, ia ingin menunda terlebih dahulu rencana kegiatan belajar mengajar secara tatap muka di sekolah. Apalagi tak hanya guru, tapi sudah ada juga murid yang dinyatakan positif Covid-19. “Sehingga saya putuskan sebagai ketua gugus tugas provinsi dalam percepatan penanganan Covid-19 ini saya berharap kepala daerah semuanya melakukan swab massal,” katanya.

Dalam satu minggu ia meminta masing-masing daerah harus bisa mengirimkan minimal 100 sampel. Dengan demikian bisa dipetakan kondisi di suatu wilayah atau daerah untuk kemudian membuka sekolah secara tatap muka. “Saya tidak mau berspekulasi, untuk keselamatan anak-anak didik. Sehingga harus betul-betul,” ujarnya.

Hanya saja masalahnya saat ini, Midji hanya bisa memerintahkan untuk jenjang SMA/SMK sederajat yang memang kewenangannya ada di Pemprov Kalbar. Sementara untuk SD dan SMP menjadi kewenangan bupati/wali kota. Maka dari itu ia mengingatkan kepada masing-masing kepala daerah agar benar-benar matang memutuskan pembukaan sekolah secara tatap muka.

“Apakah anda (kepala daerah) sudah benar-benar melakukan swab secara berkala, atau melakukan Rapid Test, itu harus jadi pertimbangan. Bisa jadi tidak ada kasus di suatu daerah karena tidak melakukan tes, jadi bukan berarti bebas Covi-19,” paparnya.

Ia meminta terus lakukan swab dan sampelnya bisa dikirim ke Pemprov untuk dites di Lab RS Untan. Pemprov yang akan menanggung biaya pengujian sampel tersebut. Karena cukup dengan melakukan swab, daerah tidak perlu mengeluarkan biaya yang besar.

“Saya harap ini jadi perhatian dan jangan anggap remeh, jangan sekali-sekali anggap remeh kasus Covid-19 ini,” terangnya.

Saat ini lab RS Untan menurutnya sudah mampu memeriksa sekitar 200-an sampel per hari. Dengan menggunakan dua alat RT-PCR dan ketersediaan reagen-kit yang mencukupi. Orang nomor satu di Kalbar itu mengimbau masyarakat agar tetap disiplin dalam penggunaan masker. Ia yakin jika semua masyarakat menggunakan masker maka akan lebih aman dari penularan. Maka dari itu dirinya sudah meminta para penjahit agar membuat masker kain yang aman. Pemerintah siap membelinya untuk dibagi-bagikan dalam rangka men dukung gerakan setengah miliar masker desa sebagai bagian dari program desa aman Covid-19.

“Kita (Kalbar) saat ini mungkin sudah berapa ratus ribu (masker) yang kami sebar (bagikan), saya akan siapkan cadangan untuk anak-anak sekolah, maka kami siapkan maskernya dan semuanya,” terangnya.

Midji sapaan akrabnya mengatakan bisa saja minggu depan sudah ada satu dua sekolah yang bisa memulai proses belajar mengajar secara tatap muka. Namun dengan syarat semua guru dan muridnya dipastikan sudah terbebas dari Covid-19. “Kalau hasil swab sudah keluar boleh saja, bertahap lah ya, yang penting aman. Dari pada buka tutup lagi karena ada kasus. Dan harus ada izin orang tua, kalau orang tua tidak izinkan tidak apa-apa tetap bisa belajar di rumah saja,” pungkasnya. (bar)

loading...