Kerabat Masih Berharap Korban Bisa Selamat

KUNJUNG:  Jurnalis mengambil video saat Wali Kota Pontianak, Edi Rusdi Kamtono datang ke rumah salah satu korban jatuhnya pesawat Sriwijaya SJ-182. MIRZA/PONTIANAKPOST

Sederet Doa Buat Empat Korban Pesawat Nahas

Suasana duka masih menyelimuti pihak keluarga dari empat korban pesawat nahas Sriwijaya Air SJ-182, Rahmawati, Toni Ismail, Ratih Windania dan Yumna Fanisyatuzzahra. Dalam doa keluarga, tetap berharap mukjizat korban jatuhnya pesawat bisa terselamatkan

MIRZA AHMAD MUIN, Pontianak

KARANGAN bunga tanda duka berjejer di tepi halaman rumah nomor 5, Blok C, Komplek Sepakat Damai, Jalan Dr Wahidin, Kecamatan Pontianak Kota. Di rumah itu, merupakan kediaman dari empat korban kecelakaan pesawat Sriwijaya dengan nomor penerbangan SJ-182, yang jatuh di erairan Kepulauan Seribu, Jakarta Sabtu lalu. Mereka adalah Rahmawati, Toni Ismail, Ratih Windania, dan Yumna Fanisyatuzzahra.

Suasana duka begitu terasa ketika Pontianak Post tiba di rumah tersebut. Terlihat, beberapa tetangga serta handai taulan silih berganti datang  menjenguk keluarga korban. Wali Kota Pontianak, Edi Rusdi Kamtono juga datang kesana. Ucapan belasungkawa diberikan pada pihak keluarga agar tetap tabah dalam menghadapi musibah ini.

“Saya turut berbelasungkawa pada keluarga korban. Ada empat korban yang hingga kini masih dalam pencarian jatuhnya Pesawat Sriwijaya. Dari penuturan pihak keluarga, salah satu korban juga tengah hamil,” tutur Wali Kota Pontianak Edi Rusdi Kamtono, kepada awak media, Selasa (12/1).

Edi melanjutkan, sampai saat ini, ia masih menunggu informasi pasti tentang pencarian korban jatuhnya Pesawat Sriwijaya di Perairan Kepulauan Seribu Jakarta. Dari informasi terbarunya, ada 10 korban yang KTP-nya berdomisili di Pontianak. Sedangkan empat orang korban lainnya, diketahui juga tinggal di Pontianak dengan status bekerja. Sehingga total ada 14 orang warga yang berdomisil di Pontianak.

Untuk mempermudah kepengurusan korban,  iapun berjanji akan  mempercepat kepengurusan administrasi kependudukan. Termasuk kepengurusan akta kematian akan diurus cepat untuk mempermudah keluarga korban dalam kepengurusan berkas bila diperlukan.

Pendampingan psikologis keluarga korban juga akan dilakukan Pemerintah Kota Pontianak melalui Dinas Kesehatan. Menurutnya, akibat kejadian ini, sudah tentu meninggalkan bekas mendalam bagi keluarga korban.

Kejadian kecelakaan pesawat di Indonesia, memang bukan kali pertama. Ia berharap, terjadinya kecelakaan pesawat Sriwijaya menjadi yang terakhir di Indonesia. Otoritas keselamatan penerbangan harus mengevaluasi kejadian  ini, sekaligus menjadi cambuk buat meningkatkan kualitas pelayanan ke depan agar lebih baik. “Jika pesawat sudah tidak layak kenapa diterbangkan,” tegasnya.

Di tempat sama, pihak perwakilan keluarga dari empat korban jatuhnya Pesawat Sriwijaya SJ 182, Hadi Purnomo mengatakan, bahwa pihak keluarga masih berharap dalam pencarian puing pesawat masih terdapat secercah harapan untuk empat keluarganya, yaitu  Rahmawati, Toni Ismail, Ratih Windania dan Yumna Fanisyatuzzahra, bisa selamat.

Namun jika dalam pencarian korban jatuhnya pesawat, dinyatakan keluarganya meninggal dunia, pihak keluarga pun juga sudah  iklas. “Jika memang kehendak allah, sebagai keluarga kita tetap iklas, apapun itu yang terjadi,” ujarnya.

Sampai saat ini, informasi yang didapat tentang pencarian empat keluarganya masih samar. Kebetulan, komunikasi intens terus dilakukan pihak keluarga di Pontianak dengan salah satu anak dari almarhum yang sempat ke Jakarta untuk mencari tahu kabar terbarunya.

“Anak almarhum ada yang tinggal di Bandung. Saat kabar kecelakaan itu,  ia langsung ke Jakarta untuk mencari informasi. Namun sekarang telah kembali ke Bandung untuk bekerja. Tapi kita tidak putus komunikasi. Mudah-mudahan semua korban cepat ditemukan,” tutupnya.(**)

error: Content is protected !!