Kerusakan Cagar Alam Mandor Kian Meluas, Dulu Hutan Kini Gurun

AKIBAT PETI: Maraknya pertambangan emas tanpa izin (PETI) di Cagar Alam Mandor membuat kawasan yang semula hijau ini kini menjadi hamparan pasir putih mirip gurun.  

PONTIANAK – Cagar Alam (CA) Mandor yang terletak di Kecamatan Mandor, Kabupaten Landak  merupakan miniatur ekosistem hutan Kalimantan Barat. Terdapat tiga tipe ekosistem yang ada di kawasan seluas 3.080 hektare ini, antara lain tipe ekosistem rawa gambut, ekosistem dataran rendah dan ekosistem kerangas.

“Dengan keragaman tipe ekosistem yang ada di Cagar Alam Mandor, potensi keanekaragaman hayati Cagar Alam Mandor cukup tinggi,” kata Kepala Balai KSDA Kalbar, Sadtata Noor Adirahmanta.

Namun sangat disayangkan, kata Sadtata, saat ini perubahan tutupan lahan yang ada di CA Mandor semakin terlihat. Kawasan yang semula hijau kini menjadi hamparan pasir putih mirip gurun yang semakin meluas. Perubahan ini dikarenakan hilangnya vegetasi serta pohon dengan rimbunnya kanopi sebagai selimut kawasan telah berubah menjadi hamparan pasir putih akibat penambangan emas ilegal. “Pembolak-balikan lapisan tanah berlangsung terus menerus mengakibatkan tumbuhan pionir pun seakan tidak mampu menjejakkan akarnya untuk tumbuh di kawasan ini,” jelasnya.

Tak hanya kawasan yang gersang, saat ini pendangkalan sungai juga sudah mulai terjadi. Sungai Mandor yang dahulu digunakan masyarakat Desa Mandor untuk media transportasi sekarang tidak dapat digunakan lagi. Bahkan kapal-kapal kecil sebagai alat transportasi yang dimiliki masyarakat kini tidak dapat difungsikan kembali. “Hal ini salah satunya karena sedimentasi aktivitas ilegal penambangan emas yang berdampak ke sungai ini,” ungkapnya.

Tak hanya sampai di situ, dalam penambangan emas biasanya menggunakan zat merkuri. Zat ini digunakan untuk memisahkan biji emas dari butiran tanah sampai dengan proses pemurniannya. Limbah merkuri bisa mengancam kesehatan manusia jika digunakan secara tidak tepat. Jika melihat kasus penambangan emas tanpa izin, paparan zat merkuri dapat melalui air dan tanah. Dampak kronis yang mungkin timbul dalam jangka waktu tertentu adalah kerusakan saraf pusat, ginjal, paru-paru, hati dan gangguan pencernaan. Dampak lain yang mungkin timbul pada janin adalah bayi lahir pada kondisi cacat mental, kebutaan dan gangguan gerakan otot.

Dari perubahan tutupan lahan yang terjadi rentang tahun 1995-2014, dapat terlihat perubahan warna putih yang semakin meluas pada kawasan Cagar Alam Mandor. Warna putih merupakan indikator rusaknya kawasan akibat penambangan ilegal. Semakin luasnya bagian kawasan yang rusak maka berdampak besar pula bagi penghuninya. Keberadaan tumbuhan dan satwa liar yang dahulu banyak dijumpai kini semakin sulit untuk ditemui. Ancaman kepunahan jenis tumbuhan dan satwa liar di alam semakin terlihat.

Kepala Balai KSDA Kalbar, Sadtata Noor Adirahmanta, mengatakan, “Kerusakan Cagar Alam Mandor menjadi kerugian seluruh masyarakat Kalimantan Barat. Kehilangan spesies alami tidak dapat kita kembalikan jika tidak mampu kita cegah. Tugas kita sebagai pewaris kekayaan alam untuk mempu memenuhi amanat anak cucu kita menjaga kelestarian hutan Kalimantan Barat.”

Cagar AlamMandor saat ini sedang membutuhkan perhatian serius dari masyarakat Kalimantan Barat. Kerusakan yang terjadi memerlukan tindakan spesifik untuk memulihkannya. Balai Konservasi Sumber Daya Alam Kalimantan Barat sebagai pemangku wilayah telah menyusun Grand Design Pengelolaan Kawasan Cagar Alam Mandor. “Usaha pemulihan ekosistem Mandor tidak dapat dilaksanakan oleh satu pihak saja namun dibutuhkan kerjasama multipihak guna memperoleh hasil yang maksimal,” katanya.

Koordinator Publikasi BKSDA Kalbar, Eni Ratnawati menjelaskan, potensi keanekaragaman hayati kawasan Cagar Alam Mandor antara lain terdiri dari kekayaan jenis pohon, tumbuhan bawah serta satwa liar. Terdata kawasan pada kawasan ini didominasi oleh jenis Shorea, Rengas, Jelutung dan Tengkawang. Jenis Ramin juga pernah terdata menghuni kawasan ini.

Selain tumbuhan berkayu, potensi tumbuhan bawah di kawasan CA Mandor dihuni oleh berbagai macam tumbuhan karnivor seperti Nepenthes ampularia, Nepenthes mirabilis, Nepenthes gracilis dan Nepenthes bicalcarata.

Tidak ketinggalan bahwa jenis anggrek menjadi potensi yang cukup mencuri perhatian. Sebut saja Anggrek Hitam yang dahulu sempat viral akan kemolekannya. Anggrek Hitam ini menghuni hamparan kawasan CA Mandor bersama jenis anggrek lainnya seperti Anggrek Tanah, Anggrek Kuping Gajah, Anggrek Tebu, dan Anggrek Lilin.

Selain kekayaan jenis flora, kawasan yang luasnya mencapai lebih dari 4.300 kali luas lapangan sepakbola ini juga dihuni oleh berbagai satwa liar. Terdata Beruang Madu, Kelempiau, Kucing Hutan, landak, Rusa Sambar dan juga Binturong menjadi penghuni kawasan ini. Terdapat pula jenis Enggang yang terlihat terbang di kawasan ini bersama Elang Bondol, Alap-Alap Capung dan Raja Udang. Burung Ruai yang menjadi ikon Suku Dayak selain Enggang juga terdata pernah tinggal di kawasan ini.

Cagar Alam Mandor, sebuah kawasan konservasi yang cukup fenomenal di Kalimantan Barat. Berada di Kecamatan Mandor, Kabupaten Landak, menuju kawasan ini cukup ditempuh kurang lebih dua jam menggunakan jalan darat dari ibu kota Provinsi, Pontianak. Aksesnya pun mudah dilalui karena telah dibangun jalan aspal sampai di pinggir kawasan.

Tak hanya kekayaan alamnya yang begitu banyak, ternyata CA Mandor juga menjadi saksi perjuangan Pahlawan Kemerdekaan Kalimantan Barat. Banyak Pahlawan perjuangan kemerdekaan gugur dan dimakamkan di Makam Juang Mandor yang letaknya persis di samping Cagar Alam ini. Makam-makam ini dahulu menjadi lokasi pembantaian pejuang kemerdekaan oleh tentara Jepang. Tragedi kemanusian pada masa perjuangan ini dikenal dengan Tragedi Mandor Berdarah. Untuk memperingatinya, Pemerintah Daerah Provinsi Kalimantan Barat menetapkan 28 Juni sebagai Hari Berkabung Daerah.

Jika kita melihat ke dalam bangunan situs Monumen Makam Juang Mandor, kita dapat melihat beberapa kompleks makam. Makam-makam ini berjumlah sepuluh makam dengan perbedaan penggunaannya. Makam satu sampai dengan sembilan adalah makam yang diperuntukkan menguburkan bagi rakyat biasa dari berbagai kalangan dan etnis di Kalimantan Barat.

Sedangkan makam ke sepuluh merupakan makam tempat pembantaian Raja dan orang-orang berpengaruh di Kalimantan Barat pada saat itu. Komplek pemakaman ini dibatasi dengan dinding beton dan dihiasi relief yang menggambarkan peristiwa pembantaian pada kala itu. Terdapat juga lapangan terbuka yang dahulu difungsikan sebagai lokasi pembunuhan massal tersebut.

Kepala Balai KSDA Kalbar, Sadtata Noor Adirahmanta, menegaskan bahwa nilai penting Cagar Alam Mandor bukan saja dalam kerangka kebutuhan pelestarian ekosistem. “Namun juga menjadi salah satu bagian penting sejarah perjuangan kemerdekaan di Kalimantan Barat.” (ris)

error: Content is protected !!