Kesejahteraan Petani Kalbar Paling Tinggi

MENINGKAT: Sejumlah petani sedang memanen padi. Tingkat kesejahteraan petani di Kalimantan Barat sudah semakin membaik. Hal ini tercermin dari Nilai Tukar Petani (NTP) pada Desember 2020 yang kembali naik. JAWAPOS

PONTIANAK – Covid-19 membuat hampir semua sektor usaha pada tahun lalu meredup. Kendati demikian sektor pertanian ternyata mampu tumbuh baik. Tingkat kesejahteraan petani yang tercermin dari Nilai Tukar Petani (NTP) di Kalimantan Barat (Kalbar) pada Desember 2020 kembali mengalami kenaikan.

Badan Pusat Statistik (BPS) Kalbar mencatat NTP Kalbar pada bulan tersebut sebesar 117,01 poin, naik 1,77 persen dibanding NTP bulan November 2020 114,97 poin. Angka ini jadi yang tertinggi bila dibandingkan dengan NTP di provinsi lainnya di Kalimantan.

“Hal ini disebabkan Indeks Harga yang Diterima Petani naik 2,17 persen, sedangkan Indeks Harga yang Dibayar Petani naik 0,39 persen,” ungkap Kepala BPS Kalbar, Muh Wahyu Yulianto, belum lama ini.

Dari empat subsektor pertanian, NTP Tanaman Perkebunan Rakyat (NTPR) tercatat paling tinggi, yakni sebesar 127,85 poin, lebih besar dibanding NTP bulan November 2020 124,75 poin. Subsektor lainnya, yakni NTP Tanaman Padi dan Palawija (NTPP) sebesar 96,67 poin, NTP Hortikultura (NTPH) 105,30 poin, NTP Peternakan (NTPT) 96,44, serta NTP Perikanan (NTPN) Desember 2020 103,90 poin.

Dikatakan Wahyu, bila dibandingkan NTP antarprovinsi di Pulau Kalimantan, Kalbar tercatat yang paling tinggi. Adapun NTP Kalimantan Tengah 107,99 persen, NTP Kalimantan Selatan 105,37 persen, NTP Kalimantan Timur 114,97 persen, dan Kalimantan Utara 103,43 persen. Bahkan, NTP Kalbar berada di atas NTP Nasional yang hanya sebesar 103,25 persen

Kepala Dinas Perkebunan Kalbar, Heronimus Hero menilai kenaikan NTP menunjukkan adanya kenaikan pendapatan petani di provinsi ini. Kenaikan pendapatan itu dinilainya seiring dengan meningkatnya harga-harga komoditas strategis pertanian, khususnya kelapa sawit dan karet.

“Terutama sektor perkebunan yang saat ini sedang berjaya,” ungkap Hero.

Kondisi ini, lanjut dia, juga menunjukkan bahwa subsektor perkebunan mampu bertahan di tengah pandemi covid-19 yang melanda. Perkebunan bahkan mampu memberikan jaminan ekonomi yang lebih baik di tengah dampak negatif pandemi terhadap perekonomian dunia. Tak hanya sawit dan karet, komoditas perkebunan lainnya, menurut dia juga tak kalah bergairah.

“Tidak Tanya sawit dan karet, tapi kopi, pinang, dan komoditas lainnya juga sedang bergairah,” pungkas dia.

Ekspor Sawit Bergairah

Sementara itu, Gabungan Pengusaha Kelapa Sawit Indonesia (Gapki) mendata, ekspor produk minyak sawit bulan Oktober 2020 mencapai 3,028 juta ton naik 9,5 persen dibandingkan dengan bulan September dan secara nilai naik 10,7 persen menjadi USD2,073 miliar dari USD1,872 miliar pada bulan September.

“Kenaikan yang tinggi terjadi pada produk olahan minyak sawit menjadi 1.956 ribu ton dari 1.766 ribu ton pada September, dan produk oleokimia menjadi 408 ribu ton dari 313 ribu ton pada bulan September,” Ungkap Direktur Eksekutif Gapki, Mukti Sarjono.

Dia melanjutkan, secara YoY sampai dengan Oktober, volume ekspor 2020 memang masih lebih rendah 10,8 persen dari 2019, tetapi secara nilai lebih tinggi 14.8 persen. Menurutnya, hal ini  disebabkan harga rata rata bulanan sampai dengan Oktober pada tahun 2020 mencapai USD676 per ton dibandingkan tahun 2019 yang hanya mencapai USD535 per ton (cif Rotterdam).

“Berdasarkan negara tujuan, lanjut dia, kenaikan ekspor tertinggi terjadi untuk tujuan India yang naik dari 351,95 ribu ton pada bulan September menjadi 481,69 ribu ton pada bulan Oktober, diikuti dengan ke USA yang naik 44,31 ribu ton menjadi 150,63 ribu ton,” sebut dia. (sti/ars)

error: Content is protected !!