Ketahanan Pangan di Era Pandemi

opini pontianak post

Oleh: Rasiam

Tulisan ini terinspirasi dari perjalanan ke beberapa pelosok desa. Petani dan beberapa kepala desa menjadi teman bicara seputar kehidupan dan pengidupan di era sulit. Ketahanan pangan, begitu kira-kita tema pokok diskusi kami. Penulis ingin mengkonfirmasi langsung ke pelaku, bukan sekadar berasumsi.

Hasil perbincangan tersebut terkonfirmasi dengan hasil bacaan akademik yang selama ini tergeluti. Pada tahun 2018 yang lalu, penulis pernah memproduksi hasil penelitian dengan judul “Manajemen Ketahanan Pangan berbasis Agribisnis Pondok Pesantren di Kubu Raya”.

Terkait pangan, sejenak kita mengonfirmasi dan membaca ulang sejarah kaum Muhajirin dan Ansor. Saat itu telah terjadi akulturasi budaya sehingga terwujud harmonisasi dua kelompok besar yang mempunyai latar belakang berbeda. Ansor sebagai masyarakat lokal dan muhajirin adalah masyarakat pendatang.

Catatan singkatnya, kelompok Ansor mengarahkan kelompok Muhajirin pendatang untuk melakukan produktivitas di bidang pertanian, sementara kelompok Ansor menyiapkan lahan pertanian dengan ukuran yang sangat luas. Mereka bekerjasama dan bekerja keras demi menghasilkan pangan. Sejarah mencatat, Ansor dan Muhajirin sukses membawa kesejahteraan dan peradaban.

Sekitar abad 18, muncul istilah ‘pemerintahan alam’. Mereka berkeyakinan bahwa kesejahteraan negara hanya bisa dicapai dengan gerakan agrikultur. Mazhab ini terkenal dengan nama Psiokrat. Berbeda dengan mazhab Merkantalis, mereka mengukur kesejahteraan dengan mengumpulkan modal sebanyak-banyaknya untuk perdagangan.

Era pandemi ini, sangat tidak cocok cara merkantalis untuk diterapkan, ambruknya sektor dagang dan jasa karena lockdown dan PSBB. Saatnya pemerintah memainkan nalar ‘Psiokrat’ dengan menggerakkan sektor pertanian dan perkebunan.

Kasus covid 19 yang dinyatakaan oleh WHO sebagai pandemi, menghawatirkan kehidupan sosial dan ekonomi masyarakat utamanya pangan. Bayangkan saja, pertumbuhan ekonomi di beberapa negara turun drastis. Tiongkok, Amerika, Spanyol, Italia turun drastis. Indonesia dari 5 persen terjun ke 2 persen. Hal ini menjadi gambaran bahwa wabah ini tidak hanya perdampak pada kesehatan manusia, akan tetapi multiplier efect pada kehidupan sosial, agama, dan ekonomi.

Kebutuhan pangan di era pandemi ini sangat besar. Kekhawatiran secara psikis berdampak pada produktivitas masyarakat di bidang pertanian menurun, apalagi di bulan ramadhan. Langkah stimulus oleh pemerintah menjadi penting untuk dibincangkan. Salah satu stimulus itu adalah dengan mensuplay barang dan alat pertanian guna mempercepat laju produksi pangan.

Selain konsen pada refokusing anggaran untuk pandemi dan program peningkatan daya beli masyarakat melalui BLT, budgeting di sektor pertanian jangan sampai terabaikan. Pertanian adalah penyanggah utama kehidupan perekonomian masyarakat dan negara.

Pemerintah jangan membuat program kamuflase di era sulit ini. Kartu prakerja dengan paltform digital sangat tidak efektif, bahkan sudah melakukan pemborosan anggaran dengan jumlah Rp5,6 triliun. Yang dibutuhkan saat ini, selain stimulus daya beli masyarakat, stimulus di bidang pangan jauh lebih penting.

Bagi kelompok masyarakat tertentu, bertani merupakan jalan terbaik untuk mempertahankan pangan di era pandemi ini. Bertani dan berkebun adalah langkah positif di era jenuh ini. Disamping menimbulkan rasa sehat, juga bisa berdaya manfaat pada produktivitas pangan.

Program stimulus pada pertanian dan perkebunan ini juga sebagai upaya meminimalisir pengangguran dampak PHK. Mendorong masyarakat untuk lebih giat lagi mengolah lahan-lahan kosong untuk diproduktifkan. Bahasa ekonomi syariahnya disebut ihyaul mawat (menghidupkan tanah mati).

Pemerintah tetap fokus pada peningkatan produktivitas pertanian dan perkebunan dengan cara menstimulus bahan-bahan kebutuhannya seperti teknologi tepat guna, irigasi, penyediaan pupuk dan bibit unggul. Menggerakkan faktor-faktor produksi seperti modal, mesin yang canggih, Sumber Daya Manusia (SDM) handal dan pasar merupakan jurus ampuh melawan krisis karena pandemi ini. Allahumma innaka ‘afuwun karim tuhibbul ‘afwa fa’fuanna ya Kariim.**

*Penulis adalah Dosen dan peneliti Ekonomi Syariah Fakuktas Syariah IAIN Pontianak.

Read Previous

Banjir Kiriman Datang, Warga Bantaran Sungai Landak Terendam

Read Next

PPSU Lingkungan Hidup Terima THR



Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *