Ketapang ‘’Juara’’ Titik Panas

PENDINGINAN : Dandim 1203 Ketapang, Letkol Kav. Jami’an, turun langsung memadamkan dan mendinginkan lokasi kebakaran di Sungai Pelang, MHS, kemarin (15/9).afi/pontianakpost

KETAPANG – Sebaran titik panas (hotspot) di Ketapang selalu menjadi yang terbanyak dibandingkan daerah lainnya di Kalbar dalam beberapa hari terakhir. Jika daerah lain sudah 0 titik panas, di Ketapang jumlahnya justru masih ratusan. Bahkan, jumlahnya pernah mencapai 500 titik. Hal ini membuat Ketapang selalu menduduki peringkat paling atas dalam urusan jumlah titik panas paling banyak di Kalbar.

Berdasarkan pantauan satelit yang dirilis oleh BMKG dalam dua hari terakhir, setidaknya ada ratusan hotspot yang tersebar di sejumlah kecamatan. Pada Minggu (15/9), terdapat 262 titik panas di Ketapang. Jumlah tersebut bukannya berkurang pada Senin (16/9), justru semakin meningkat menjadi 324 titik panas. Sementara jika dibandingkan daerah lainnya, terbanyak hanya 51 titik di Kayong Utara dan 36 titik di Kubu Raya.

Menanggapi hal tersebut, anggota DPRD Ketapang, Antoni Salim, mengatakan menanggulangi masalah kabut asap ini Pemerintah Pusat harus turun langsung ke lapangan. Tidak hanya sebatas koordinasi saja. “Harus turun langsung ke lapangan melihat seperti apa kondisinya beserta solusi terbaiknya,” katanya, kemarin (16/9).

Menurutnya, upaya penanggulangan karhutla yang dilakukan oleh Pemerintah Pusat selama ini dianggap kurang efektif. Pengerahan helikopter pengebom air dirasa tidak dapat berbuat banyak untuk menanggulangi kebakaran, mengingat banyak kebakaran terjadi di daerah lahan gambut. “Lahan gambut mana bisa langsung padam kalau cuma dibom pake heli. Harus disemprot ke dalam tanah baru mati apinya,” jelasnya.

Oleh karena itu, salah satu upaya yang dapat dilakukan oleh Pemerintah Pusat adalah memperbanyak anggaran operasional untuk petugas pemadam kebakaran di lapangan. Serta memperbanyak bantuan mesin atau alat pemadam kepada petugas pemadam. “Tidak salah menggunakan heli, tapi alangkah lebih efektifnya lagi jika bantuan alat kepada petugas di lapangan diperbanyak,” tegas Antoni yang juga sebagai petugas pemadam kebakaran.

“Petugas pemadam di lapangan banyak, tapi tidak ada alat bagi mereka untuk memadamkan api, jadi percuma saja. Bekali para petugas pemadam ini dengan alat-alat yang memadai, terutama anggota TNI dan Polri. Kalau mereka tidak punya alat, percuma juga. Dan jangan lupa anggarkan untuk biaya operasionalnya juga,” tambah legislator dari PDIP ini.

Sementara itu, Komandan Kodim 1203 Ketapang, Letkol Kav. Jami’an, didampingi Satgas Karhutla turun langsung melakukan pemadaman dan pendinginan beberapa titik api yang hangus terbakar di poros Jalan Pelang-Tumbang Titi di Desa Sungai Pelang Kecamatan Matan Hilir Selatan pada Minggu (15/9). “Saya ingatkan lagi, sanksi hukum bagi pelaku pembakar hutan dan lahan itu ada. Kepada masyarakat diharapkan bisa bekerjasama dengan Satgas Karhutla dalam mencegah kebakaran hutan dan lahan,” pintanya.

Dia menjelaskan, segala upaya sudah maksimalkan dalam penanganan Karhutla ini. Dia mengimbau kepada seluruh lapisan masyarakat untuk meningkatkan sinergi dalam dalam mendukung pencegahan dengan tidak membakar hutan dan lahan. “Kebakaran hutan dan lahan ini dampaknya sangat luas. Hampir semua sektor. Mulai dari pendidikan, kesehatan hingga perekonomian terdampak akibat kabut asap ini,” ujarnya.

“Oleh karena itu, mari bersama-sama menjaga lingkungan, khususnya agar tidak membakar lahan untuk kepentingan apapun. Sekali terbakar akan sangat sulit memadamkannya. Dibutuhkan tenaga dan biaya yang tidak sedikit. Dampaknya juga sangat luas,” pungkasnya. (afi)

Read Previous

Bersiap Ikuti Pra PON dan Kejurnas

Read Next

Gagas Ide Baru, Produk Lokal Tembus Pasar Modern

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Most Popular