Keteladanan Nabi Ibrahim AS

opini pontianak post

Oleh: Ubaidullah Murjani Yatim

IDULADHA dikenal dengan sebutan Hari Raya Haji, dimana kaum muslimin sedang menunaikan ibadah haji yang utama yaitu wukuf di Arafah. Mereka semua memakai pakaian serba putih dan tidak berjahit yang disebut pakaian ihram, melambangkan persamaan aqidah dan pandangan hidup, mempunyai tatanan nilai yaitu nilai persamaan dalam segala segi bidang kehidupan. Tidak dapat dibedakan di antara mereka, semua merasa sederajat. Sama-sama mendekatkan diri kepada Allah yang Maha Perkasa, sambil bersama-sama membaca kalimah Talbiyah (Labbaik Allahumma Labbaik, labbaika laa Syarikala kalabbaikh, ‘Innal Hamda Wanni’mata, lakawalmulk Laa Syarikalakh.)

Di samping Iduladha dinamakan Hari Raya Haji, juga dinamakan Idul Qurban, karena merupakan hari raya yang menekankan pada pentingnya arti berkorban. Qurban itu sendiri artinya dekat. Sehingga qurban ialah menyembelih hewan ternak untuk mendekatkan diri kepada Allah SWT, selanjutnya diberikan kepada Fuqoro’ Wal Masakin.

Masalah pengorbanan, dalam lembaran sejarah kita diingatkan pada beberapa peristiwa yang menimpa Nabiyulloh Ibrahim AS, beserta keluarganya Ismail dan Siti Hajar. Ketika Nabi Ibrahim diperintahkan oleh Allah SWT untuk menempatkan istrinya Siti Hajar bersama Nabi Ismail putranya yang saat itu masih menyusui.

Mereka ditempatkan di suatu lembah yang tandus, gersang, tidak tumbuh sebatang pohon pun, tidak ada tanda-tanda kehidupan. Lembah itu demikian sunyi dan sepi tidak ada penghuni seorang pun. Nabi Ibrahim sendiri pun tidak tahu, apa sebenarnya maksud wahyu Allah yang menyuruh menempatkan istri dan putra yang masih bayi itu, ditempatkan di suatu tempat yang paling asing. Di sebelah utara kurang lebih 1600 km dari negaranya sendiri Palestina. Tapi baik Nabi Ibrahim, maupun istrinya Siti Hajar, menerima perintah Allah tersebut dengan ikhlas dan penuh tawakkal.

Seperti yang diceritakan oleh Ibnu Abbas bahwa tatkala Siti Hajar kehabisan air minum hingga tidak bisa menyusui Nabi Ismail, beliau mencari air kesana-kemari sambil lari-lari kecil (Sa’i) antara bukit Sofa dan Marwa sebanyak 7 kali. Tiba-tiba Allah mengutus malaikat Jibril membuat mata air zam-zam. Siti Hajar dan Nabi Ismail memperoleh sumber kehidupan. Lembah yang dulunya gersang itu, mempunyai persediaan air yang melimpah-limpah. Datanglah manusia dari berbagai pelosok terutama para pedagang ke tempat Siti Hajar dan Nabi Ismail, untuk membeli air. Datang rezeki dari berbagai penjuru, dan makmur lah tempat sekitarnya. Akhirnya lembah itu hingga saat ini terkenal dengan kota Mekah, sebuah kota yang aman dan makmur, berkat doa Nabi Ibrahim dan berkat kecakapan seorang ibu dalam mengelola kota dan masyarakat. Kota Mekah yang aman dan makmur dilukiskan Allah dalam Al-Qur’an, QS. Al-Baqarah: 126.

Iduladha yang kita peringati, dinamai juga Idul Nahr artinya hari cara memotong qurban atau binatang ternak. Sejarahnya adalah bermula dari ujian paling berat yang menimpa Nabiyullah Ibrahim AS. Disebabkan kesabaran dan ketabahan Ibrahim dalam menghadapi berbagai ujian dan cobaan, Allah memberinya sebuah anugerah, sebuah kehormatan “Kholilullah” (Kekasih Allah). Setelah Title Al-Khalil disandangnya, para malaikat bertanya kepada Allah: “Ya Tuhanku mengapa Engkau menjadikan Ibrahim sebagai kekasih-Mu, padahal ia disibukkan oleh urusan kekayaannya dan keluarganya?” Allah berfirman : “Jangan menilai hambaku Ibrahim ini dengan ukuran lahiriyah, tengoklah isi hatinya dan amal baktinya.”

Kemudian Allah SWT mengizinkan para malaikat menguji keimanan serta ketakwaan Nabi Ibrahim. Ternyata, kekayaan dan keluarganya tidak membuatnya lalai dalam taatnya kepada Allah.

Dalam kitab “Misykatul Anwar” disebutkan bahwa konon, Nabi Ibrahim memiliki kekayaan 1000 ekor domba, 300 lembu, dan 100 ekor unta. Riwayat lain mengatakan, kekayaan Nabi Ibrahim mencapai 12.000 ekor ternak. Suatu jumlah yang menurut orang di zamannya adalah tergolong milliuner. Ketika suatu hari, Ibrahim ditanya oleh seseorang, “Milik siapa ternak sebanyak ini?” maka dijawabnya; “Kepunyaan Allah, tapi kini masih milikku. Sewaktu-waktu bila Allah menghendaki, aku serahkan semuanya. Jangankan cuma ternak, bila Allah meminta anak kesayanganku, niscaya akan aku serahkan juga.”

Ibnu Katsir dalam tafsir Al-Qur’anul Adzhim mengemukakan bahwa, pernyataan Nabi Ibrahim itulah yang kemudian dijadikan bahan ujian, yaitu Allah menguji iman dan taqwa Nabi Ibrahim melalui mimpinya yang haq, agar ia mengorbankan putranya yang kala itu masih berusia 7 tahun. Anak yang elok rupawan, sehat lagi cekatan ini, supaya dikorbankan dan disembelih dengan menggunakan tangannya sendiri. Peristiwa ini dijelaskan Allah dalam QS. Ash-Shaffat: 102.

Ketika keduanya siap untuk melaksanakan perintah Allah, iblis datang menggoda sang ayah, sang ibu dan sang anak silih berganti. Akan tetapi Nabi Ibrahim, Siti Hajar dan Nabi Ismail tidak tergoyah oleh bujuk rayuan iblis yang menggoda agar membatalkan niatnya. Bahkan Siti Hajar mengatakan: “Jika memang benar perintah Allah, aku pun siap disembelih sebagai gantinya Ismail.” Mereka melempar iblis dengan batu, mengusirnya pergi dan iblis lari tunggang-langgang. Dan ini kemudian menjadi salah satu rangkaian ibadah haji yaitu melempar jumroh; Jumrotul Ula, Wustho’ dan Aqobah yang dilaksanakan di Mina.

Setelah sampai di suatu tempat dalam keadaan tenang Ismail berkata kepada ayahnya; “Ayahku, aku harap kaki dan tanganku diikat, supaya aku tidak dapat bergerak leluasa sehingga menyusahkan ayah. Hadapkanlah mukaku ke tanah, supaya ayah tidak melihatnya. Sebab kalau ayah melihat nanti akan merasa kasihan. Lepaskan bajuku, agar tidak terkena darah yang nantinya menimbulkan kenangan yang menyedihkan. Asahlah tajam-tajam pisau ayah, agar penyembelihan berjalan singkat, sebab sakaratul maut dahsyat sekali. Berikan bajuku kepada ibu untuk kenang-kenangan, serta sampaikan salamku kepadanya supaya dia tetap sabar.

Saya dilindungi Allah SWT, jangan cerita bagaimana ayah mengikat tanganku, jangan izinkan anak-anak sebayaku datang ke rumah, agar kesedihan ibu tidak terulang kembali, dan apabila ayah melihat anak-anak sebayaku, janganlah terlampau jauh untuk memperhatikan, nanti ayah akan bersedih.” Nabi Ibrahim menjawab “Baiklah anakku, Allah SWT akan menolongmu”. Setelah Ismail, putra tercinta ditelentangkan di atas sebuah batu, dan pisau pun diletakkan di atas lehernya, Ibrahim pun menyembelih dengan menekan pisau itu kuat-kuat, namun tidak mempan, jangankan berdarah bahkan tergores pun tidak.

Pada saat itu Allah SWT membuka dinding yang menghalangi padangan malaikat di langit dan di bumi, mereka tunduk dan sujud kepada Allah SWT, takjub menyaksikan keduanya. “Lihatlah hambaku itu, rela dan senang hati menyembelih anaknya sendiri dengan pisau, karena semata-mata untuk memperoleh kerelaanku.”

Sementara itu, Ismail pun berkata; “Ayah, bukalah ikatan kaki dan tanganku agar Allah tidak melihatku dalam keadaan terpaksa dan letakkan pisau itu di leherku supaya malaikat menyaksikan putra Kholilullah Ibrahim taat dan patuh kepada perintah-Nya.” Ibrahim mengabulkannya. Lantas membuka ikatan dan menekan pisau itu kelehernya kuat-kuat, namun lehernya tidak apa-apa, bahkan bila ditekan, pisau itu terbalik, yang tajam berada di bagian atas. Ibrahim mencoba memotongkan pisau itu ke sebuah batu, ternyata batu yang keras itu terbelah. “Hai pisau, engkau sanggup membelah batu, tapi kenapa tidak sanggup memotong leher?” kata Ibrahim. Dengan izin Allah pisau pun menjawab, “Anda katakana potong lah, tapi Allah mengatakan jangan potong, mana mungkin aku memenuhi perintahmu wahai Ibrahim, jika akibatnya akan durhaka kepada Allah”.

Maka Allah SWT memerintahkan Jibril untuk mengambil seekor kibasyi dari surga sebagai gantinya. Allah SWT berseru menyuruh menghentikan perbuatannya, tidak usah diteruskan pengorbanan terhadap anaknya. Allah telah meridhoi ayah dan anak yang memasrahkan tawakkal mereka. Sebagai imbalan dari keikhlasan mereka, Allah mencukupkan dengan menyembelih seekor kambing sebagai korban, sebagaimana diterangkan dalam Al-Qur’an surah Ash-Shoffat ayat 107 – 110.

Sesudah nyata kesabaran dan ketaatan Ibrahim dan Ismail AS, maka Allah melarang menyembelih Ismail dan untuk meneruskan korban, Allah menggantinya dengan seekor sembelihan (kambing). Peristiwa ini menjadi dasar disyariatkannya Qurban yang dilakukan pada Hari Raya Haji.

Menyaksikan tragedi penyembelihan yang tidak ada bandingannya dalam sejarah umat manusia itu, mnalaikat Jibril menyaksikan ketaatan keduanya, setelah kembali dari surga dengan membawa seekor kibasy, kagumlah ia seraya terlontar darinya suatu ungkapan “Allahuakbar…3X”, Nabi Ibrahim menyambutnya “Laa Ilaaha Illallahu Wallahu Akbar”, kemudian disambung Ismail “Allahuakbar Walillahil Hamd”.

Inilah sejarah pertamanya korban di Hari Raya Qurban yang kita peringati. Qurban yang diperintahkan tidak usah anak kita, cukup binatang ternak. Baik kambing, sapi, kerbau maupun lainnya. Sebab Allah tahu, kita tidak akan mempu menjalaninya. Jangankan memotong anak kita, memotong sebagian harta kita untuk menyembelih hewan qurban kita masih terlalu banyak berpikir.  Memotong 2,5 % harta kita untuk zakat, kita masih belum menunaikannya. Memotong sedikit waktu kita untuk sholat 5 waktu kita masih keberatan. Menunda sebentar waktu makan kita untuk berpuasa kita tak mampu melaksanakannya. Maka hakikatnya Allah menyuruh kita untuk memotong kecintaan pada dunia, hubbud dunya, potong rasa cinta dunia dan takut mati. Begitu banyak dosa dan pelanggaran yang kita kerjakan, yang membuat kita jauh dari rahmat Allah SWT. Maka hikmah yang dapat diambil dari Iduladha adalah:

  1. Bahwa hakikat manusia adalah sama, yang membedakannya adalah taqwa. Dan bagi yang menunaikan jamaah haji, pada waktu wukuf di Arafah memberi gambaran bahwa kelak manusia akan dikumpulkan di padang mahsyar untuk dimintai pertanggungjawabannya.
  2. Hendaklah kita sebagai orang tua mempunyai upaya yang kuat untuk membentuk anak-anak yang soleh, menciptakan pribadi anak yang agamis, anak yang berbakti kepada orang tua, lebih-lebih berbakti kepada Allah dan rasul-Nya.
  3. Perintah dan ketentuan-ketentuan yang telah digariskan oleh Allah SWT harus dilaksanakan. Harus disambut dengan tekat “Sami’na Wa Ato’na”. karena sesungguhnya, ketentuan-ketentuan Allah pastilah manfaatnya kembali kepada kita sendiri.**

*Penulis, Ketua Dewan Da’wah Islamiyah Indonesia Kota Pontianak

 

loading...