Father Hunger
Ketika Anak Tak Merasakan Peran Ayah

ILUSTRASI

Tak semua anak tumbuh dengan kasih sayang utuh dari ayah dan ibunya. Ada yang tak merasakan peran atau kehadiran ayah dalam hidupnya, walaupun mereka tinggal serumah. Fenomena ini dikenal dengan father hunger.

Oleh: Ghea Lidyaza Safitri

Father hunger atau di Indonesia lebih dikenal fatherless country. Yakni, sosok ayah kurang banyak berperan dalam perkembangan dan pendidikan anak. Anak tumbuh dengan tekanan emosional yang terjadi akibat ketidakhadiran sosok ayah baik secara emosional ataupun fisik.

Psikolog Dewi Widiastuti Lubis mengatakan ayah memiliki peran penting dalam kehidupan buah hatinya. Pentingnya peran ayah ini sama halnya seperti ibu.

Dewi Widiastuti Lubis // Psikolog

“Oleh karena itu, peran keduanya haruslah seimbang, baik dalam penerapan pola asuh, perkembangan maupun pendidikan. Tak ada kata  ibu lebih dominan dari ayah, karena alasan anak selalu bersama ibu,” ungkap Dewi.

Namun, kata Dewi, tak bisa dipungkiri ada kalanya peran ayah lemah dan kurang berfungsi dengan baik. Peran ayah terasa kabur atau tak terlihat sama sekali.

“Maksud kabur adalah tak ada otoritas atau wibawa yang ditunjukkan, sehingga peran ibu terlihat lebih dominan. Tak terlihat ayah berperan dalam pola asuh anaknya,” jelas Dewi.

Sehingga banyak yang berpikir bahwa dalam pola asuh ibu lebih dominan. Ketika anak tak sengaja melakukan sesuatu yang salah, yang ditonjolkan adalah ibu karena ia selalu bersama anak.

Padahal, kata Psikolog di RSJ Daerah Sungai Bangkong Pontianak ini, bisa saja anak berlaku demikian karena tak merasakan peran ayah dalam hidupnya.

“Peran ayah bukan hanya pencari nafkah, tetapi juga berperan secara fisik dan emosional,” ujarnya.

Dewi menyatakan benar adanya bahwa ayah tak bisa mengambil peranan seperti ibu. Namun, tak ada salahnya ayah terjun langsung dan menyeimbangkan peran ibu dalam pola asuh. Ayah bisa mulai dengan menyediakan waktu tiga menit setiap harinya untuk quality time bersama buah hati. Bisa mengajak anak bermain bersama, menonton, bercerita atau melakukan aktivitas lainnya.

Dalam ilmu psikologi, lanjut Dewi, ayah memiliki peran sebagai pelindung. Apabila peran ayah kabur atau tak terlihat, anak merasa tak nyaman berada di rumah. Hal ini dikarenakan anak tak mendapat perlindungan dari sosok ayahnya.

Menurut Dewi, hal ini akan berpengaruh hingga anak dewasa. Jika anak perempuan, kondisi ini akan berpengaruh saat memilih pasangan di masa depan. Jika anak laki-laki, bisa saja ia beralih peran. Hal ini dikarenakan ia lebih dekat dengan ibunya dan tak mendapatkan peran ayah dalam hidupnya.

Dewi mengungkapkan beberapa pasien anak muda yang ia tangani mengalami gejala depresi karena peran ayahnya lemah. Di sisi lain, anak juga bisa menjadi tak percaya diri dan penakut. Lebih parah lagi anak bisa saja terjerumus narkoba, perilaku seks bebas dan perilaku seksual sesama jenis.

Dewi menuturkan saat anak merasa diabaikan ayahnya, hal itu akan tetap tersimpan dalam memorinya. Menjadi memori buruk bagi anak yang tak akan bisa hilang. Namun, ayah bisa mulai dengan minta maaf. Kemudian, mengajak anak berbicara empat mata di rumah atau sambil quality time.

Di kesempatan itu ayah bisa menjelaskan mengapa ia berlaku demikian. Nantinya, anak bisa mulai mengerti  mengenai alasannya sehingga sedikit demi sedikit mulai memaafkan ayahnya.

“Namun, jika hal ini gagal dilakukan dan perilaku anak pada ayah sudah berat seperti tak peduli lagi dengan ayahnya, maka sang ayah bisa mengajak anak dan ibu untuk meminta bantuan psikolog, karena sudah pada gangguan perilaku,” pungkasnya. **

error: Content is protected !!
Hubungi Kami!