Ketika Anak Terlalu ‘Baper’

Beberapa orang terbawa perasaan saat menyaksikan drama televisi. Bahkan, hingga terbawa ke dunia nyata. Tak hanya orang dewasa, melainkan juga anak. Akhirnya melakukan perbuatan tak terpuji seperti berkomentar kasar di media sosial sang aktor atau aktris.

Oleh: Ghea Lidyaza Safitri

Serial drama menjadi salah satu media hiburan yang paling banyak diminati. Seiring berkembangnya kebutuhan manusia akan tontonan, kualitas serial drama pun semakin berkembang sepanjang harinya.

Remaja pun memiliki beberapa film atau film yang menjadi favorit atau cuma sekadar berkesan di hatinya. Hingga terlalu terlarut dengan salah satu karakter pemain. Seperti baru-baru ini, banyak remaja asal Indonesia yang mengirimkan komentar negatif dengan kalimat tidak pantas di laman Instagram pemain tersebut. Psikolog Patricia Elfira Vinny, M.Psi mengatakan dalam psikologi terbawa perasaan (baper) masuk dalam sensitivitas individu dalam merasakan sesuatu hal. Menurut Soons, Brouwers dan Tomic (2010), sensitivitas mengacu pada kemampuan untuk menyadari rangsangan intensitas netral atau emosional dari lingkungan, tubuh sendiri, atau kognisi seseorang.

“Saat terbawa perasaan, seseorang akan terlihat lebih peka terhadap masalah,” katanya.

Psikolog di RSJ Daerah Sungai Bangkong Pontianak ini menuturkan terbawa perasaan bergantung pada permasalahan yang dihadapi seseorang. Bisa masalah dengan orang tua, pasangan atau mungkin orang lain. Ditandai dengan memikirkan sesuatu secara mendalam, lebih reaktif secara emosional, dan terkadang lebih lama membuat keputusan.

Menurut Patricia, wajar saja remaja terbawa perasaan saat menonton serial drama favoritnya. Baik itu terbawa perasaan karena senang maupun sedih saat melihat konflik cerita yang dihadirkan, maupun karena aktor dan aktris yang dinilai berhasil memerankan karakter dalam serial tersebut. “Namun, selama tidak mengganggu kehidupan sehari-hari remaja tersebut. Misalnya, sampai merasa stress atau cemas berlebihan,” ujar Patricia.

Bagaimana dengan aksi terbawa perasaan yang dinilai merugikan orang lain, seperti aksi remaja yang memberikan komentar tidak pantas pada laman aktris Korea? Patricia menyatakan tentunya hal ini sangat memprihatinkan sekali, dimana terbawa perasaan para remaja ini justru menjadi dampak negatif bagi orang lain. Tentu hal ini bukanlah tindakan baik untuk dilakukan.

“Terlebih sampai mengirimkan kata-kata kasar atau tidak pantas di laman media sosialnya,” tambahnya.

Psikolog di Aplikasi Halodoc ini juga tidak memungkiri terkadang beberapa remaja melakukan hal serupa karena mengikuti teman terdekatnya.

“Mungkin jika tidak ikut melontarkan kata-kata yang tidak pantas, ia tidak dianggap keren. Atau, bisa juga komentar yang ditujukan kepaada aktor atau aktris tersebut sebagai bentuk terlalu reaktif secara emosional saat melihat perannya,” ungkap Patricia.

Apabila tidak segera diatasi, perilaku terbawa perasaan yang merugikan orang lain ini akan berlanjut hingga di kemudian hari. Dan, tidak menutup kemungkinan tindakan yang dilakukan bisa lebih jauh lagi, dibandingkan hanya sekadar melontarkan kata-kata yang kurang pantas di lama media sosial aktris dan aktor tersebut. Tentu hal ini merugikan diri sendiri.

“Dan orang lain yang terkena dampaknya,” ujar Patricia.

Ibu satu anak ini berharap agar para remaja bisa mengontrol perilaku terbawa perasaan saat menonton serial drama. Remaja juga harus bisa menyaring sebelum melakukan tindakan. Pikiran apakah tindakan yang dilakukan bermanfaat, atau justru merugikan.

“Ingat, terbawa perasaan boleh saja asalkan tidak mengganggu kehidupan diri sendiri dan orang yang bersangkutan,” pungkasnya. **

error: Content is protected !!