Ketika Anak Tertarik Pada Lawan Jenis

Anak mulai menunjukkan tanda-tanda ketertarikan dengan lawan jenis saat memasuki usia prapubertas. Namun, orangtua tidak perlu terlampau panik. Lantas, bagaimana agar orangtua tetap bijak merespons hal ini?

Oleh : Siti Sulbiyah

Kusmalina merasa was-was ketika sang anak menceritakan bahwa dirinya sedang menyukai seorang perempuan. Kekhawatirannya kian menjadi karena maraknya kasus penyimpangan yang dilakukan oleh remaja perempuan dan laki-laki.

“Ibunya takut, was-was, dan deg-degan. Khawatir terjadi hal-hal yang tidak diinginkan seperti banyak kasus yang terjadi,” kata ibu satu anak ini.

Sang anak saat ini duduk dibangku kelas 8 sekolah menengah pertama. Jagoan kecilnya itu sekarang tumbuh, tak hanya fisik tapi juga emosionalnya. “Dia (anak,red) suka karena si perempuan good looking, pintar, baik, dan cantik. Dia tanya, boleh nggak kalau pacaran? Terus saya bilang, sebaiknya tidak usah pacaran dulu,” katanya.

Kusmalina memang dekat dengan sang anak. Ia pun merasa bersyukur karena sang anak terbuka dan tak sungkan menceritakan apapun, termasuk tentang ketertarikan pada lawan jenis. Sejauh ini, setelah mendengar permintaan sang ibu untuk tidak berpacaran, sang anak pun menuruti. “Enggak kenapa-kenapa, santai saja dia,” kata Kusmalina menceritakan respons sang anak.

Memiliki anak yang beranjak tumbuh membuat orang tua harus semakin bijak mendidik. Terlebih lagi jika kini anak mulai tertarik dengan lawan jenis. Isyatul Mardiyati, M.Psi Psikolog mengatakan ketertarikan anak pada lawan jenisnya adalah hal wajar dirasakan, terutama pada masa pubertas.

“Sebenarnya naksir dengan lawan jenis adalah fitrah sebagai manusia dan merupakan hal wajar yang dialami anak yang memasuki masa pubertas. Orangtua juga semestinya bersyukur karena perkembangan emosi anak tumbuh, mereka mulai merasakan emosi kasih sayang,” ungkap Isyatul.

Menurutnya, rasa senang dengan lawan jenis umumnya timbul pada anak usia 10 tahun hingga 12 tahun atau dalam masa prapubertas. Namun, seiring perkembangan teknologi yang membuat akses informasi begitu luas dan masif, anak di usia di bawah 10 tahun bisa cenderung senang dengan lawan jenis. Informasi yang didapat anak, baik melalui siaran televisi, media sosial, serta informasi dari internet, sedikit banyak mendekatkan anak pada perilaku hubungan dengan lawan jenis.

“Informasi yang dia tonton, didengar terkait hal berhubungan dengan seksualitas juga memberikan pengaruh. Lewat Iklan-iklan yang menampilkan pasangan, film kartun yang isinya menceritakan hubungan dengan lawan jenis, juga turut mempercepat timbulnya rasa suka anak pada lawan jenis,” katanya.

Selain itu, lanjutnya, masa pubertas pada anak bisa lebih awal karena tingkat konsumsi yang tinggi untuk makanan dengan kadar lemak yang tinggi. Semakin besar fisik anak, semakin cepat pula fase pubertas dialami. Dengan begitu, ketertarikan pada lawan jenis juga lebih awal datang.

Karena itulah, dia menilai orangtua harus peka dengan perubahan perilaku anak menjelang pubertas. Apalagi apabila anak tidak begitu terbuka dengan orangtua akan pergaulannya. Orangtua hendaknya bisa lebih peka melihat tanda-tanda anak mulai menyukai lawan jenis.

“Kalau anak yang ekspresif, mungkin mudah mengungkapkannya kepada orangtua. Masalahnya kalau anak tidak ekspresif, atau tertutup dengan orangtuanya,” tuturnya.

Isyatul menuturkan dalam hal ini orangtua harus lebih peka melihat perubahan pada anak. “Tanda-tanda yang mungkin terlihat seperti anak yang sudah mulai memperhatikan penampilan, ingin berdandan, atau pas pegang gadget suka senyum sendiri,” jelasnya.

Lantas bagaimana sikap yang semestinya dipilih orangtua? Menurut Isyatul, respon yang tepat ketika menemui situasi seperti ini adalah dengan tetap tenang dan bersikap netral. Orangtua tak perlu mengekspresikan kekhawatiran atau ketakutan dalam bentuk ucapan atau gestur tubuh. Apalagi sampai melarang anak dengan cara memarahinya.

“Sesuatu yang dilarang, kadang kala malah ingin dilakukan. Respons negatif seperti memarahi, menghukum dengan menutup akses gadget, dipotong uang jajan, dan bentuk hukuman lainnya, justru membuat anak malah jadi takut bercerita,” katanya.

Di sisi lain, orangtua juga tidak perlu reaktif memberikan dukungan kepada anak. Selain menunjukkan sikap netral, hal yang perlu dilakukan adalah menggali cerita anak terkait alasannya menyukai orang tersebut. Untuk anak yang masih duduk di bangku sekolah dasar, menurutnya, definisi pacaran versi anak bukan seperti orang dewasa. Sehingga orangtua hanya perlu mengajarkan anak terkait batasan-batasan yang diperbolehkan dalam pergaulan dengan lawan jenis.

“Katakan pada anak, kalau sekedar main bersama, tidak mengapa. Senang dengan orang boleh, tetapi tidak boleh berdua-duaan, tidak boleh menyentuh area tubuh. Nah, memang sejak kecil anak diajarkan mana area tubuh yang tidak boleh disentuh oleh orang lain,” katanya.

Ketika anak beranjak remaja, lanjut dia, orangtua tak sekedar mendengar cerita. Pada masa pubertas, lingkungan dan media mulai mempengaruhi pikiran dan perilaku anak. Mengajak mereka berdiskusi adalah solusi agar anak lebih terbuka, namun tidak merasa diintervensi oleh orangtua.

Pada momen ini pula, orangtua perlu berusaha untuk mendapat kepercayaannya anak. Dengan begitu, ayah dan ibu bisa menjadi sumber informasi yang paling anak percayai. “Ketika tahu bahwa orangtua bisa diandalkan, anak tak lagi mencari informasi dari luar, yang barangkali bisa jadi malah memberi informasi yang kurang tepat terkait rasa penasarannya,” katanya.

Pada masa ini pula, anak perlu mendapatkan pendidikan seks secara tepat. Anak SMP dan SMA biasanya sudah belajar tentang reproduksi.

“Nah, orangtua sudah bisa mengingatkan tentang risiko kalau reproduksinya sudah aktif, apa konsekuensinya. Misalnya kalau anak perempuan yang berisiko hamil. Diskusi bersama anak dan ajak mereka untuk mempertimbangkan risiko tersebut,” pungkasnya.**

error: Content is protected !!
Hubungi Kami!